Selasa, 21 Juli 2026 | 22:56
NEWS

Sri Eko Galgendu Persembahkan Doa Bhumi Untuk Kardinal Ignatius Suharyo

Sri Eko Galgendu Persembahkan Doa Bhumi Untuk Kardinal Ignatius Suharyo
Sri Eko Sriyanto Galgendu tengah memberikan Kitab Ma Ha Is Ma Ya kepada Kardinal Suharyo di Aula Grha Pemuda Katedral Jakarta (Dok Askara)

ASKARA - Tokoh spiritual Indonesia Sri Eko Sriyanto Galgendu menuliskan refleksi batin yang mendalam tentang sosok Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo, Uskup Agung Jakarta, dalam karya spiritualnya yang berjudul Ma Ha Is Ma Ya. Tulisan tersebut menjadi bagian dari rangkaian "Ayat-Ayat Bhuwana," yang disusun dari bahasa simbolik yang ia sebut sebagai bahasa Bhumi.

Dalam pengantar kitab tersebut, Sri Eko menjelaskan, Ma Ha Is Ma Ya lahir dari perjalanan spiritual yang panjang dan proses perenungan yang mendalam. Ia menegaskan bahwa kitab itu bukan sekadar karya sastra atau tafsir intelektual, melainkan hasil dari pengalaman batin yang ia tangkap dari perjalanan hidup, perjumpaan dengan berbagai tokoh bangsa, serta kontemplasi terhadap realitas kehidupan.

Sri Eko menyebut bahasa Bhumi sebagai bahasa simbolik yang memuat pesan spiritual tentang hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan tanah airnya. Melalui bahasa tersebut, ia merangkai rapalan atau paritta yang kemudian diterjemahkan menjadi Ayat-Ayat Bhuwana.

Salah satu bagian penting dalam kitab tersebut dipersembahkan kepada Kardinal Ignatius Suharyo dengan tema "Gembala Cinta dan Kasih." Bagi Sri Eko, sosok pemimpin rohani tidak sekadar menjalankan fungsi keagamaan, tetapi juga mengemban tanggung jawab moral yang luas terhadap kehidupan umat dan masyarakat.

Tulisan itu diawali dengan rapalan bahasa Bhumi yang sarat simbol dari sosok Kardinal Suharyo:

"MU RA LA HA NA MA HA RA HA NA MU HA KA RA NARU
AJA NA TA RA MA HA KA RA NA RA HA JA NA TA MU SA
HA MA HA RA HA NA JA TU HA MU RA KA TU."

Menurut penafsiran Sri Eko, rapalan tersebut menggambarkan perjalanan batin seorang gembala umat yang harus memegang kesetiaan, janji, pengorbanan, dan tanggung jawab dalam menjalankan panggilan iman.

Dalam refleksi tersebut, Sri Eko menggambarkan sosok pemimpin rohani sebagai pribadi yang berjalan di antara berbagai perubahan zaman, namun tetap berakar pada nilai cinta kasih dan tanggung jawab spiritual.

Ia mendeskripsikan, Kardinal sebagai seorang gembala umat yang pada hakikatnya adalah penjaga harapan manusia, mereka yang memikul amanah untuk menjaga iman, menguatkan kehidupan rohani umat, serta menuntun manusia memahami kebesaran Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Sri Eko juga menuliskan doa kontemplatif yang menggambarkan relasi manusia dengan Tuhan sebagai "Bapa dari segala Bapa," sumber kasih dan penggembala kehidupan.

Dalam bagian tersebut ia menuliskan, manusia, termasuk para pemimpin rohani, memiliki keterbatasan dalam memahami sepenuhnya makna kehendak Tuhan. Namun justru dalam keterbatasan itulah lahir kerendahan hati untuk terus belajar memahami tanggung jawab kehidupan.

Ia menekankan, kepemimpinan spiritual sejati tidak hanya menyentuh wilayah keagamaan semata, tetapi juga memiliki dimensi kebangsaan dan kemanusiaan.

"Seorang pemimpin iman memikul tanggung jawab bukan hanya kepada umatnya, tetapi juga kepada masyarakat, bangsa, dan negara," tulis Sri Eko dalam refleksinya.

Baginya, perjalanan seorang gembala umat tidak pernah mudah, karena setiap peristiwa kehidupan selalu membawa ujian yang menguji kesetiaan dan integritas iman.

Pada bagian akhir refleksinya, Sri Eko mengajak manusia untuk kembali pada inti spiritualitas, penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Dalam kepasrahan itu, manusia belajar memahami makna tanggung jawab hidup, pilihan moral, dan jalan iman yang harus ditempuh.

Refleksi tersebut ditutup dengan pengakuan iman yang sederhana namun sarat makna.

"Allah, Ya Tuhanku, aku hanya bersaksi dan berkeyakinan kepada-Mu, karena Engkaulah jalan kehidupan, Engkaulah jalan hidup, Engkaulah jalan kesetiaan, dan Engkaulah jalan iman."

Melalui tulisan dalam Ma Ha Is Ma Ya, Sri Eko menegaskan bahwa spiritualitas bukanlah ruang pelarian dari realitas dunia. Sebaliknya, spiritualitas adalah jalan untuk memahami kehidupan secara lebih jernih, menghubungkan manusia dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan tanggung jawabnya terhadap kehidupan.

 

 

Komentar