ASKARA - Setiap orang memiliki cerita perjuangan kesehatan yang berbeda. Ada yang berjuang menghadapi penyakit autoimun, kanker kandung kemih, miom, hingga gangguan lambung yang disertai keluhan pada dada dan pernapasan. Di balik setiap cerita, ada harapan untuk kembali menjalani kehidupan dengan lebih nyaman.
Empat pengalaman tersebut diceritakan Pieter Dasion, atau akrab disapa Om Piet, setelah bertemu sejumlah orang di tiga lokasi berbeda, yakni Warung Solo, Kemang, Kalibata, dan kawasan Cilandak.
Bagi Om Piet, pertemuan itu bukan sekadar kesempatan melakukan terapi pijat telapak tangan dan beberapa titik tubuh. Ada cerita, kecemasan, serta harapan yang dibagikan oleh orang-orang yang ditemuinya.
Cerita pertama datang dari Sri, perempuan berusia 57 tahun yang mengaku mengalami gangguan autoimun dengan keluhan pada lambung dan perut.
Menurut penuturannya kepada Om Piet, kondisinya membuat kegiatan sederhana seperti minum air putih terasa sulit karena sering disertai muntah. Ia harus minum sedikit demi sedikit.
Sri juga menyampaikan hasil pemeriksaan ANA (*Antinuclear Antibody*) yang disebutnya mencapai angka 256. Ia mengalami pembengkakan pada wajah yang membuatnya merasa semakin tidak nyaman.
Mereka bertemu di Warung Solo, Jakarta Selatan, pada Kamis lalu atas rekomendasi seorang teman.
Dalam sesi tersebut, Om Piet melakukan terapi pijat pada telapak tangan dan kemudian meminta Sri mencoba minum air putih dari botol mineral.
Awalnya Sri ragu. Namun, menurut kesaksian yang disampaikan kepada Om Piet, kali itu ia dapat minum dengan lebih nyaman tanpa muntah. Bahkan, ia menghabiskan hampir satu botol air mineral berukuran 600 mililiter.
Senyum pun terlihat di wajahnya.
Bagi Sri, pengalaman sederhana itu menjadi sesuatu yang patut disyukuri. Ia berharap kondisinya semakin membaik agar suatu hari dapat melakukan perjalanan ke Kanada untuk mengunjungi anaknya yang sedang kuliah di sana.
Cerita kedua datang dari Ati, perempuan berusia sekitar 60 tahun yang mengaku telah lama berjuang menghadapi kanker kandung kemih stadium tiga.
Pertemuan berlangsung di Kalibata, dalam sebuah kegiatan yang dihadiri sekitar 20 orang lanjut usia dengan beragam keluhan kesehatan.
Ati bercerita bahwa sekitar dua minggu setelah menjalani terapi bersama Om Piet, ia sempat mengalami perdarahan melalui urine. Menurut pengakuannya, darah yang keluar cukup banyak dan kental, tetapi kejadian itu hanya berlangsung sekali. Setelahnya, kondisi urine kembali seperti biasa.
Pengalaman tersebut tentu menimbulkan pertanyaan dan kekhawatiran. Namun, Om Piet tidak ingin terburu-buru menyimpulkan penyebab perdarahan tersebut.
Ia justru mengingatkan Ati agar menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan USG dari dokter untuk mengetahui kondisi sebenarnya.
Bagi pasien kanker kandung kemih, perdarahan dalam urine merupakan gejala yang harus segera dikonsultasikan kepada dokter. Perubahan gejala tidak dapat dijadikan bukti bahwa massa kanker telah pecah, mengecil, atau mengalami perbaikan.
Masih di Kalibata, Om Piet bertemu seorang perempuan berusia 67 tahun yang mengeluhkan adanya banyak miom berukuran kecil di rahimnya.
Perempuan tersebut mengaku mengalami kesulitan tidur dan pernah mendapat saran untuk mengonsumsi obat hormon progesteron. Setelah menjalani pemeriksaan USG, ia mengetahui terdapat sejumlah miom.
