Senin, 05 Oktober 2026 | 05:00
COMMUNITY
Calon Ketua Umum HMI

Dari Sebuah Buku, Rifyan Menitipkan Mimpi untuk Masa Depan HMI

Dari Sebuah Buku, Rifyan Menitipkan Mimpi untuk Masa Depan HMI
Klose calon Ketum HMI Rifyan Ridwan Saleh (Dok Askara)

ASKARA - Sebuah buku terkadang lahir bukan sekadar dari keinginan untuk menulis. Di dalamnya ada kegelisahan, pengalaman, sekaligus harapan tentang masa depan. Begitu pula dengan HMI in The Future: Gagasan, Arah Baru, dan Peran Strategis HMI di Indonesia Masa Depan yang diluncurkan Rifyan Ridwan Saleh di Sadjoe Cafe & Resto, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Peluncuran buku itu berlangsung dalam suasana diskusi dan kekeluargaan. Sejumlah alumni HMI (KAHMI), senior, serta tokoh HMI hadir untuk menyimak gagasan yang ditawarkan Rifyan tentang masa depan organisasi yang telah menjadi bagian dari perjalanan banyak generasi.

Momentum tersebut sekaligus menjadi ruang bagi Rifyan untuk menyampaikan langkah berikutnya. Menjelang Kongres HMI XXXIII di Lampung pada November 2026, ia mendeklarasikan diri sebagai bakal calon Ketua Umum PB HMI periode 2027–2029.

Bagi Rifyan, keputusan itu bukan sekadar tentang mengejar sebuah jabatan. Ia ingin gagasan yang dituangkan dalam buku tidak berhenti sebagai tulisan, tetapi diterjemahkan menjadi kerja dan pengabdian.

“Saya tidak ingin gagasan-gagasan dalam buku ini berhenti menjadi tulisan. Saya memilih untuk memperjuangkannya. Saya menyatakan diri sebagai bakal calon Ketua Umum PB HMI Periode 2027–2029 karena saya ingin menghibahkan diri, pikiran, pengalaman, waktu, dan seluruh kemampuan yang saya miliki untuk umat dan bangsa melalui HMI,” ujar Rifyan.

Ia memandang kepemimpinan sebagai amanah yang harus dibuktikan melalui kerja. Jabatan, menurutnya, hanyalah sarana untuk membawa gagasan menjadi sesuatu yang dapat dirasakan.

“Bagi saya, menjadi Ketua Umum bukanlah tujuan akhir. Jabatan hanyalah alat untuk menghidupkan gagasan. Yang jauh lebih penting adalah apakah HMI mampu menjadi ruang lahirnya manusia-manusia yang berilmu, berintegritas, berani mengambil tanggung jawab, dan memberikan manfaat bagi umat dan bangsa,” katanya.

Gagasan tersebut kemudian dibedah oleh tiga pembahas dengan latar belakang berbeda, yakni Ilham Akbar Mustafa, Staf Khusus Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) bidang Transformasi Digital dan Penguatan Pelayanan Publik; Prof. Dr. Juanda, S.H., M.H., Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Esa Unggul; serta Dr. (c) Ojak Situmeang, S.H., M.H., C.L.A., CLi CTLC, CMLC, CMed., praktisi hukum dan Managing Partner sekaligus Co-Founder OS Law Partnership.

Ilham melihat kehadiran buku tersebut sebagai sesuatu yang penting di tengah momentum menuju Kongres HMI. Menurutnya, karya intelektual dapat membuat percakapan mengenai kongres tidak berhenti pada dinamika politik organisasi, tetapi juga menyentuh gagasan tentang arah HMI.

“Upaya dia untuk menghadirkan karya lewat buku adalah upaya serius untuk menggeser percakapan Kongres HMI, dari sekadar perbincangan mobilisasi politik menuju percakapan substantif terkait pikiran dan gagasan,” ujar Ilham.

Bagi Ilham, buku juga menjadi bagian dari rekam jejak seorang kader. Gagasan yang dituangkan hari ini pada akhirnya akan berhadapan dengan kenyataan dan dapat dilihat kembali melalui perjalanan waktu.

“Kita tidak bisa menghukumi masa depan yang nisbi, tapi kita bisa menilai seseorang dari rekam jejak, rekam karya, dan rekam pikirannya di masa lalu. Itu formula meritokratik untuk memilih pemimpin,” katanya.

