Dari Gelap Menuju Puncak, Kisah Santri SAPALA Menjemput Fajar Kemerdekaan
ASKARA - Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dimanfaatkan Santri Pecinta Alam Ma’had Al-Imam Adz-Dzahabi (SAPALA) dengan melakukan pendakian Gunung Sindoro pada 16–17 Agustus 2026. Kegiatan tersebut bukan sekadar perjalanan menuju puncak, tetapi menjadi bagian dari pembinaan mental dan fisik, penguatan ukhuwah, serta sarana tadabbur alam untuk menumbuhkan rasa syukur kepada Allah SWT.
Pendakian dipimpin Pembina SAPALA Ustadz Abdur Rohman Fadholi dan Ketua SAPALA Adz-Dzahabi Ustadz Fadhla Tyo Faizza, B.A. Rombongan terdiri dari 17 santri, para pembimbing, serta Umar Faruq Al Fadholi, putra Ustadz Abdur Rohman Fadholi.
Rombongan memulai pendakian pada Minggu (16/8/2026) pukul 10.00 WIB. Dari basecamp menuju Pos 1, peserta melewati kawasan ladang warga. Medan kemudian berubah menjadi jalan tanah menuju Pos 2 dan semakin berat saat memasuki jalur Pos 3 yang didominasi bebatuan terjal bercampur tanah.
Tantangan semakin terasa dari Pos 3 menuju puncak. Jalur dipenuhi bebatuan terjal dan pasir vulkanik. Dalam perjalanan, para peserta juga beberapa kali mencium aroma menyengat dari asap kawah yang berbau belerang.
Setelah beristirahat dan mempersiapkan diri, rombongan melanjutkan start summit pada Senin (17/8/2026) pukul 03.00 WIB. Pendakian dini hari menjadi ujian ketahanan fisik sekaligus mental. Para santri harus menjaga stamina, konsentrasi dan kekompakan agar seluruh anggota rombongan dapat mencapai tujuan dengan selamat.
Namun, di balik medan berat tersebut terdapat pendidikan karakter yang menjadi bagian penting dari kegiatan SAPALA. Tanjakan mengajarkan ketekunan, medan terjal melatih keberanian, sementara perjalanan bersama menumbuhkan kepedulian dan semangat saling membantu.
Tausiyah di Puncak: Mendaki dengan Kaki, Menjaga Al-Qur’an dengan Akhlak
Sesampainya di kawasan puncak Gunung Sindoro, kegiatan tidak berhenti pada pencapaian fisik. Para santri mendapatkan tausiyah dari Ustadz Abdur Rohman Fadholi yang mengangkat tema adab seorang penghafal Al-Qur’an.
Dalam suasana alam pegunungan dan momentum peringatan kemerdekaan, para santri diingatkan bahwa menjadi penghafal Al-Qur’an bukan hanya tentang seberapa banyak ayat yang tersimpan dalam ingatan, tetapi juga bagaimana ayat-ayat tersebut tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
Tausiyah tersebut menjadi pengingat bahwa hafalan Al-Qur’an harus berjalan beriringan dengan akhlak. Seorang penghafal Al-Qur’an dituntut menjaga adab kepada Allah SWT, kepada guru dan orang tua, kepada sesama, serta terhadap lingkungan.
Pesan tersebut terasa semakin kuat karena disampaikan di tengah perjalanan pendakian. Gunung menjadi ruang pembelajaran bahwa ilmu dan hafalan tidak cukup hanya disimpan, tetapi harus menjadi bekal dalam menghadapi kehidupan.
Pendakian juga mengajarkan kesabaran. Sebagaimana seorang pendaki harus melangkah setahap demi setahap untuk mencapai puncak, demikian pula seorang penghafal Al-Qur’an membutuhkan kesungguhan, kedisiplinan dan istiqamah dalam menjaga hafalan.
Momentum tausiyah di puncak Sindoro sekaligus memperkuat pesan SAPALA bahwa aktivitas pecinta alam dan pendidikan keagamaan dapat berjalan beriringan. Alam menjadi ruang tadabbur, sedangkan perjalanan menjadi sarana melatih akhlak dan ketangguhan diri.
Kemerdekaan dengan Menempa Diri
Para peserta pendakian yang mengikuti kegiatan tersebut adalah Muhammad Alfatih Widiyanto, Dika Haryanto, Muhammad Aiman Najah, Muhammad Al Faqih Halim, Rafael Firmansyah, Muhammad Affan Fadhlurrahman, Ahmad Al Hafizh, Rifqiy Dzukaaun Nasr, Amir Arifin, Urwah Fazli, Azhar Rafif Firgiawan, Muhammad Hafizh Habibullah, Muhammad Akhdan Faiz, Daffa Arzaki, Denis Maulana Ilham, Boryenka Keanu Chokichi, Muhammad Hanif, serta Umar Faruq Al Fadholi.
Bagi SAPALA, peringatan kemerdekaan di Gunung Sindoro memiliki makna tersendiri. Kemerdekaan tidak hanya dirayakan melalui pengibaran Merah Putih, tetapi juga dengan menempa generasi muda agar memiliki mental kuat, disiplin, bertanggung jawab dan peduli terhadap sesama.
Alam pun menjadi ruang belajar yang berbeda. Di sepanjang perjalanan, para santri belajar menjaga diri, menghormati alam, membantu rekan yang mengalami kesulitan dan bertanggung jawab terhadap keselamatan kelompok.
Melalui kegiatan tersebut, SAPALA ingin menegaskan bahwa pecinta alam bukan sekadar aktivitas mendaki gunung. Ia dapat menjadi media pendidikan karakter yang memadukan ketangguhan fisik, kekuatan mental, kecintaan terhadap alam, ukhuwah Islamiyah, dan penguatan nilai-nilai Al-Qur’an.
Di Gunung Sindoro, para santri belajar bahwa puncak bukan sekadar tempat untuk berdiri lebih tinggi, tetapi ruang untuk melihat diri lebih dalam. Dan dalam momentum kemerdekaan, mereka membawa pulang pelajaran bahwa perjuangan membutuhkan ketekunan, kebersamaan, adab dan tanggung jawab.

Komentar