Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:25
NEWS

Purbaya Yudhi Sadewa: Sosok di Balik Weton Selasa Kliwon, Penjaga Keseimbangan Zaman

Purbaya Yudhi Sadewa: Sosok di Balik Weton Selasa Kliwon, Penjaga Keseimbangan Zaman
Purbaya Yudhi Sadewa (Dok Askara)

ASKARA -  Nama Purbaya Yudhi Sadewa kerap dikaitkan dengan sosok yang tenang, tajam membaca keadaan, dan mampu berdiri di antara berbagai kepentingan. Dalam khazanah Jawa, karakter seseorang kerap ditilik melalui pranata mangsa, weton, dan wuku kelahiran. Purbaya Yudhi Sadewa lahir pada 7 Juli 1964, dengan weton Selasa Kliwon, Mongso Kaso, dan Wuku Tambir, sebuah kombinasi yang sarat makna kepemimpinan dan kebijaksanaan batin.

Dalam tradisi Jawa, Selasa Kliwon dikenal sebagai weton yang memiliki energi besar, namun tersimpan ke dalam. Mereka yang lahir pada weton ini umumnya memiliki kecerdasan strategis, keteguhan prinsip, dan daya tahan luar biasa dalam menghadapi tekanan. Selasa melambangkan keberanian dan ketegasan, sementara Kliwon merepresentasikan dimensi batin, spiritualitas, dan intuisi yang dalam.

Masuk dalam Mongso Kaso, fase awal dalam siklus Pranata Mangsa, Purbaya digambarkan sebagai pribadi pembuka jalan. Mongso Kaso melambangkan masa menanam, masa memulai, dan masa kerja keras yang sunyi. Karakter ini tercermin pada sosok yang lebih memilih bekerja dalam senyap, namun hasilnya berdampak panjang.

Sementara itu, Wuku Tambir dikenal sebagai wuku para penyangga. Orang yang lahir di wuku ini diyakini memiliki peran menjaga keseimbangan, menjadi peneduh saat konflik, serta mampu membaca arah zaman dengan ketajaman nalar dan rasa. Mereka tidak selalu tampil di depan, tetapi kehadirannya menentukan arah keputusan.

Pengamat budaya Jawa, Cahaya Adi Wibowo, menilai kombinasi Selasa Kliwon, Mongso Kaso, Wuku Tambir sering melahirkan figur yang kuat dalam manajemen krisis, sabar dalam proses, dan cenderung dipercaya memegang amanah besar. Sosok seperti ini biasanya tidak reaktif, namun sangat tegas ketika prinsip dilanggar.

"Dalam falsafah Jawa, ini adalah tipe pamomong zaman, orang yang bekerja menjaga keseimbangan, bukan mencari sorotan," ujar Adi Wibowo, Jumat (23/1).

Di tengah dinamika sosial, ekonomi, dan politik yang kian kompleks, figur dengan karakter seperti Purbaya Yudhi Sadewa kerap dipandang sebagai representasi nilai Jawa klasik: eling lan waspada, kuat tanpa banyak bicara, dan setia pada tanggung jawab.

Bagi masyarakat Jawa, weton bukanlah ramalan nasib, melainkan peta karakter. Dan pada diri Purbaya Yudhi Sadewa, peta itu menggambarkan satu hal: sosok yang berjalan pelan, tapi menentukan arah.

Komentar