Senin, 05 Oktober 2026 | 06:27
COMMUNITY

17 Tahun Saint Paul Choir, Dari Panggung Musik untuk Rumah Iman

17 Tahun Saint Paul Choir, Dari Panggung Musik untuk Rumah Iman
Konser Saint Paul Choir yang digelar di Auditorium Sekolah Bunda Mulia Kalideres, Jakarta Barat (Dok Farida)

ASKARA - Lampu panggung boleh padam, tetapi cerita tentang sebuah perjalanan tidak selalu berakhir ketika pertunjukan selesai. Bagi Saint Paul Choir (SPC), konser Jejak Pulang justru menjadi penanda bahwa 17 tahun pelayanan dapat kembali dipersembahkan untuk sesuatu yang lebih besar: membangun rumah iman bagi umat.

Konser yang digelar di Auditorium Sekolah Bunda Mulia Kalideres, Jakarta Barat, itu tidak hanya menandai perjalanan 17 tahun Saint Paul Choir melayani di Paroki Santo Paulus Depok. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya penggalangan dana pembangunan Gereja Santo Paulus Depok.

Dari konser tersebut, terkumpul dana sebesar Rp22.930.117 dan 10 ringgit Malaysia. Nilai tersebut menjadi buah dari partisipasi penonton, donatur, sponsor, panitia, serta berbagai pihak yang ikut mendukung terselenggaranya kegiatan.

Namun, bagi Saint Paul Choir, angka itu bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Ada sesuatu yang lebih panjang dan tidak selalu bisa dihitung dengan angka. Ada persahabatan yang tumbuh dari latihan, pelayanan yang dijalani bersama, anak-anak yang tumbuh menjadi dewasa, serta generasi yang datang silih berganti untuk melanjutkan pelayanan.

Ketua Panitia Konser Jejak Pulang, Maria Puji Astuti, mengatakan konser tersebut berangkat dari keinginan untuk merayakan perjalanan 17 tahun SPC sekaligus mengajak setiap orang melihat kembali perjalanan hidupnya.

“Konser Jejak Pulang lahir dari kerinduan kami sebagai kelompok paduan suara untuk merayakan perjalanan pelayanan kami di Paroki Santo Paulus Depok yang telah berjalan selama 17 tahun, sekaligus mengajak umat dan masyarakat untuk merefleksikan perjalanan hidup masing-masing,” ujar Maria.

Bagi Maria, kata “pulang” memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar kembali ke sebuah tempat. Pulang adalah perjalanan batin menuju kasih, iman, dan harapan.

Selama 17 tahun, SPC menjalani berbagai bentuk pelayanan, mulai dari mengiringi perayaan Ekaristi hingga konser dan kegiatan sosial. Di antara perjalanan itu, tumbuh pula ikatan yang membuat kelompok paduan suara tersebut terasa seperti sebuah keluarga.

Anak-anak yang dahulu datang sebagai anggota kecil kini sebagian telah tumbuh menjadi remaja dan dewasa. Ada yang kemudian kembali melayani bersama generasi setelah mereka.

“Melihat anak-anak yang dulu bergabung sebagai anggota kecil kini tumbuh menjadi pelayan yang dewasa, bahkan menjadi teladan bagi generasi berikutnya, adalah hadiah yang sangat berharga,” tutur Maria.

Di situlah musik menemukan maknanya yang lain. Ia bukan sekadar suara yang dipadukan menjadi harmoni, tetapi menjadi jembatan yang menghubungkan generasi.

Konser Jejak Pulang juga mengambil inspirasi dari spiritualitas Santo Fransiskus Asisi, terutama nilai kesederhanaan, kedamaian, persaudaraan, kerendahan hati dan kepedulian terhadap sesama. Momentum tersebut juga dikaitkan dengan peringatan 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus.

Pastor Paroki Santo Paulus Depok, RP Daniel Klau Nahak, OFM, mengajak umat memaknai kehidupan sebagai perjalanan. Dalam perjalanan itu, manusia bisa mengejar banyak hal, mengalami keberhasilan, menghadapi kegagalan, bahkan kehilangan arah.

Tetapi selalu ada kerinduan untuk kembali.

Dalam perspektif iman, kembali berarti menemukan lagi hubungan dengan Tuhan dan kasih-Nya.

