Jembatan Garuda Linge Rampung, Kolaborasi TNI dan Warga Bangkitkan Harapan Pascabencana
ASKARA - Semangat gotong royong antara TNI, pemerintah, dan masyarakat kembali membuahkan hasil. Setelah dikerjakan selama hampir empat bulan, Jembatan Perintis Garuda Tahap III di Desa Reje Payung, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, kini rampung 100 persen dan siap diresmikan pada Senin (3/8/2026).
Jembatan yang dibangun sejak 6 April 2026 itu menjadi simbol bangkitnya masyarakat di wilayah terdampak bencana sekaligus membuka kembali akses vital bagi ratusan warga yang selama ini terisolasi.
Pembangunan jembatan merupakan hasil kolaborasi Kodim 0106/Aceh Tengah, Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh Kementerian Dalam Negeri, Pemerintah Daerah, serta masyarakat setempat.
Sebelum jembatan berdiri, warga Desa Reje Payung dan Desa Jamat harus mempertaruhkan keselamatan saat menyeberangi sungai menggunakan tali sling. Kondisi tersebut sempat menjadi perhatian nasional setelah video anak-anak sekolah yang menyeberang dengan cara berbahaya viral di media sosial.
Kini, jembatan baja sepanjang 110 meter dengan lebar 1,2 meter dan daya dukung hingga satu ton telah berdiri kokoh di atas hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Jambo Aye, menghubungkan dua desa di Kemukiman Jamat.
Komandan Kodim 0106/Aceh Tengah, Letkol Czi Rudy Haryanto, mengatakan pembangunan jembatan merupakan wujud nyata pengabdian TNI kepada masyarakat.
"Ini adalah bukti nyata kehadiran TNI untuk rakyat. Kami tidak hanya menjaga, tetapi juga membangun. Jembatan ini menjadi komitmen kami untuk memastikan masyarakat di pelosok dapat hidup lebih aman dan sejahtera," ujarnya.
Pembangunan jembatan melibatkan 12 personel Yonzipur TP 854/Dharaka Yudha, anggota Koramil 05/Linge, serta masyarakat setempat. Selama proses pembangunan digunakan sekitar 100 batang besi, 320 sak semen, dan puluhan truk material yang diangkut secara bertahap menuju lokasi.
Keberadaan jembatan tersebut kini menjadi akses utama bagi 745 jiwa, terdiri atas 97 kepala keluarga di Desa Reje Payung dan 131 kepala keluarga di Desa Jamat. Selain itu, ratusan siswa SD Negeri 10 Linge kini dapat berangkat ke sekolah dengan lebih aman tanpa harus mempertaruhkan nyawa saat menyeberangi sungai.
Tenaga Ahli Kementerian Dalam Negeri pada Satgas Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh, Zam Zam Mubarak, menyebut keberhasilan pembangunan jembatan menjadi contoh sinergi yang baik dalam percepatan pemulihan wilayah pascabencana.
"Keberhasilan ini menunjukkan negara hadir hingga ke desa-desa terpencil. Kolaborasi TNI, masyarakat, dan Satgas Rehab Rekon menjadi praktik baik dalam mempercepat pembangunan di wilayah terdampak bencana," katanya.
Apresiasi juga disampaikan Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri sekaligus Kepala Posko Wilayah Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh, Dr. Safrizal ZA. Menurutnya, selesainya pembangunan Jembatan Perintis Garuda Linge menjadi bukti bahwa kerja sama lintas sektor mampu mempercepat pemulihan infrastruktur bagi masyarakat.
"Ini bukti kolaborasi TNI dan masyarakat. Semoga semangat ini menjadi pemicu percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi di seluruh wilayah Aceh," ujarnya.
Di balik kokohnya konstruksi baja tersebut, masyarakat Gayo memaknainya lebih dari sekadar penghubung dua wilayah. Jembatan itu menjadi simbol bangkitnya harapan baru di tanah Linge, kawasan bersejarah yang dikenal sebagai bagian dari warisan Kerajaan Linge dan identik dengan filosofi Gajah Putih, lambang kekuatan, persatuan, dan peradaban yang kini diwujudkan melalui pembangunan untuk kesejahteraan rakyat.

Komentar