Rabu, 17 Juni 2026 | 18:36
OPINI

K A J I A N P R O G R A M

Nutrisi Berbasis Kearifan Lokal melalui Pemberdayaan Perempuan

Nutrisi Berbasis Kearifan Lokal melalui Pemberdayaan Perempuan
Bahan nutrisi (Dok Pixabay)

Nutrisi Berbasis Kearifan Lokal melalui Pemberdayaan Perempuan

Oleh : Novita sari yahya 

ASKARA - Saya kembali tertegun ketika membaca sebuah artikel tentang praktik pendidikan di Cina yang membiasakan para pelajar untuk menanam. Aktivitas sederhana itu ternyata tidak hanya melatih kedisiplinan, tetapi juga membentuk hubungan yang lebih dekat antara generasi muda dan tanah yang memberi mereka hidup. Praktik itu mengingatkan saya pada sebuah kajian yang saya tulis pada tahun 2018, berjudul Kajian Program Nutrisi Berbasis Kearifan Lokal melalui Pemberdayaan Perempuan. Kajian tersebut saya susun atas permintaan Ketua Serikat Buruh Bersatu Riau, yang saat itu menilai perlunya rumusan program pangan dan gizi yang dapat menjadi pegangan bagi keluarga pekerja. Kini, setelah beberapa tahun berlalu, saya merasa kajian tersebut justru semakin relevan untuk menjawab persoalan pangan, kemiskinan, serta kerusakan lingkungan yang dihadapi Indonesia hari ini.

Indonesia adalah negara yang dianugerahi sumber daya alam melimpah, namun kenyataannya persoalan gizi masih menghantui banyak daerah. Stunting, kekurangan gizi, ketimpangan akses pangan, dan naiknya harga kebutuhan pokok menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi. Pemerintah menjalankan berbagai program, termasuk pemberian bantuan sosial, edukasi gizi, serta intervensi kesehatan. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa keberhasilan suatu program tidak hanya bergantung pada kebijakan, melainkan juga pada keterlibatan masyarakat terutama perempuan sebagai pengelola pangan di banyak rumah tangga.

Kajian tahun 2018 itu lahir dari kekhawatiran serikat buruh. Banyak anggota mereka yang hidup dalam keterbatasan ekonomi; pendapatan tidak sebanding dengan kebutuhan hidup semakin tinggi. Harga pangan pokok naik, sementara kesempatan untuk meningkatkan pendapatan tidak selalu terbuka lebar. Dalam situasi seperti itu, urusan makanan bagi keluarga sering kali hanya mengejar kenyang, bukan kualitas gizi. Upaya menunda belanja bahan segar, mengganti sayur dengan mie instan, atau mengurangi porsi protein menjadi pilihan sehari-hari yang terpaksa dilakukan.

Padahal, perempuan di banyak komunitas Indonesia memiliki modal kultural yang kuat dalam mengelola pangan keluarga. Pengetahuan memasak tradisional, kebiasaan mengolah hasil pekarangan, kemampuan meracik bahan lokal, hingga keterampilan bertani skala kecil merupakan warisan turun-temurun. Sayangnya, warisan itu perlahan tergerus oleh gaya hidup modern yang serba instan dan tergantung pada produk pasar.

Oleh sebab itu, kajian tersebut menekankan pentingnya menghidupkan kembali pengetahuan lokal dan memadukannya dengan intervensi modern yang tepat sasaran. Kearifan lokal tidak diposisikan sebagai romantisme masa lalu, tetapi sebagai fondasi kuat untuk membangun kemandirian pangan keluarga.

1. Perempuan sebagai Penopang Ketahanan Pangan Rumah Tangga

Dalam banyak keluarga, perempuan memegang peran sentral dalam mengelola keuangan, menyiapkan makanan, hingga menentukan pilihan konsumsi. Ketika pendapatan keluarga menurun atau harga pangan naik, merekalah yang pertama kali menyesuaikan menu agar kebutuhan tetap terpenuhi. Pada situasi krisis ekonomi, perempuan sering memilih mengurangi porsi makan dirinya sendiri demi anak-anaknya.

Karena itu, pemberdayaan perempuan dalam bidang pangan bukan sekadar pendekatan berbasis gender, tetapi bagian dari strategi ketahanan pangan nasional. Ketika perempuan memiliki pengetahuan gizi yang memadai serta akses terhadap sumber pangan lokal, mereka mampu mengubah pola konsumsi keluarga tanpa mengorbankan kesehatan.