Pesan tersebut diterjemahkan SPC melalui rangkaian lagu yang disusun sebagai perjalanan musikal. Tema berkat, damai, persaudaraan, belas kasih, doa dan kerja dirangkai sebelum akhirnya bermuara pada lagu Jejak Pulang.

Penampilan kelompok anak, remaja dan dewasa membuat panggung konser menjadi gambaran kecil perjalanan lintas generasi dalam komunitas tersebut.

Bahkan, mereka yang telah berpulang tetap diberi ruang untuk hadir melalui tayangan Member to Remember. Sebuah penghormatan kepada anggota SPC yang pernah menjadi bagian dari perjalanan komunitas, tetapi kini telah meninggalkan kenangan.

Momen itu mengingatkan bahwa sebuah komunitas tidak hanya dibentuk oleh mereka yang masih berada di dalamnya. Mereka yang pernah datang, melayani dan memberikan waktu juga meninggalkan jejak yang ikut membentuk perjalanan hari ini.

Di balik pertunjukan, terdapat pula kerja panjang yang tidak terlihat dari kursi penonton. Para anggota menjalani latihan hingga tiga kali dalam sepekan. Ada waktu yang disisihkan, tenaga yang dicurahkan, dan komitmen yang harus dijaga agar harmoni di atas panggung dapat tercipta.

Nuansa berbeda juga dihadirkan melalui kostum yang mengambil inspirasi dari era kehidupan Santo Fransiskus Asisi pada sekitar abad ke-13.

Bagi umat, pembangunan Gereja Santo Paulus Depok yang menjadi salah satu tujuan penggalangan dana bukan semata persoalan mendirikan sebuah bangunan.

Gereja dipandang sebagai rumah bersama. Di tempat itulah umat beribadah, bertumbuh, membangun persaudaraan, menjalankan pelayanan dan menyiapkan generasi berikutnya.

Karena itu, setiap rupiah yang terkumpul dari konser Jejak Pulang memiliki cerita. Ada penonton yang hadir karena mencintai musik, ada keluarga yang datang karena anak atau cucunya tampil, ada umat yang ingin mendukung pembangunan gereja, dan ada mereka yang memberikan dukungan karena percaya pada semangat pelayanan.

Wibisono dan istrinya, umat Paroki Santo Matias Cinere, misalnya, hadir karena kecintaan terhadap musik sekaligus ingin menyaksikan cucu mereka tampil memainkan biola.

Sementara Dr. Linawati, umat Gereja Santo Paulus Depok, mengapresiasi kualitas penampilan sekaligus mengaku bangga melihat talenta umat, khususnya dari Wilayah Stefanus.

Apresiasi juga datang dari Ferdy S. Nggao, Fransisca dan Agatha Atin. Bagi mereka, konser tersebut memberikan pengalaman yang berkesan dan sepadan dengan proses panjang yang dijalani para penampil.

Dukungan terhadap konser juga datang dari Sekolah Bunda Mulia Kalideres yang menyediakan auditorium sebagai tempat pertunjukan.

Koordinator Pendidikan Sekolah Bunda Mulia, Marietta Metty, melihat ruang tersebut bukan sekadar tempat berlangsungnya pertunjukan. Auditorium menjadi titik pertemuan berbagai orang yang membawa tenaga, pikiran, doa dan harapan.

Di sana, musik bertemu dengan pelayanan. Talenta bertemu dengan kepedulian. Dan sebuah komunitas menemukan cara untuk ikut mengambil bagian dalam pembangunan rumah bersama.

Pada akhirnya, Jejak Pulang tidak berhenti sebagai sebuah konser.

Ia menjadi catatan tentang bagaimana 17 tahun perjalanan dapat dipersembahkan kembali untuk masa depan. Tentang bagaimana suara anak-anak dan orang dewasa dapat berpadu dalam satu harmoni. Tentang mereka yang telah pergi tetapi tetap dikenang. Dan tentang sebuah gereja yang sedang diperjuangkan sebagai rumah bagi generasi yang akan datang.

Saint Paul Choir mungkin datang ke atas panggung dengan membawa musik. Tetapi ketika lampu panggung akhirnya padam, yang tertinggal bukan hanya tepuk tangan.

Ada kasih yang dibagikan, harapan yang ditanam, dan sebuah jejak yang perlahan mengarah kepada satu makna: pulang.

 

 

Editor: Dar Edi Yoga