Paus Leo XIV: Jangan Berutang Selain Kasih
ASKARA - Dari jendela Istana Apostolik, Paus Leo XIV mengajak umat Katolik menjadikan kasih kepada sesama sebagai “utang” yang justru membebaskan manusia.
Pesan tersebut disampaikan Paus Leo XIV dalam doa Angelus Minggu, ketika ia merenungkan pesan liturgi hari itu tentang dasar kehidupan orang beriman dalam berpikir dan bertindak.
Mengutip Surat Santo Paulus kepada Jemaat di Roma, Paus Leo mengingatkan bahwa seluruh perintah pada akhirnya bermuara pada satu hal: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Rm 13:9).
Menurut Paus, manusia memang mengenal utang dan kewajiban yang dapat membebani kehidupan. Namun ada satu utang yang berbeda—utang kasih kepada sesama.
“Ada satu utang yang kita miliki satu sama lain yang tidak memperbudak kita: utang kasih timbal balik,” ujar Paus Leo.
Ia menjelaskan, perhatian, kebaikan dan kepedulian yang diterima seseorang justru membuat manusia semakin bebas dan mampu menjalankan tanggung jawabnya. Kasih bukan belenggu, melainkan kekuatan yang membuat seseorang mampu membuka diri kepada orang lain.
Dua Jalan untuk Mengasihi
Dalam Injil Minggu itu, Yesus menunjukkan dua cara bagi umat Kristiani untuk menghidupi kasih persaudaraan.
Pertama, melalui kemampuan memberi dan menerima teguran persaudaraan. Paus Leo menyebutnya sebagai sebuah seni yang lembut dan kerap dilupakan.
Menurutnya, teguran harus disampaikan dengan keterbukaan dan secara bertahap. Persoalan dibicarakan terlebih dahulu secara pribadi, kemudian bersama kelompok kecil, dan bila diperlukan di hadapan komunitas.
Cara tersebut, kata Paus, memungkinkan manusia menghadapi kenyataan dan mengubah persoalan maupun konflik menjadi kesempatan untuk bertumbuh.
Sebaliknya, mengeluh dan membicarakan keburukan orang lain memang lebih mudah, tetapi tidak menyelesaikan masalah.
“Mengeluh dan berbicara buruk tentang orang lain lebih mudah, tetapi tidak menghasilkan apa-apa dan membuat banyak situasi tetap lumpuh,” kata Paus Leo.
Ia menegaskan, Injil justru mengajarkan kebebasan yang lahir dari kasih.
Cara kedua adalah mengasihi satu sama lain sebagai saudara dan saudari. Bahkan doa, menurut Paus Leo, dapat menjadi ruang persatuan ketika manusia mampu menyatukan hati, baik saat menghadapi konflik maupun ketika membawa permohonan kepada Tuhan.
Yesus sendiri mengatakan, “Jika dua orang di antara kamu sepakat di bumi mengenai apa pun yang mereka minta, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga” (Mat 18:19).
Paus Leo menjelaskan, janji tersebut menunjukkan bahwa keinginan, kesedihan dan harapan manusia dapat dibagikan. Melalui doa, manusia tidak lagi berjalan sendirian, tetapi belajar bertumbuh dalam persatuan.
Tanpa iman, seseorang mudah merasa sendirian dan curiga kepada orang lain, bahkan melihat sesama sebagai orang asing atau musuh. Namun rahmat Allah memungkinkan manusia kembali menemukan persaudaraan.
“Saling berjumpa, saling mengampuni dan saling mendengarkan dalam Tuhan,” menjadi jalan yang ditawarkan Paus Leo untuk membangun kehidupan bersama.
Menutup doa Angelus, Paus Leo XIV meminta bantuan Bunda Maria agar umat belajar memahami apa yang ia sebut sebagai “utang sukacita kasih persaudaraan.”
Sebuah utang yang tidak membuat manusia miskin, tetapi justru memperkaya; tidak mengikat, tetapi membebaskan; dan tidak memisahkan, tetapi mempertemukan manusia sebagai saudara.

Komentar