Selasa, 21 Juli 2026 | 19:29
NEWS

FABC XII di Jakarta Teguhkan Gereja Asia sebagai Jembatan Perdamaian

FABC XII di Jakarta Teguhkan Gereja Asia sebagai Jembatan Perdamaian
Kardinal Suharyo tengah berbincang dengan sejumlah anggota Sidang Raya FABC XII usai acara jumpa pers di Jakarta, Senin (20/7). (Dokpen FABC)

ASKARA – Sidang Raya (Plenary Assembly) ke-12 Federation of Asian Bishops' Conferences (FABC) resmi berlangsung di Jakarta pada 20–26 Juli 2026. Pertemuan para uskup se-Asia ini menjadi momentum penting bagi Gereja Katolik untuk memperkuat semangat sinodal sekaligus memperkokoh peran Gereja sebagai jembatan perdamaian, persaudaraan, dan dialog di tengah keberagaman Asia.

Juru Bicara Sidang Raya FABC XII sekaligus Uskup San Pablo, Filipina, Bishop Marcelino Antonio "Junie" Malabanan Maralit Jr., menyampaikan apresiasi atas kehadiran media dan seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya pertemuan bersejarah tersebut di Indonesia.

"Kami menyambut dengan sukacita seluruh peserta dan insan media yang hadir dalam Sidang Raya FABC XII di Jakarta. Pertemuan ini merupakan momentum penting bagi Gereja Katolik di Asia untuk bersama-sama mendengarkan, berdialog, dan mencari arah pelayanan Gereja di masa depan," ujarnya dalam keterangan pers, Senin (20/7/2026).

Menurutnya, Federation of Asian Bishops' Conferences (FABC) merupakan federasi yang menaungi konferensi para uskup dan yurisdiksi gerejawi Katolik di Asia Selatan, Asia Tenggara, Asia Timur, dan Asia Tengah. Organisasi ini berdiri setelah pertemuan para uskup Asia bersama Paus Santo Paulus VI di Manila pada 1970, kemudian mendapat pengesahan Takhta Suci pada 1972.

Selama lebih dari lima dekade, FABC menjadi wadah bagi para uskup Asia untuk memperkuat kerja sama pastoral, evangelisasi, dialog lintas agama, refleksi teologis, pengembangan masyarakat, hingga komunikasi sosial dalam menjawab berbagai tantangan yang dihadapi kawasan Asia.

Sidang Raya FABC merupakan forum pengambilan keputusan tertinggi yang digelar setiap empat tahun sekali. Sejak pertama kali diselenggarakan di Taipei pada 1974, forum ini secara konsisten membahas berbagai isu strategis Gereja di Asia, mulai dari evangelisasi, keluarga, kaum awam, Ekaristi, hingga pembaruan misi Gereja.

Tahun ini, Sidang Raya FABC XII mengangkat tema "The Call to Synodal Conversion and the Mission to Be Bridges and Bridge-Builders in Asia" atau "Panggilan kepada Pertobatan Sinodal dan Misi Menjadi Jembatan serta Pembangun Jembatan di Asia."

Tema tersebut menekankan pentingnya pertobatan bersama agar Gereja semakin partisipatif, transparan, dan misioner, sekaligus memperkuat peran Gereja dalam membangun dialog, rekonsiliasi, perdamaian, serta penghormatan terhadap martabat manusia di tengah keragaman budaya, agama, bahasa, dan etnis di Asia.

"Asia merupakan benua dengan keragaman yang luar biasa, namun juga menghadapi tantangan kemiskinan, konflik, migrasi, perubahan sosial, hingga persoalan lingkungan. Karena itu Gereja dipanggil menjadi jembatan yang menyatukan, bukan memisahkan," kata Bishop Maralit.

Ia menjelaskan, seluruh rangkaian sidang dirancang sebagai pengalaman sinodal, bukan sekadar konferensi biasa. Para peserta akan mengikuti doa bersama, perayaan Ekaristi, refleksi rohani, diskusi pleno, percakapan dalam kelompok kecil, hingga metode Conversation in the Spirit yang menekankan sikap saling mendengarkan dalam terang Roh Kudus.

Dari sidang tersebut diharapkan lahir dua dokumen penting, yakni Dokumen Akhir yang akan menjadi panduan pastoral (Vademecum on Synodality in Asia) bagi Gereja-Gereja lokal di Asia, serta Pesan kepada Gereja di Asia sebagai ajakan untuk melanjutkan pembaruan sinodal.

Sidang Raya FABC XII diikuti lebih dari 120 kardinal dan uskup dari 22 konferensi waligereja dan yurisdiksi gerejawi di Asia, termasuk Indonesia, Filipina, India, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, Vietnam, Thailand, Timor-Leste, Bangladesh, Pakistan, Sri Lanka, Myanmar, Hong Kong, Makau, Nepal, Asia Tengah, serta Gereja Katolik ritus Timur Syro-Malabar dan Syro-Malankara.

Selain para uskup, hadir pula perwakilan Takhta Suci, para teolog, moderator, fasilitator, pengamat, serta Sekretariat FABC.

Sejumlah agenda istimewa juga akan mewarnai sidang, di antaranya kehadiran Kardinal Oswald Gracias sebagai utusan khusus Paus Leo XIV, rekoleksi yang dipimpin Kardinal Luis Antonio Tagle, serta pemaparan Kardinal Mario Grech mengenai implementasi Sinode Gereja.

Para peserta juga akan menerima pesan video dari Paus Leo XIV sebagai bentuk dukungan terhadap perjalanan sinodal Gereja di Asia.

Sebagai penutup, para peserta akan mengikuti Misa Kudus di Gereja Katedral Jakarta, kemudian mengunjungi Masjid Istiqlal melalui Terowongan Silaturahmi, simbol kuat kerukunan antarumat beragama yang menjadi kebanggaan Indonesia di mata dunia.

Bishop Maralit berharap Sidang Raya FABC XII tidak hanya menghasilkan berbagai rekomendasi pastoral, tetapi juga memperkuat kesaksian Gereja Katolik Asia dalam membangun persaudaraan, dialog, dan perdamaian di tengah masyarakat yang majemuk.

"Semoga pertemuan ini menginspirasi umat Katolik di seluruh Asia untuk menjadi jembatan persatuan di dalam keluarga, komunitas, bangsa, dan di antara berbagai agama serta budaya," pungkasnya.

 

Komentar