Selasa, 21 Juli 2026 | 10:45
Parodi

Spanyol Menang, Politik Indonesia Libur Sejenak: Semua Sibuk Nobar

Spanyol Menang, Politik Indonesia Libur Sejenak: Semua Sibuk Nobar
Ilustrasi nobar (Dok TVRI)

ASKARA - Fenomena langka terjadi di Indonesia. Untuk beberapa jam, suhu politik nasional dilaporkan turun drastis. Bukan karena rekonsiliasi elite, bukan pula karena rapat besar, melainkan karena jutaan warga kompak menatap layar televisi menyaksikan laga panas Spanyol melawan Argentina.

Berdasarkan "pantauan tidak resmi", grup-grup WhatsApp yang biasanya dipenuhi perdebatan politik mendadak berubah fungsi. Meme sindiran berganti susunan pemain, analisis kebijakan berubah menjadi prediksi skor, sementara para "pengamat dadakan" yang sehari-hari membahas konstitusi mendadak menjadi ahli taktik sepak bola.

Di warung kopi, pemandangan juga berubah. Mereka yang biasanya saling berdebat soal koalisi kini duduk semeja mendukung tim favorit masing-masing. Tidak ada lagi kalimat, "Menurut survei..." Yang terdengar justru, "Ayo... tembak!"

Saat peluit akhir berbunyi dan Spanyol memastikan kemenangan, media sosial kembali bergemuruh. Namun kali ini bukan soal kabinet, reshuffle, atau polemik politik, melainkan perdebatan apakah gol itu layak menjadi gol terbaik tahun ini.

Seorang "pengamat kehidupan" berseloroh, "Sepak bola memang hebat. Ia mampu melakukan apa yang kadang sulit dilakukan politik: membuat orang yang berbeda pilihan mau duduk berdampingan selama 90 menit."

Meski demikian, suasana damai itu diperkirakan hanya berlangsung sementara. Beberapa menit setelah pertandingan usai, notifikasi berita politik mulai bermunculan kembali. Grup WhatsApp perlahan kembali ke habitatnya, dan para komentator dadakan pun mengganti jersey dengan analisis politik.

Para ahli kemudian menyimpulkan, Indonesia sebenarnya memiliki obat penurun tensi politik yang murah meriah: pertandingan sepak bola kelas dunia. Efek sampingnya hanya satu, tidur larut malam dan suara serak karena terlalu semangat berteriak saat nobar.

Sementara itu, rakyat berharap semoga pertandingan-pertandingan besar berikutnya terus digelar. Bukan semata demi sepak bola, tetapi agar bangsa ini sesekali punya alasan untuk tertawa bersama, sebelum kembali berdebat tentang hal-hal yang tidak pernah selesai.

 

Komentar