Minggu, 21 Juni 2026 | 01:23
Parodi

Sudah Waktunya Putra Siliwangi Naik Tahta

Sudah Waktunya Putra Siliwangi Naik Tahta
Ilustrasi Rajda Alengka Nagih Janji Episode: WiFi Sakti dan Survei Gaib” Tahun 2029 (Dok Gemini)

ASKARA - Lakon Wayang Absurd:

“Rajda Alengka Nagih Janji Episode: WiFi Sakti dan Survei Gaib”

Tahun 2029.
Langit Nuswapura mendadak berubah warna jadi hijau stabilo.
Gunung meletus mengeluarkan baliho.
Sungai Citarum mendadak mengalirkan kopi sachet.

Para ahli nujum politik berkumpul di Padepokan Elektabilitas Nusantara sambil membakar dupa rasa matcha.

Mereka membaca ramalan kuno dari Kitab Primbon Algoritma:

"Jika buzzer lebih banyak daripada ikan lele, dan rakyat mulai debat politik di kolom jual beli motor bekas… maka perang tahta akan dimulai."

Muncullah dua kekuatan besar:

Ratu Vs Radja

Sang Ratu

Penguasa Kerajaan Citayam Raya,
naik kereta emas bertenaga solar subsidi.

Pasukannya terdiri dari:

Menteri pencitraan

Influencer kerajaan

12.000 admin TikTok

dan seekor kucing oranye bernama “Demokrasi”

Sang Radja

Prabu Dosomuko Rahwono bin Spreadsheet, penguasa Alengka Digital.

Konon beliau punya:

cincin anti-hoaks

keris elektabilitas

dan powerbank abadi isi 3%


Setiap pidato, awan membentuk grafik survei.

Di tengah kekacauan itu, datanglah Putra Siliwangi menunggang odong-odong bersayap sambil membawa golok bercahaya merek "Made in Tasik".

Rakyat langsung berteriak:

"Hidup Alengkaaaaa!"

Seekor kambing lewat sambil ikut:

"Mbeeek… perubahan!"

Maka dimulailah persiapan Perang Besar 2029.

Namun perang kali ini berbeda.

Tidak pakai panah.
Tidak pakai tombak.

Senjatanya:

podcast 4 jam

video AI

meme receh

dan status WA bernada sindiran.

Di tengah rapat strategi, Rahwono bertanya:

"Berapa kekuatan pasukan kita?"

Patih Sengkuni membuka laptop: "Siap Prabu! Kita punya:

7 juta akun,

3 juta akun cadangan,

dan 14 akun asli."

Semar yang sedang jualan cireng di depan istana hanya tertawa.

"Zaman sudah berubah," katanya. "Dulu perang rebut kerajaan… sekarang rebut trending topic."

Tiba-tiba langit terbelah.

Muncul tulisan raksasa:

"Loading Demokrasi 87%…"

Lalu listrik mati.

Seluruh kerajaan panik karena WiFi hilang.

Para pendekar tumbang.
Para buzzer kehilangan arah hidup.
Para elit mulai berbicara langsung dengan rakyat untuk pertama kalinya sejak 12 tahun.

Dan di tengah kekacauan itu…

Seorang emak-emak muncul membawa daftar harga cabai.

Dengan suara menggelegar ia berkata:

"SIAPA PUN RAJANYA… YANG PENTING MINYAK GORENG TURUN!"

Maka seluruh peperangan berhenti seketika.

Bahkan Rahwono dan Sang Ratu ikut antre sembako.

Tamat… sementara.

 

 

Komentar