Akar Spiritual Nusantara
Sri Eko Sriyanto Galgendu Tegaskan Makna Rah A Yu
ASKARA - Di tengah derasnya arus modernisasi dan penyederhanaan makna, bangsa ini kerap lupa bahwa kata bukan sekadar alat komunikasi. Kata adalah penanda kesadaran, jejak peradaban, bahkan medium spiritual. Inilah yang diingatkan oleh praktisi spiritual Nusantara, Sri Eko Sriyanto Galgendu, melalui penjelasannya tentang makna Rah A Yu.
Menurut Eko Galgendu, Rah A Yu bukan sekadar istilah, melainkan simbol darah dan turunan yang mengedepankan karya, laku hidup, serta tanggung jawab spiritual. Ia adalah identitas yang menghubungkan manusia dengan asal-usulnya, dengan tanah, dan dengan kesadaran leluhur. Ketika Rah A Yu berubah menjadi Rahayu, yang kini dimaknai sebatas “selamat”, terjadi penyempitan makna yang tidak bisa dianggap sepele.
"Arti Rah A Yu: Darah, turunan yang A Yu : Darah, turunan yang mengedepankan Karya," katanya.
Perubahan kata, kata Eko, bukan sekadar perubahan bunyi. Ia adalah perubahan daya. Dalam tradisi spiritual, sebuah rangkaian kata bisa menjadi doa, paritta, atau mantra. Maka keaslian huruf dan susunan kata menentukan kekuatan maknanya. Ketika kata dilonggarkan dari akar asalnya, kesadarannya pun ikut memudar.
Lebih jauh, Eko Galgendu mengaitkan Rah A Yu dengan keberadaan Bangsa Spiritual, atau yang ia sebut sebagai Bangsa Lama, peradaban tua yang telah hidup jauh sebelum peradaban besar dunia lainnya dikenal. Bangsa Lama itu adalah Bangsa Nu Sa Na Ta Ra, Nusantara, yang menurutnya memiliki akar spiritual lebih tua dari bangsa Tibet.
Pandangan ini tidak lahir dari ruang kosong. Eko Galgendu dikenal sebagai praktisi spiritual yang memiliki talenta memahami bahasa bhumi, bahasa kesadaran bumi yang diyakini menyimpan pengetahuan purba Nusantara. Dari pemahaman itu, ia menyusun sebuah karya spiritual berjudul Kitab Ma Ha Is Ma Ya, sebagai upaya merangkum kesadaran, bahasa, dan nilai luhur Nusantara dalam satu laku pengetahuan.
Di titik inilah refleksi menjadi penting. Ketika bangsa ini terus bergerak maju secara teknologi dan ekonomi, pertanyaannya: apakah kita masih berjalan bersama kesadaran asal-usul? Apakah kita masih menjaga kata, makna, dan nilai yang membentuk jati diri?
Menjaga kata bukan nostalgia. Ia adalah strategi kebudayaan. Sebab, seperti diingatkan Eko Galgendu, ketika kata dijaga, kesadaran ikut terjaga. Dan ketika kesadaran terjaga, masa depan bangsa tidak kehilangan arah.

Komentar