Menggapai Keutamaan Lailatul Qadar: Keuntungan Dan Kerugian Yang Menentukan
ASKARA - Setiap orang akan bertemu dengan malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Namun, pertanyaan yang harus kita renungkan adalah, bagaimana kondisi kita pada malam yang penuh kemuliaan tersebut?
Sebagian orang menyambut Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan amal shalih:
Ada yang mengisi malam itu dengan membaca Al-Qur’an, merenungi ayat-ayat Allah dengan khusyuk.
Ada yang memperbanyak doa, memohon ampunan dan keberkahan kepada Allah.
Ada yang mendirikan shalat malam, beribadah dengan penuh ketundukan dan keikhlasan.
Ada yang bersedekah, membantu fakir miskin dan dhuafa, menebar kebaikan bagi sesama.
Ada yang belajar dan mengajarkan ilmu agama, berusaha meningkatkan pemahaman tentang Islam.
Ada yang memperbanyak dzikir, mengingat Allah dengan hati yang penuh ketulusan.
Ada yang mempererat silaturahmi, mengunjungi keluarga dan kerabat dengan niat baik.
Dan masih banyak amal shalih lainnya yang dilakukan di malam istimewa ini.
Orang-orang yang mengisi malam Lailatul Qadar dengan ketaatan adalah mereka yang benar-benar beruntung. Mereka yang memahami betapa besarnya rahmat Allah pada malam tersebut akan berusaha sebaik mungkin untuk meraihnya.
Sebaliknya, ada pula orang-orang yang menyia-nyiakan malam tersebut dengan perbuatan yang sia-sia, bahkan maksiat:
Ada yang menghabiskan malam Lailatul Qadar dengan musik dan hiburan, melupakan ibadah.
Ada yang memilih berpacaran, menghabiskan waktu dengan hal yang tidak bermanfaat.
Ada yang nongkrong tanpa tujuan, melalaikan waktu yang sangat berharga.
Ada yang pergi ke mall, menghabiskan malam dengan belanja tanpa kebutuhan.
Ada yang menggunjing dan mengghibah, berbicara buruk tentang orang lain.
Ada yang berjudi, mabuk, atau melakukan maksiat lainnya.
Mereka inilah orang-orang yang merugi. Sungguh, mereka telah melewatkan malam yang lebih baik dari seribu bulan dengan kesia-siaan.
Keutamaan Lailatul Qadar
Allah ﷻ berfirman:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
"Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan." (QS. Al-Qadr: 3)
Malam ini adalah kesempatan yang sangat besar bagi seorang Muslim untuk meraih pahala yang tidak bisa didapatkan dalam malam-malam lainnya. Bahkan, Al-Hafidz Ibnu Abdil Bar rahimahullah menjelaskan tentang betapa istimewanya malam ini:
أنَّها ليلةٌ عَظِيمٌ شأنُها وبَرَكَتُهَا وجَليلٌ قَدْرُهَا ، هي خيرٌ من ألفِ شهرٍ ، تُدرِكُ فيها هذه الأمة ما فَاتَهُم من طولِ أعمال مَن سَلَفَ قبلَهُم من الأُمَم في العمل ، والمَحرُوم من حُرمَ خيرها
"Sesungguhnya malam tersebut adalah malam yang sangat agung keadaannya dan barokahnya serta mulia kedudukannya. Malam itu lebih baik daripada seribu bulan. Umat ini akan bisa mendapatkan apa yang terlewatkan dari panjangnya berbagai amalan umat-umat terdahulu. Dan orang yang benar-benar merugi adalah yang terhalangi dari kebaikan malam ini." (At-Tamhiid 2/214)
Oleh karena itu, hendaknya setiap Muslim berusaha semaksimal mungkin di 10 malam terakhir Ramadhan untuk:
• Meninggalkan segala bentuk kemaksiatan yang merugikan.
• Bertekad memperbanyak ibadah dan amal shalih.
• Menghidupkan malam dengan doa, shalat, dan dzikir.
• Bersungguh-sungguh mencari ridha Allah dengan penuh keikhlasan.
Dengan demikian, peluang kita untuk mendapatkan pahala dan keutamaan Lailatul Qadar akan semakin besar.
Semoga Allah ﷻ memberikan kita taufik dan hidayah-Nya, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar dalam ketaatan dan amal shalih. Aamiin. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar