Aksi Sederhana Kardinal Suharyo Jadi Momen Paling Membekas di Jatisari
ASKARA - Di tengah khidmatnya Misa Pemberkatan dan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gereja TNI-Polri Santo Ignatius Jatisari, Bekasi Selatan, Rabu (15/7/2026), terselip sebuah peristiwa sederhana yang justru meninggalkan kesan mendalam bagi banyak umat yang hadir.
Sesaat setelah memberkati batu penjuru dan prasasti dengan dupa, Uskup Agung Jakarta sekaligus Uskup Ordinariat Castrensis Indonesia (OCI), Ignatius Kardinal Suharyo, melangkah menuju prasasti yang akan ditandatangani bersama Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono.
Ketika melihat permukaan marmer prasasti masih dipenuhi debu halus, Kardinal tidak memanggil panitia atau meminta misdinar membersihkannya. Dengan tenang, ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sapu tangan putih, lalu mengusap perlahan permukaan marmer hingga bersih sebelum prosesi penandatanganan dilakukan.
Gerakan itu berlangsung singkat, nyaris tanpa disadari banyak orang. Namun, bagi mereka yang menyaksikannya dari dekat, tindakan spontan tersebut menghadirkan pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar membersihkan debu.
Tidak ada kata-kata yang diucapkan. Tidak ada sorotan yang diminta. Yang tampak hanyalah kesederhanaan seorang gembala yang memilih melakukan sendiri pekerjaan kecil yang mungkin dianggap sepele oleh orang lain.
Momen itu seolah menjadi penegasan nyata atas homili yang baru saja disampaikan Kardinal Suharyo. Dalam kotbahnya, ia mengingatkan bahwa tujuan membangun gereja bukanlah mendirikan bangunan megah, melainkan membentuk umat yang semakin rendah hati dan semakin menyerupai Kristus dalam kasih dan pelayanan.
Apa yang disampaikan dari mimbar seakan langsung diwujudkan melalui tindakan nyata. Kerendahan hati tidak berhenti sebagai ajaran, tetapi hadir dalam sikap sederhana yang lahir secara alami.
Bagi umat yang hadir, sapu tangan kecil itu menjadi simbol bahwa seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa banyak orang yang melayaninya, melainkan dari kesediaannya melayani tanpa merasa lebih tinggi dari orang lain.
Prosesi kemudian berlanjut dengan penandatanganan prasasti, peletakan batu pertama, dan penanaman pohon sawo kecik sebagai penanda dimulainya pembangunan Gereja TNI-Polri Santo Ignatius Jatisari yang telah dinantikan umat selama hampir tiga dekade.
Di tengah kemegahan sebuah seremoni, justru tindakan sederhana Kardinal Suharyo mengelap debu di atas prasasti menjadi salah satu momen yang paling membekas. Sebuah pengingat bahwa keteladanan sering kali hadir bukan melalui pidato panjang, melainkan melalui tindakan kecil yang dilakukan dengan ketulusan.

Komentar