Puisi Menjadi Cermin Zaman
Ketika Pandawa Dinanti di Tengah Bayang-Bayang Kurawa
ASKARA – Di tengah derasnya arus informasi dan dinamika politik yang tak kunjung reda, kritik terhadap kondisi bangsa kembali menemukan jalannya melalui puisi. Bukan sekadar rangkaian kata, melainkan suara hati yang lahir dari kegelisahan, harapan, sekaligus kerinduan akan hadirnya kepemimpinan yang bermoral dan berpihak kepada rakyat.
Puisi yang beredar luas itu membuka refleksi dengan ironi tentang negeri yang sejak dahulu dikenal sebagai gemah ripah loh jinawi, negeri yang subur, kaya, dan dianugerahi sumber daya alam melimpah. Namun, kemakmuran yang seharusnya menjadi milik seluruh rakyat justru terasa semakin jauh dari kenyataan.
"Gemah ripah loh jinawi katanya untuk negeri, seribu janji politisi ternyata hanya ilusi."
Bait tersebut menjadi kritik terhadap realitas ketika janji-janji politik kerap berakhir sebagai slogan, sementara rakyat masih bergulat dengan berbagai persoalan ekonomi, hukum, dan ketimpangan sosial. Puisi ini juga menyentil paradoks sebagian elite yang lantang mengaku mencintai NKRI, tetapi justru tersandung praktik korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.
"Katanya cinta NKRI padahal korupsi, pemimpin negeri banyak masuk bui."
Lebih jauh, penyair mempertanyakan arah perjalanan bangsa. Garuda, lambang kejayaan dan kedaulatan Indonesia, digambarkan seolah kehilangan kekuatan untuk mengepakkan sayapnya. Sementara semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan cita-cita kejayaan Nusantara dipotret sebagai nilai-nilai luhur yang dikhawatirkan hanya tersisa sebagai jargon jika tidak diwujudkan dalam tindakan nyata.
Namun puisi ini tidak berhenti pada kritik. Di bagian akhir, penyair mengajak pembaca kembali menoleh kepada kearifan budaya Nusantara melalui kisah pewayangan. Pandawa dan Kurawa dihadirkan bukan sebagai tokoh mitologi, melainkan simbol pertarungan abadi antara integritas dan keserakahan, antara keadilan dan penyalahgunaan kekuasaan.
"Kami mau pemimpin kesatria dari Pandawa... agar dapat menyingkirkan para Kurawa."
Dalam filosofi pewayangan, kemenangan Pandawa tidak lahir dari kekuatan fisik semata, tetapi dari kejujuran, kebijaksanaan, kesabaran, dan keberpihakan kepada kebenaran. Sebaliknya, Kurawa menjadi perlambang kerakusan yang pada akhirnya membawa kehancuran bagi dirinya sendiri.
Harapan akan hadirnya "kesatria Pandawa" sesungguhnya bukan sekadar harapan akan sosok pemimpin baru, melainkan kerinduan terhadap lahirnya budaya kepemimpinan yang menjadikan amanah sebagai kehormatan, bukan alat untuk memperkaya diri. Sebuah kepemimpinan yang mampu menghidupkan kembali nilai gotong royong, keadilan sosial, dan semangat persatuan.
Puisi ini mengingatkan bahwa perjalanan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam atau kekuatan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas moral para pemimpinnya. Sebab ketika kejujuran kalah oleh keserakahan, dan amanah dikalahkan oleh ambisi, maka yang rapuh bukan hanya pemerintahan, melainkan kepercayaan rakyat.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia, puisi tersebut menjadi pengingat bahwa bangsa ini tidak sedang kekurangan orang pintar, melainkan selalu membutuhkan lebih banyak pemimpin yang berani, jujur, dan setia pada kepentingan rakyat. Karena pada akhirnya, sejarah tidak dikenang karena banyaknya janji yang diucapkan, tetapi karena keberanian menepatinya.

Komentar