Minggu, 02 Agustus 2026 | 13:13
NEWS

Merayakan Misa Diam-Diam, Kardinal Ini Pertaruhkan Nyawa Demi Kristus

Merayakan Misa Diam-Diam, Kardinal Ini Pertaruhkan Nyawa Demi Kristus
Kardinal Ernest Simoni memimpin Perayaan Misa di bekas kamp penjara Spaç, Albania (Dok Vaticannews)

ASKARA - Paus Leo XIV menyampaikan pesan menyentuh kepada Kardinal Ernest Simoni (97), yang memimpin Misa di bekas kamp penjara Spaç, Albania, Jumat (31/7/2026), untuk mengenang para korban yang menderita dan gugur akibat penindasan rezim komunis. Dalam pesannya, Bapa Suci menegaskan bahwa tidak ada kekuatan apa pun yang mampu memenjarakan hati nurani yang diterangi Injil.

"Tidak ada rantai yang cukup kuat untuk memenjarakan hati nurani yang diterangi Injil. Tidak ada malam yang begitu panjang sehingga mampu menghalangi fajar yang dipersiapkan Tuhan bagi anak-anak-Nya. Dan tidak ada penjara yang cukup dalam untuk memisahkan seseorang dari kasih Allah," tulis Paus Leo XIV dalam pesan yang dibacakan pada akhir perayaan Ekaristi.

Paus mengenang Spaç sebagai salah satu bab paling kelam dalam sejarah Albania. Kamp kerja paksa itu menjadi tempat ribuan orang mengalami penderitaan akibat ketidakadilan pada masa pemerintahan komunis. Menurut Paus, darah mereka yang menderita dan wafat di pegunungan Spaç telah menjadi kesaksian bisu tentang kesetiaan, keberanian, dan harapan yang tetap hidup di tengah penindasan.

Perayaan Misa tersebut dipimpin langsung Kardinal Ernest Simoni, imam asal Albania yang menjadi saksi hidup kekejaman rezim komunis. Kardinal Simoni pernah dijatuhi hukuman mati dengan tuduhan sebagai musuh negara, sebelum hukumannya diubah menjadi penjara dan kerja paksa selama 18 tahun di berbagai kamp, termasuk Spaç.

Dalam kesaksiannya, Kardinal Simoni mengungkapkan, selama dipenjara ia tetap merayakan Misa secara diam-diam. Tanpa buku liturgi, ia menghafalkan seluruh tata perayaan dalam bahasa Latin. Ia juga mendengarkan pengakuan dosa dan membagikan Komuni Kudus secara rahasia kepada sesama tahanan.

"Saya mempertaruhkan nyawa setiap kali merayakan Misa," kenangnya. Ia bahkan membuat roti Ekaristi dari tepung yang dipanggang di atas tungku sederhana dan menggunakan sari buah anggur sebagai pengganti anggur misa. "Kalau mereka menemukan saya, saya pasti langsung digantung," ujarnya.

Pada Misa peringatan itu, Kardinal Simoni juga memperlihatkan helm tambang yang dikenakannya saat masih menjadi imam muda dan dipaksa bekerja di bawah tanah selama menjalani hukuman kerja paksa.

Dalam pesannya, Paus Leo XIV turut mengenang mereka yang meninggal dunia dan dimakamkan tanpa nama selama masa penindasan. Ia mengajak umat mendoakan para korban yang bahkan tidak sempat mendapat penghormatan terakhir maupun bunga di pusaranya.

Bapa Suci berharap kenangan atas para martir Spaç tetap hidup dan menjadi pengingat bagi generasi mendatang akan martabat setiap manusia yang tidak dapat diganggu gugat, pentingnya kebebasan, serta komitmen untuk terus memperjuangkan perdamaian. Bagi Gereja Katolik, kesaksian iman Kardinal Ernest Simoni menjadi bukti bahwa di tengah penindasan paling kejam sekalipun, kasih Allah tetap menang dan harapan tidak pernah padam.

 

Komentar