Alam Rusak Parah, Tokoh Spiritual dan Tokoh Agama Serukan Tobat Nasional
ASKARA - Krisis lingkungan yang terus berulang dinilai bukan sekadar persoalan teknis, melainkan tanda kegagalan manusia menjaga relasi dengan alam dan Tuhan. Pandangan ini disuarakan tokoh spiritual Nusantara Sri Eko Sriyanto Galgendu dan Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo melalui perspektif yang berbeda, namun bertemu pada pesan yang sama, perlunya tobat ekologis sebagai gerakan bersama bangsa.
Sri Eko Sriyanto Galgendu menjelaskan, dalam kearifan spiritual Nusantara, hubungan antara makrokosmos (buwana besar) dan mikrokosmos (buwana kecil) bersifat menyatu. Alam semesta bukan benda mati, melainkan perantara nyata cinta kasih Tuhan yang memungkinkan manusia hidup dan berkembang.
"Ketika manusia memperlakukan alam semaunya, sesungguhnya ia juga sedang belajar memperlakukan manusia lain dengan cara yang sama. Karena warisan untuk anak cucu telah dirampas," ujarnya, Kamis (29/1).
Pandangan tersebut sejalan dengan pesan ensiklik Laudato Si' yang kerap ditegaskan Kardinal Ignatius Suharyo. Dalam berbagai kesempatan, Kardinal Suharyo menyebut krisis ekologis sebagai panggilan untuk tobat nasional, sebuah perubahan mendasar dalam cara berpikir, bertindak, dan mengambil kebijakan terhadap alam.
Menurut Kardinal Suharyo, Laudato Si' mengingatkan, bumi adalah rumah bersama yang rusak bukan karena takdir, melainkan akibat pilihan manusia. Karena itu, pertobatan ekologis tidak cukup berhenti pada imbauan moral, tetapi harus menjelma menjadi perubahan gaya hidup, arah pembangunan, dan kebijakan publik.
Keduanya menegaskan, kerusakan alam selalu berdampak paling berat pada masyarakat kecil. Banjir, longsor, dan krisis pangan bukan hanya bencana alam, tetapi juga bencana kemanusiaan yang lahir dari hilangnya keseimbangan antara manusia dan ciptaan.
Sri Eko menilai, menjaga harmoni alam adalah bentuk rasa terima kasih manusia kepada Tuhan atas ruang hidup yang dianugerahkan. Sementara Kardinal Suharyo menekankan bahwa iman harus terlibat aktif dalam upaya penyelamatan lingkungan, berdampingan dengan ilmu pengetahuan dan kebijakan negara.
Seruan dari dua latar spiritual ini memperlihatkan bahwa krisis ekologis telah melampaui sekat agama dan budaya. Tanpa kesadaran bersama dan keberanian untuk bertobat secara kolektif, bangsa ini berisiko terus mengulang kesalahan yang sama, merusak alam, lalu menanggung akibatnya bersama.

Komentar