OMC: Oh My Cuaca
Ketika Negara Mengatur Awan, Banjir Tetap Datang Tepat Waktu
ASKARA - Pemerintah kembali menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sebuah program ambisius yang membuktikan bahwa langit pun dianggap bisa diatur asal ada anggaran dan siaran pers. Pesawat CASSA 212 mengudara membawa garam, kapur, dan keyakinan bahwa awan masih mau tunduk pada kebijakan publik.
Natrium Klorida disemai di Selat Sunda dengan harapan hujan bersedia parkir di laut. Ini semacam kebijakan zonasi untuk presipitasi: hujan boleh turun, asal bukan di kota. Sayangnya, awan tampaknya tidak mengikuti RDTR dan tetap memilih Jabodetabek sebagai lokasi favorit, lengkap dengan bonus genangan.
Sorti dilakukan berulang-ulang. Strateginya konsisten, hasilnya juga konsisten: hujan turun, banjir naik. Di bawah, warga melakukan simulasi kesiapsiagaan tahunan, menaikkan motor, memindahkan kulkas, dan menunggu air surut sambil mendengar klarifikasi pejabat.
Bekasi ikut disemai Kalsium Oksida untuk menekan awan hujan. Alih-alih tertekan, awan justru tampak semakin percaya diri. Mungkin karena merasa diberi subsidi mineral. Hujan pun turun dengan semangat pembangunan.
BMKG menyebut cuaca kali ini lebih ekstrem dari sebelumnya. Risiko berada pada level “menengah”, sebuah istilah teknis yang artinya cukup parah untuk merendam rumah warga, tapi belum cukup genting untuk merendam kesadaran perencanaan kota.
BNPB memastikan semua langkah berbasis analisis meteorologi berkelanjutan. Analisis itu diterjemahkan menjadi rilis pers yang juga berkelanjutan, meski air di rumah warga tak pernah membaca rilis tersebut.
BPBD kembali mengimbau masyarakat agar waspada dan membersihkan saluran air. Imbauan ini rutin disampaikan, bahkan ketika saluran air sudah lama tidak percaya pada imbauan. Drainase bekerja sebatas kemampuannya, narasi bekerja tanpa batas.
Pada akhirnya, OMC mungkin tidak berhasil mengatur awan. Namun ia berhasil menjaga satu hal tetap kering: tanggung jawab struktural. Negara sibuk di langit, rakyat sibuk di genangan. Hujan turun, banjir datang, dan semua sepakat: cuaca memang tak bisa disalahkan, karena yang lebih mudah disalahkan selalu awan.

Komentar