Mendengar cerita itu, Om Piet menyarankan agar perempuan tersebut berkonsultasi kembali dengan dokter spesialis kandungan. Ia juga menyampaikan kemungkinan mencari pendapat medis kedua agar mendapatkan penjelasan dan pilihan penanganan yang tepat.
Om Piet kemudian melanjutkan terapi pijat yang sebelumnya telah dilakukan beberapa kali.
Namun, ia memahami bahwa kondisi miom harus dinilai melalui pemeriksaan medis, termasuk USG dan konsultasi dengan dokter. Penggunaan hormon maupun obat-obatan harus mengikuti indikasi dan pengawasan tenaga medis, bukan dihentikan atau diubah berdasarkan dugaan semata.
Cerita keempat datang dari seorang pria lanjut usia yang akrab disapa Opung. Ia dikenal aktif dan gemar bermain golf.
Pada Rabu lalu, Opung berangkat dari rumahnya di Bintaro menuju kawasan Bogor untuk bermain golf. Sebelum berangkat, ia membuat kopi instan yang dicampur jahe dan gula aren, lalu membawanya dalam tumbler.
Setelah bermain hingga sekitar pukul 14.00, Opung melakukan perjalanan pulang. Namun, di tengah perjalanan, ia mengalami sesak napas dan nyeri dada.
Sopir yang mengantarnya segera membawa Opung ke sebuah rumah sakit swasta di kawasan Bintaro.
Menurut cerita yang diterima Om Piet, pemeriksaan awal mencakup pemeriksaan lambung dan rekam jantung atau EKG. Hasil EKG saat itu disebut normal, sementara keluhannya diduga berkaitan dengan gangguan lambung atau GERD.
Om Piet kemudian memberikan terapi kepada Opung ketika bertemu di Cilandak pada malam harinya.
Meski demikian, keluhan sesak napas dan nyeri dada tidak boleh dianggap semata-mata sebagai gangguan lambung. Hasil EKG yang normal pada satu pemeriksaan juga tidak selalu menyingkirkan kemungkinan gangguan jantung. Jika gejala muncul kembali, pasien perlu segera mendapatkan evaluasi medis.
Dari empat cerita tersebut, Om Piet mengajak masyarakat lebih memperhatikan kondisi tubuh, pola makan, kebiasaan minum, serta reaksi tubuh terhadap makanan dan minuman.
Ia juga mengingatkan agar penggunaan obat, khususnya obat hormonal, dilakukan sesuai petunjuk dokter.
Om Piet telah menekuni terapi akupresur sejak 2011. Lulusan Teknik Universitas Indonesia dan pensiunan Kompas Gramedia Group itu menyebut pendekatannya sebagai ikhtiar pendamping bagi orang-orang yang datang meminta bantuan.
Namun, pengalaman seseorang setelah menjalani terapi tidak otomatis membuktikan adanya hubungan sebab-akibat. Pemeriksaan laboratorium, USG, pencitraan, dan evaluasi dokter tetap menjadi dasar untuk menilai perkembangan penyakit.
Autoimun, kanker kandung kemih, miom, serta keluhan jantung dan pencernaan memiliki karakteristik dan penanganan yang berbeda. Karena itu, pasien tetap perlu menjalani pengobatan dan kontrol sesuai arahan dokter.
Pada akhirnya, empat cerita tersebut memperlihatkan satu hal: ketika seseorang menghadapi penyakit, dukungan, kepedulian, dan perhatian dari orang-orang di sekitarnya sangat berarti.
Bagi Om Piet, berbagi bukan hanya tentang memberikan bantuan, tetapi juga mendengarkan cerita dan menguatkan mereka yang sedang berjuang.
Sebab, kesehatan adalah anugerah yang perlu dijaga. Dan ketika sakit datang, harapan harus berjalan bersama ikhtiar, doa, serta penanganan medis yang tepat.