Minggu, 06 September 2026 | 14:16
NEWS

Penerbangan Kuala Lumpur-Soetta Dibatalkan, Penumpang Terlantar

Penerbangan Kuala Lumpur-Soetta Dibatalkan, Penumpang Terlantar
Suasana di bandara Kuala Lumpur, Minggu pagi, (6/9/2026) (Dok Achin)

ASKARA - Sejumlah penumpang penerbangan dari Kuala Lumpur, Malaysia, menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, harus menghadapi pembatalan penerbangan pada Minggu (6/9/2026).

Salah seorang penumpang, Nina Nathalia mengungkapkan dirinya sudah berada di bandara sejak sekitar pukul 07.00 waktu setempat. Namun hingga beberapa jam kemudian, proses penanganan penumpang belum juga selesai.

“Gw sendiri dari jam 07.00 sudah di airport sampai sekarang belum beres. Antre imigrasi dan lain-lain ramai sekali,” ujar Nina tersebut.

Situasi semakin panjang karena koper penumpang yang sebelumnya sudah terlanjur check-in harus diambil kembali. Setelah mengambil bagasi, penumpang masih harus kembali mengantre untuk mengurus pembatalan tiket dan proses perjalanan selanjutnya.

“Skrg lagi tunggu ambil koper yang sudah terlanjur check-in. Setelah itu antre lagi untuk pengurusan batal tiket,” katanya.

Pembatalan penerbangan rute Kuala Lumpur-Jakarta tersebut terjadi di tengah gangguan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Bandara Soekarno-Hatta pada Minggu sempat ditutup sementara karena adanya indikasi abu vulkanik di area bandara dan ruang udara.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan mencatat sedikitnya 33 penerbangan di Soekarno-Hatta terdampak berdasarkan pemantauan hingga Sabtu (5/9) malam. Untuk penerbangan internasional, 16 penerbangan dibatalkan, tujuh mengalami penundaan dan lima lainnya dijadwalkan kembali. Salah satu rute internasional yang terdampak adalah Kuala Lumpur.

Dari Malaysia, AirAsia juga mengonfirmasi sejumlah penerbangan menuju dan dari Jakarta dibatalkan atau dijadwalkan ulang akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Maskapai menyebut abu vulkanik menjadi ancaman serius terhadap keselamatan penerbangan sehingga dilakukan penyesuaian terhadap penerbangan yang jalurnya terdampak.

Gangguan tersebut membuat penumpang harus menghadapi antrean panjang, mulai dari proses imigrasi, pengambilan kembali bagasi hingga pengurusan pembatalan atau penjadwalan ulang penerbangan.

Situasi ini menunjukkan dampak berantai dari gangguan penerbangan. Bukan hanya jadwal pesawat yang berubah, tetapi juga penumpang harus menjalani kembali sejumlah proses administrasi dan menunggu kepastian perjalanan berikutnya.

Pihak berwenang dan maskapai mengimbau calon penumpang untuk memeriksa status penerbangan sebelum melakukan perjalanan, mengingat kondisi akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih dapat berubah dan berpotensi memengaruhi jadwal penerbangan berikutnya.

 

Komentar