Saatnya Indonesia Jadi Pelopor Diplomasi Spiritual di Dunia Internasional
ASKARA - Tokoh spiritual Nusantara, Sri Eko Sriyanto Galgendu, menegaskan bahwa manusia bukan sekadar penghuni bumi, melainkan wakil Tuhan yang memikul amanah besar: menjaga kehidupan, merawat alam, dan menegakkan keadilan bagi seluruh makhluk.
Menurut Sri Eko, krisis lingkungan yang terjadi di banyak tempat hari ini bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan kesadaran spiritual. Kerusakan hutan, pencemaran sungai, hilangnya ruang hidup satwa, hingga bencana banjir dan longsor, dinilai menjadi tanda bahwa hubungan manusia dengan alam sedang mengalami keretakan.
“Ketika manusia memandang alam hanya sebagai objek eksploitasi, maka yang rusak bukan hanya bumi, tetapi juga batin manusia,” ujar Sri Eko, Rabu (11/2).
Ia menjelaskan, salah satu pendekatan yang penting untuk membangun kembali hubungan manusia dengan alam adalah melalui ekoteologi. Dalam pandangannya, ekoteologi adalah cara memaknai ajaran agama dan nilai-nilai ketuhanan dalam konteks lingkungan hidup, sehingga manusia tidak hanya rajin beribadah secara ritual, tetapi juga bertanggung jawab terhadap alam sebagai ciptaan Tuhan.
Sri Eko menekankan, ekoteologi bukan sekadar konsep akademik. Ia merupakan wujud nyata dari upaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kebutuhan alam.
“Manusia boleh membangun, boleh memanfaatkan alam, tetapi harus tetap adil. Alam tidak boleh diperas habis. Ada hak bumi yang harus dihormati,” katanya.
Lebih jauh, Sri Eko menilai ekoteologi juga terkait erat dengan etika lingkungan. Ia menyebut bahwa seluruh makhluk hidup memiliki posisi yang setara di hadapan kehidupan. Karena itu, manusia wajib menjaga sikap adil dan tidak merasa sebagai penguasa mutlak bumi.
Dalam konteks Indonesia, Sri Eko memandang ekoteologi bisa menjadi jalan untuk membumikan ajaran agama secara lebih relevan dengan persoalan zaman. Ia menyebut bahwa menjaga alam sama pentingnya dengan menjaga kualitas batin.
“Kalau tanah kering dan gersang, kita sedih. Tetapi kalau jiwa manusia kering dan gersang, itu lebih berbahaya. Karena dari batin yang gersang itulah lahir kerakusan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kesadaran spiritual yang kuat akan melahirkan tanggung jawab sosial. Dari sana akan tumbuh sikap gotong royong, kesadaran menjaga kebersihan, serta kepedulian untuk melindungi air, udara, dan tanah.
Dorong Diplomasi Spiritual Global
Sri Eko Sriyanto Galgendu juga mendorong agar Indonesia mulai serius mengembangkan diplomasi spiritual global. Menurutnya, dunia saat ini sedang mengalami krisis bukan hanya dalam ekonomi dan politik, tetapi juga krisis makna dan krisis nilai.
Di tengah situasi itu, Indonesia dinilai memiliki modal besar: tradisi spiritual Timur, kearifan lokal, serta warisan budaya yang kaya dan berakar.
Sri Eko mengatakan diplomasi spiritual dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan nilai luhur Nusantara ke dunia internasional, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam pergaulan global.
“Diplomasi spiritual bukan untuk menonjolkan satu agama atau satu keyakinan. Ini tentang memperkenalkan nilai kebijaksanaan, harmoni, dan penghormatan pada kehidupan,” tegasnya.
Menurutnya, diplomasi spiritual global dapat menjadi kekuatan lunak (soft power) Indonesia untuk tampil sebagai bangsa yang tidak hanya kuat secara ekonomi dan politik, tetapi juga memiliki kedalaman nilai, karakter, dan kebijaksanaan.
Sri Eko menilai, jika Indonesia mampu membawa pesan spiritualitas yang damai dan ramah lingkungan ke tingkat dunia, maka Indonesia dapat menjadi rujukan moral dalam membangun peradaban yang lebih adil, lebih seimbang, dan lebih manusiawi.
“Kalau bangsa ini ingin dihormati, bukan hanya infrastrukturnya yang harus dibangun. Tapi juga jiwanya. Dan ekoteologi adalah salah satu pintu untuk membangun jiwa itu,” pungkasnya.

Komentar