Rabu, 17 Juni 2026 | 01:03
Parodi

Malam 1 Suro, Empat Mata Tombak, dan Nasib Orang Biasa

Malam 1 Suro, Empat Mata Tombak, dan Nasib Orang Biasa
Empat mata tombak koleksi Kanjeng Yoga (Dok Askara)

ASKARA - Menjelang malam 1 Suro, biasanya orang-orang mulai serius.

Ada yang mulai mencari bunga setaman.
Ada yang sibuk menjadwalkan jamasan pusaka.
Ada yang puasa mutih.
Ada pula yang mendadak menjadi ahli spiritual dadakan setelah menonton lima video YouTube dan tiga podcast.

Sedangkan saya?

Ya seperti biasa.
Makan seperti biasa.
Tidur seperti biasa.
Kalau ada yang luar biasa, paling-paling harga cabai.

Padahal, kalau mau dihitung-hitung, isi rumah saya lumayan bisa membuat sebagian orang merinding.
Ada empat mata tombak.
Tiga terpajang rapi menghadap pintu masuk, dekat pintu kamar.
Satu lagi bersembunyi di dalam tongkat komando terbungkus dari kayu.

Bagi orang yang baru datang, pemandangan itu kadang cukup mengejutkan.

"Mas, ini rumah atau pos pengawal keraton?"

Saya hanya tertawa.

"Lha wong saya sendiri masih bingung kenapa mereka akhirnya sampai di sini."

Tiga mata tombak itu berasal dari salah satu putri Sinuhun Pakubuwono XII.
Salah satunya tersembunyi dalam tongkat komando yang menurut cerita pernah dipegang atau disimpan oleh seorang penasihat Presiden kedua Republik Indonesia.

Kalau benda-benda itu bisa mengobrol, mungkin mereka sering bergunjing sesama pusaka.

"Sampeyan dulu di keraton?"

"Iya."

"Kalau sampeyan?"

"Saya pernah di lingkungan orang penting."

"Lha sekarang?"

"Sekarang dekat piano dan modem Wi-Fi."

Begitulah hidup.
Takdir kadang lucu.
Yang dulu dekat singgasana, akhirnya dekat rak sandal.

Mata tombak keempat lebih unik lagi.
Saya mendapatkannya dari seorang pemilik foto aura di Mangga Dua Mal, King Gunawan.
Hubungan kami waktu itu bahkan belum lama.
Tidak ada transaksi.
Tidak ada barter.
Tidak ada cicilan.
Tiba-tiba beliau memberikan mata tombak itu kepada saya.
Saya sampai sekarang masih penasaran.
Apa yang beliau lihat dari diri saya?
Aura seorang pendekar?
Aura bangsawan?

Atau jangan-jangan aura orang yang rumahnya masih punya ruang kosong?
Wallahu a'lam.

Yang jelas, sejak itu empat mata tombak tersebut tinggal bersama saya.

Dan selama bertahun-tahun, mereka tidak pernah macam-macam.
Tidak pernah minta kopi.
Tidak pernah minta bunga.
Tidak pernah minta dupa.
Tidak pernah pula membisikkan nomor togel.

Padahal banyak orang mengira malam 1 Suro itu penuh kejadian mistis.

Lho, saya malah ikut kirab malam 1 Suro di Puro Mangkunegaran dan Keraton Surakarta.
Berjalan dalam diam.
Melihat para abdi dalem melangkah perlahan.
Merasakan angin malam Solo yang dingin.
Dan yang paling berat sebenarnya bukan sisi mistisnya.
Melainkan menjaga kaki supaya tidak menginjak tumit orang di depan.

Dari kirab-kirab itu saya belajar sesuatu.
Bahwa orang Jawa zaman dahulu ternyata tidak terlalu sibuk mengejar kesaktian.
Mereka lebih sibuk belajar kesabaran.
Lebih banyak mengalah daripada menang.
Lebih suka menahan diri daripada memamerkan diri.
Dan pusaka bagi mereka bukan benda untuk dipertontonkan.
Melainkan pengingat agar manusia jangan lupa diri.
Sebab sehebat apa pun manusia, akhirnya akan menjadi cerita.
Dan sehebat apa pun pusaka, ujung-ujungnya tetap harus dibersihkan dari debu.

Kadang saya memandang keempat mata tombak itu sambil tersenyum.
Mereka mungkin sudah melewati masa Pakubuwono.
Melewati masa Republik.
Melewati pergantian presiden.
Melewati berbagai zaman.

Sedangkan saya?

Baru modem internet mati setengah jam saja sudah mondar-mandir seperti kehilangan arah hidup.
Mungkin itu sebabnya benda-benda tua tampak lebih tenang daripada manusia modern.
Mereka tidak punya media sosial.
Tidak ikut perang komentar.
Tidak sibuk mencari viral.
Tidak pula rebutan jabatan di organisasi atawa di pemerintahan.

Mereka hanya diam.

Dan justru dalam diam itu, ada pelajaran.
Bahwa hidup tidak perlu selalu gaduh.
Bahwa kehormatan tidak perlu diteriakkan.
Dan bahwa malam 1 Suro bukanlah soal mencari kesaktian.
Melainkan kesempatan untuk menertawakan diri sendiri.

Karena sesungguhnya, yang paling perlu dijamas setiap tahun bukan tombak.
Bukan keris.
Bukan tongkat komando.
Melainkan hati dan pikiran pemiliknya.
Sebab karat yang paling berbahaya bukanlah karat pada besi.
Tetapi karat pada kesombongan manusia.

Dan syukurlah, sampai malam ini, empat mata tombak di rumah saya masih sabar tinggal bersama seorang manusia biasa yang kadang lupa menaruh kacamata, lupa mengisi pulsa, dan lebih sering kehilangan kunci motor daripada kehilangan arah spiritual jawa.

Begitulah.
Malam 1 Suro datang lagi.
Dan keempat mata tombak itu tetap diam.
Mungkin mereka sedang tersenyum.
Melihat pemiliknya yang dari tahun ke tahun masih sama:
Tidak sakti.
Tidak kaya.
Tidak pula menjadi adipati apalagi menteri.

Tetapi puji Tuhan, masih bisa tertawa. Semoga para leluhur pun ikut tersenyum melihat anak cucunya yang tidak terlalu serius, sebab orang Jawa lama sering berkata, "Urip iku sawang sinawang, nanging ngguyu iku luwih nyenengake." Hidup itu saling memandang, tetapi tertawa bersama jauh lebih membahagiakan.

Pinggir Jakarta
Malam 1 Suro

 

Komentar