ASKARA - Ada perjalanan panjang di balik langkah kaki yang kembali tegap. Bagi Om Eman, seorang pria berusia 63 tahun yang pernah menjalani operasi otak akibat Arteriovenous Malformation (AVM), bisa berjalan normal dan menaiki ratusan anak tangga menjadi pengalaman yang sangat berarti.
Setelah bertahun-tahun berjuang memulihkan kemampuan bicara dan gerak tubuhnya, Om Eman akhirnya kembali mengikuti perjalanan ziarah ke Gua Maria di Kuningan, Jawa Barat. Bahkan, menurut kesaksian istrinya, ia mampu menaiki tangga dengan cepat tanpa terlihat kelelahan.
Kisah ini diceritakan Pieter Dasion, yang akrab disapa Om Piet. Pertemuannya dengan Om Eman bermula pada Kamis, 15 Oktober 2026, di Warung Solo, Kemang, Jakarta Selatan. Saat itu, Om Eman datang bersama istrinya setelah diajak seorang sahabat dari lingkungan gereja yang mengetahui kondisi kesehatannya.
Om Eman harus digandeng dan dipapah istrinya ketika memasuki ruangan tempat terapi. Cara bicaranya masih terdengar kurang jelas, sementara langkahnya pelan dan terasa berat. Kondisi tersebut menjadi bagian dari perjuangan panjang yang dijalaninya sejak mengalami gangguan akibat AVM.
AVM merupakan kelainan pembuluh darah ketika arteri dan vena terhubung secara tidak normal tanpa melalui jaringan kapiler sebagaimana mestinya. Kondisi ini dapat menimbulkan risiko serius, termasuk perdarahan di otak. Penanganannya memerlukan pemeriksaan dan tindakan medis khusus.
Menurut cerita keluarga, Om Eman telah menjalani tiga kali proses tindakan medis di sebuah rumah sakit di kawasan Karawaci sekitar empat tahun sebelumnya. Meski operasi telah dilakukan, sejumlah fungsi tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Kemampuan bicara dan motoriknya masih terganggu sehingga aktivitas sehari-hari menjadi terbatas.
Sebelum sakit, Om Eman dikenal aktif. Ia memiliki hobi bermain golf dan pernah melakukan perjalanan ke sejumlah daerah, termasuk Pulau Bintan. Kini, kenangan tentang masa-masa ketika ia masih leluasa bergerak menjadi salah satu harapan yang ingin kembali diraihnya.
Pertemuan dengan Om Piet menjadi salah satu ikhtiar tambahan yang dicoba keluarga. Terapi yang dilakukan Om Piet berupa pijatan pada telapak tangan serta beberapa bagian kaki. Dalam sesi pertama, Om Eman terlihat menahan rasa sakit ketika menjalani pijatan tersebut.
Om Piet mengaku menggunakan pendekatan yang ia sebut sebagai stimulasi pada titik-titik tertentu. Ia mengibaratkan proses pemulihan seperti mesin yang perlu diperiksa dan disetel kembali. Namun, analogi tersebut merupakan pemahaman pribadi Om Piet dan bukan penjelasan medis mengenai pemulihan fungsi otak.
Seminggu kemudian, pada Kamis, 22 Oktober 2026, mereka kembali bertemu. Kali ini, Om Piet mendapatkan kabar yang membuatnya terharu dari istri Om Eman.
Sang istri bercerita bahwa suaminya telah mengikuti perjalanan ziarah ke Gua Maria Kuningan. Perjalanan itu menjadi pengalaman istimewa karena Om Eman mampu berjalan lebih cepat dan menaiki tangga tanpa banyak kesulitan.
Gua Maria Kuningan dikenal dengan jalur tangganya yang panjang. Dalam catatan Om Piet, jumlah anak tangga yang harus dilalui mencapai 464 buah. Bagi sebagian orang lanjut usia, perjalanan tersebut tentu membutuhkan tenaga dan persiapan fisik.
Bahkan, sebelum rombongan berangkat, istri Om Eman sempat berpesan kepada sopir bus agar bersedia menurunkan mereka di perjalanan apabila suaminya mengalami kesulitan. Ia tidak ingin kondisi Om Eman mengganggu perjalanan rombongan.
Namun, kenyataan yang kemudian mereka alami justru membuat keluarga dan peserta ziarah terkejut. Menurut kesaksian istrinya, Om Eman mampu melewati perjalanan tersebut dengan baik, bahkan terlihat lebih kuat dibandingkan beberapa peserta lansia lainnya.
“Puji Tuhan,” demikian ungkapan syukur yang mewarnai cerita tersebut.
Pada Jumat (30/10/2026), Om Piet kembali bertemu Om Eman di rumahnya. Dalam kesempatan itu, sang istri memperlihatkan foto-foto lama ketika suaminya masih aktif bekerja dan bermain golf bersama teman-temannya.
Foto-foto tersebut seolah membuka kembali kenangan tentang kehidupan yang pernah dijalani Om Eman sebelum sakit. Om Piet pun sempat bergurau, kapan ia bisa kembali bermain golf, mungkin ke Bintan atau Natuna.
Bagi Om Piet, cerita Om Eman bukan sekadar pengalaman terapi. Ada perjuangan seorang suami, kesetiaan seorang istri yang terus mendampingi, serta harapan keluarga untuk melihat orang yang mereka cintai kembali menikmati hidup.
Sang istri bahkan mengirimkan pesan kepada Om Piet setelah membaca kisah yang dituliskannya. Dengan penuh haru, ia menyampaikan terima kasih dan mengingatkan bahwa suaminya mengalami stroke akibat AVM ketika berusia 63 tahun. Ia juga membenarkan bahwa Pulau Bintan merupakan salah satu tempat yang pernah menjadi tujuan bermain golf suaminya.
Meski demikian, pengalaman yang disampaikan keluarga tersebut merupakan kesaksian pribadi. Perubahan kemampuan berjalan dan berbicara setelah tindakan medis maupun terapi perlu dinilai oleh dokter yang menangani. Terapi pijat tidak dapat menggantikan rehabilitasi neurologis, pemeriksaan, dan pengobatan medis bagi pasien pascaoperasi AVM.
Di balik cerita ini, ada pesan sederhana tentang arti mendampingi seseorang dalam masa sulit. Pemulihan tidak selalu berjalan cepat. Ada proses panjang, kesabaran, dukungan keluarga, dan doa yang terus menyertai.
Bagi Om Eman, langkah menaiki ratusan anak tangga di Gua Maria Kuningan menjadi pengalaman yang membekas. Bagi istrinya, itu adalah momen penuh syukur setelah bertahun-tahun menyaksikan perjuangan sang suami.
Dan bagi Om Piet, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa berbagi kepedulian dan memberi semangat kepada sesama merupakan bagian penting dari kehidupan.
Sebab, terkadang yang paling dibutuhkan seseorang dalam perjalanan panjang menghadapi sakit bukan hanya pertolongan, tetapi juga keyakinan bahwa ia tidak berjalan sendirian.