Jumat, 02 Oktober 2026 | 23:04
LIFESTYLE

Hanan, Pedagang Batu Cincin yang Tetap Bertahan di Rawabening

Hanan, Pedagang Batu Cincin yang Tetap Bertahan di Rawabening
Hanan, pedagang batu cincin yang tetap bertahan di Rawabening sejak 1997 (Dok Askara)

ASKARA - Di tengah perubahan zaman dan selera masyarakat, Hanan tetap setia menekuni pekerjaannya sebagai pedagang batu cincin di Pasar Rawabening, Jatinegara, Jakarta Timur. Sejak 1997, pria asal Kuningan, Jawa Barat, itu menggantungkan hidup dari batu-batu yang bagi sebagian orang bukan sekadar perhiasan, melainkan bagian dari cerita dan kenangan.

Hampir tiga dekade berlalu, Hanan masih menempati ruangnya di tengah denyut perdagangan batu Rawabening. Ia menyaksikan sendiri bagaimana pasar batu mengalami pasang surut, dari masa ketika batu cincin menjadi tren di berbagai kalangan hingga kini ketika peminatnya tidak lagi seramai dahulu.

Menurut Hanan, masa kejayaan batu cincin terjadi sekitar 2014–2015. Saat itu, demam batu merebak di berbagai daerah. Batu akik, batu lokal maupun batu asal berbagai wilayah menjadi perbincangan dan buruan masyarakat.

“Waktu itu memang ramai sekali. Batu sedang jaya-jayanya,” ujar Hanan mengenang masa tersebut.

Namun, berakhirnya tren besar batu cincin tidak membuat Hanan meninggalkan pekerjaannya. Ia memilih tetap bertahan, karena baginya berdagang batu bukan semata soal mengikuti tren, tetapi juga tentang mempertahankan pekerjaan yang telah dijalani selama puluhan tahun.

Kini suasana Pasar Batu Rawabening memang tidak lagi seperti masa kejayaannya. Meski demikian, Hanan mengatakan masih ada para penggemar batu yang datang dan mencari koleksi tertentu.

“Sekarang masih ada penggemarnya. Mereka yang memang suka batu tetap datang,” katanya.

Para penggemar inilah yang menurut Hanan membuat denyut perdagangan batu di Rawabening belum sepenuhnya padam. Mereka datang bukan hanya untuk membeli, tetapi juga melihat koleksi, berbincang mengenai jenis dan kualitas batu, serta bertukar cerita dengan sesama penghobi.

Bagi Hanan, bertahan selama hampir 30 tahun menjadi pedagang batu merupakan perjalanan panjang. Ia tidak lagi sekadar menjual batu cincin, tetapi menjadi bagian dari perjalanan Pasar Rawabening dan komunitas pencinta batu di Jakarta.

Di tengah perubahan tren dan gaya hidup, Hanan memilih tetap berada di tempatnya. Sebab, selama masih ada orang yang mencintai batu, selama itu pula ia percaya perdagangan batu di Rawabening akan tetap memiliki kehidupan.

Batu boleh tak lagi menjadi tren sebesar dulu. Tetapi bagi Hanan, kecintaan pada batu membuat langkahnya tetap bertahan.

 

Editor: Caecilia Eersta

Berita Terkait