Minggu, 08 November 2026 | 16:52
LIFESTYLE
Menembus Keheningan Akhir Tahun di Gunung Padang

Ada Apa di Balik Purnama Terakhir 2026 di Gunung Padang?

Ada Apa di Balik Purnama Terakhir 2026 di Gunung Padang?
Ilustrasi meditasi di bawah sinar purnama di Gunung Padang (Dok Askara)

ASKARA - Purnama terakhir tahun 2026 akan hadir pada 24 Desember. Dikenal sebagai Cold Moon atau Bulan Dingin, fenomena ini diperkirakan menjadi purnama terbesar sekaligus supermoon terakhir sepanjang tahun. Momen istimewa ini dapat dinikmati sebagai ruang perenungan, terutama di tengah keheningan alam Teras 5 Situs Megalitikum Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat.

Puncak purnama secara astronomis terjadi pada 24 Desember 2026 pukul 01.28 UTC atau sekitar pukul 08.28 WIB. Namun, keindahan bulan yang tampak bulat sempurna dapat dinikmati sejak malam sebelumnya hingga malam setelah puncaknya. NASA juga mencatat 24 Desember sebagai salah satu peristiwa supermoon pada 2026.

Bagi pemerhati Gunung Padang, Kanjeng Yoga Hartantoro, purnama bukan sekadar fenomena alam yang indah dipandang. Dalam perspektif spiritual Jawa, bulan purnama dapat menjadi pengingat untuk berhenti sejenak, menengok perjalanan hidup, sekaligus membersihkan batin dari beban pikiran dan perasaan yang selama ini menumpuk.

Menurut Kanjeng Yoga, Teras 5 Gunung Padang menawarkan suasana yang tepat untuk menikmati purnama sekaligus melakukan refleksi diri. Di tengah keheningan alam dan bentang bebatuan megalitikum, seseorang dapat memberi ruang bagi dirinya untuk kembali mengenali siapa dirinya, apa yang telah dilakukan, dan ke mana langkah kehidupan akan diarahkan.

"Jangan hanya menikmati indahnya bulan purnama. Jadikan momen ini sebagai kesempatan untuk melihat ke dalam diri. Apa yang masih menyimpan amarah, iri hati, kesombongan, kekecewaan, atau penyesalan, perlahan kita lepaskan. Bersihkan batin agar kita memasuki tahun yang baru dengan hati lebih ringan dan pikiran lebih jernih," ungkap Kanjeng Yoga, Minggu (8/11/2026).

Dalam tradisi Jawa, pemahaman tentang weton juga dapat menjadi bagian dari perjalanan mengenali diri. Weton, yang merupakan perpaduan hari dan pasaran kelahiran, kerap digunakan sebagai sarana refleksi untuk memahami watak, kecenderungan, serta laku kehidupan menurut kepercayaan masyarakat Jawa.

Kanjeng Yoga menilai, momentum purnama dapat dimanfaatkan siapa saja, terutama mereka yang ingin memperdalam laku batin berdasarkan pemaknaan weton kelahirannya. Bagi pemilik weton Selasa Kliwon, misalnya, momen ini bisa dijadikan pengingat untuk lebih mengendalikan emosi, menjaga ucapan, menata niat, dan memperkuat kesadaran diri. Pemaknaan tersebut merupakan bagian dari tradisi dan refleksi pribadi, bukan kepastian tentang nasib seseorang.

Dalam filosofi Jawa, ada ungkapan eling lan waspada: selalu ingat kepada Sang Pencipta dan senantiasa mawas diri dalam menjalani kehidupan. Pembersihan batin tidak cukup dilakukan melalui doa atau ritual semata, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-hari, seperti memaafkan, mengurangi prasangka, menjaga alam, serta memperbaiki hubungan dengan sesama.

Karena itu, menikmati purnama di Teras 5 Gunung Padang dapat menjadi pengalaman yang lebih bermakna daripada sekadar menyaksikan keindahan langit malam. Kesunyian alam mengajak manusia mengurangi kebisingan di dalam pikirannya sendiri.

Menjelang akhir tahun, setiap orang tentu memiliki cerita: keberhasilan yang patut disyukuri, kegagalan yang perlu diterima, kehilangan yang harus diikhlaskan, serta harapan yang belum terwujud. Semua itu menjadi bagian dari perjalanan hidup yang layak direnungkan.

Bagi Kanjeng Yoga, purnama adalah pengingat bahwa manusia perlu sesekali berhenti mengejar sesuatu di luar dirinya untuk menemukan kembali ketenangan di dalam batin.

"Gunung mengajarkan keteguhan, alam mengajarkan keseimbangan, dan purnama mengingatkan kita untuk menerangi bagian diri yang masih gelap. Tidak perlu mencari kesempurnaan. Cukup berani mengakui kekurangan, memperbaiki diri, dan menjadi manusia yang lebih baik," tuturnya.

Pada akhirnya, purnama terbesar tahun 2026 bukan hanya tentang ukuran bulan atau keindahan cahaya yang menerangi malam. Lebih dari itu, ia dapat menjadi momentum untuk menutup tahun dengan rasa syukur, melepaskan beban masa lalu, dan menyambut hari-hari mendatang dengan hati yang bersih.

Di Teras 5 Gunung Padang, di bawah cahaya purnama, manusia diajak kembali pada satu perjalanan paling penting: perjalanan mengenali dan memperbaiki dirinya sendiri.

 

Editor: Caecilia Eersta