Dalam konteks ini, budaya menanam menjadi salah satu solusi yang paling sederhana, murah, dan cepat berdampak. Melalui pemanfaatan pekarangan, pot, atau lahan kecil di sekitar rumah, banyak keluarga dapat menanam sayuran seperti kangkung, bayam, cabai, tomat, atau tanaman obat keluarga. Hasilnya tidak hanya mengurangi biaya belanja, tetapi juga meningkatkan kualitas makanan keluarga.

2. Kearifan Lokal dan Pentingnya Pekarangan Keluarga

Sejak dahulu, masyarakat Indonesia memiliki tradisi memanfaatkan pekarangan sebagai sumber pangan. Konsep ini dikenal sebagai tumpangsari, kebun campur, atau homegarden dalam berbagai daerah. Pekarangan bukan hanya tempat menanam tanaman pangan, tetapi juga ruang interaksi sosial. Anak-anak belajar mengenal alam, sementara keluarga dapat memanen bahan segar setiap hari.

Namun dalam dua dekade terakhir, tradisi ini semakin memudar. Perubahan tata ruang, migrasi, dan perkembangan perumahan modern membuat banyak keluarga kehilangan akses terhadap lahan kecil yang dulu menjadi ruang pangan. Menghidupkan kembali tradisi ini memerlukan dua hal: edukasi dan fasilitas.

Edukasi mencakup pemahaman mengenai tanaman apa yang cocok untuk ditanam di lahan terbatas, teknik penanaman sederhana, dan pengolahan sayuran menjadi makanan yang bergizi. Sementara fasilitas dapat berupa bibit, polybag, kompos, atau peralatan tanam sederhana. Ketika kedua aspek ini berjalan bersama, keluarga dapat merasakan manfaat langsung hanya dalam waktu beberapa minggu.

3. Pemberdayaan di Tingkat Komunitas

Program pemberdayaan perempuan yang efektif biasanya berangkat dari tingkat komunitas. Melalui kelompok ibu-ibu, posyandu, kelompok tani wanita, hingga perkumpulan majelis taklim, pembelajaran dapat berlangsung lebih mudah. Komunitas menjadi ruang untuk bertukar pengalaman, membangun motivasi, serta menjaga keberlanjutan program.

Dalam kajian 2018, model program yang diusulkan mencakup:

1. Pelatihan gizi dasar dan pembuatan menu murah bergizi
Menggunakan bahan pangan lokal dan mudah diakses.

2. Pelatihan menanam skala rumah tangga
Termasuk pemanfaatan limbah dapur menjadi kompos.

3. Pembuatan kebun komunitas
Untuk keluarga yang tidak memiliki pekarangan.

4. Pemberian insentif sederhana
Seperti lomba kebun rumah, pembagian bibit, atau apresiasi dari desa/kelurahan.

5. Pemantauan kesehatan anak dan ibu
Bekerja sama dengan posyandu dan puskesmas setempat.

Model ini terbukti mampu meningkatkan partisipasi perempuan dan memperbaiki pola makan keluarga, terutama pada rumah tangga buruh yang memiliki keterbatasan pendapatan.

4. Urgensi Implementasi Program Hari Ini

Persoalan pangan Indonesia pada 2025 semakin kompleks. Laporan UNICEF menunjukkan bahwa pandemi berdampak besar pada ketahanan pangan keluarga, terutama kelompok rentan. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan telah mendorong insentif fiskal untuk menurunkan angka stunting, namun upaya ini tetap perlu didukung oleh pergerakan masyarakat.

Budaya menanam seperti yang dilakukan pelajar Cina merupakan contoh bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah sederhana. Menanam bukan hanya aktivitas pertanian, tetapi praktik pendidikan karakter, ketahanan pangan, dan keberlanjutan lingkungan.

Ketika keluarga menanam sebagian bahan pangan sendiri, mereka sebenarnya sedang membangun pertahanan pertama terhadap kelaparan dan inflasi pangan. Jika hal ini dilakukan secara kolektif, dampaknya bisa signifikan pada skala nasional.

Penutup

Melihat kembali kajian tahun 2018 itu membuat saya semakin yakin bahwa solusi persoalan pangan tidak harus selalu berupa program besar dari pusat. Terkadang, solusi justru berangkat dari kebiasaan kecil yang dilakukan masyarakat. Ketika perempuan diberdayakan, ketika pengetahuan lokal dihargai, dan ketika budaya menanam dihidupkan kembali, kita sesungguhnya sedang membangun fondasi ketahanan pangan yang kokoh.

Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang menghargai alam akan menjadi generasi yang lebih peduli pada bumi. Keluarga yang menanam sebagian pangannya akan menjadi keluarga yang lebih mandiri dan sehat. Dan bangsa yang menghargai kearifan lokalnya sendiri akan menjadi bangsa yang kuat dalam menghadapi tantangan zaman.

 

Komentar