Karena itu, ia berharap tradisi menulis dan melahirkan gagasan tidak berhenti pada satu orang. Kandidat-kandidat lain, menurut Ilham, juga dapat menghadirkan karya dan pemikiran masing-masing sehingga warga HMI memiliki ruang yang lebih luas untuk mengenal gagasan para calon pemimpinnya.

Sementara itu, Prof. Juanda melihat buku tersebut sebagai upaya membaca masa depan tanpa melupakan perjalanan masa lalu. Menurutnya, masa depan tidak dapat dipisahkan dari sejarah dan kondisi yang sedang dihadapi hari ini.

“Buku ini sangat relevan dengan zaman. Tetapi kita juga perlu belajar dari masa lalu dan mengamati masa kini. Dari sana kita berangkat untuk merebut masa depan yang lebih baik,” ujar Prof. Juanda.

Ia mengingatkan kader HMI agar tidak hanya sibuk membaca persoalan hari ini, tetapi juga mempersiapkan diri menghadapi perubahan yang akan datang.

“Pelajari masa lalu, amati masa kini, kemudian siapkan diri untuk masa depan. Karena masa depan itu harus dipersiapkan dan diperjuangkan,” katanya.

Kehadiran Prof. Juanda dalam kegiatan tersebut juga memiliki makna tersendiri. Ia mengaku menyempatkan hadir dengan menunda sejumlah agenda lain karena ingin memberikan dukungan terhadap proses intelektual yang sedang dibangun Rifyan.

“Adinda Rifyan perlu didukung. Saya menunda kegiatan-kegiatan saya untuk menghadiri kegiatan ini agar bisa menyaksikan pimpinan di masa depan melalui Himpunan Mahasiswa Islam untuk Indonesia maju 2045,” ujar Prof. Juanda.

Pandangan menarik datang dari Ojak Situmeang. Dari gagasan yang dibacanya, Ojak melihat Rifyan sebagai sosok yang bersedia mendengarkan sekaligus memiliki keberanian menyampaikan pendapat, termasuk ketika pendapat tersebut berbeda.

“Bagi saya, keberanian untuk berpikir dan menyampaikan gagasan adalah sesuatu yang penting,” ujar Ojak.

Ojak juga memberikan perspektif dari luar lingkungan Muslim. Meskipun dirinya non-Muslim, ia mengaku dapat menangkap gagasan besar yang ditawarkan Rifyan mengenai masa depan HMI.

“Meskipun saya seorang non-Muslim, karena membaca gagasan besar saudara Rifyan, saya meyakini bahwa HMI bisa menjadi lebih berjaya di masa depan dengan gagasan, gerakan, dan kesiapan generasinya,” katanya.

Menurut Ojak, sebuah organisasi akan memiliki masa depan ketika gagasan tidak berhenti di atas kertas, tetapi mampu diterjemahkan menjadi gerakan dan kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pandangan itulah yang tampaknya ingin dibawa Rifyan melalui bukunya. Ia menempatkan gagasan sebagai titik awal, gerakan sebagai proses, dan generasi sebagai tujuan.

“Saya menghibahkan diri untuk umat dan bangsa. Jika HMI memberi saya ruang untuk berjuang, maka saya akan menggunakan ruang itu untuk bekerja. Bukan untuk membesarkan diri, tetapi untuk membesarkan gagasan, membangun sistem, memperkuat kader, dan memastikan HMI tetap memiliki relevansi bagi Indonesia di masa depan,” tegasnya.

Di tengah suasana menuju kongres, peluncuran buku itu menjadi lebih dari sekadar acara deklarasi. Ada percakapan tentang masa depan organisasi, ada gagasan yang diuji oleh para pembahas, dan ada sebuah karya yang kelak dapat dibaca kembali untuk melihat sejauh mana pemikiran hari ini diwujudkan dalam perjalanan berikutnya.

Bagi Rifyan, perjalanan itu baru dimulai. Buku telah diluncurkan, gagasan telah disampaikan, dan pilihan untuk mengabdikan diri melalui HMI telah diumumkan. Selebihnya, waktu dan proses organisasi yang akan menguji konsistensi antara apa yang ditulis, apa yang dikatakan, dan apa yang dikerjakan.

 

Editor: Onaria Fransisca