Kamis, 04 Juni 2026 | 07:14
NEWS

Prof. Rokhmin Dahuri Ungkap Strategi Mencetak Alumni Perguruan Tinggi yang Sukses dan Bahagia

Prof. Rokhmin Dahuri Ungkap Strategi Mencetak Alumni Perguruan Tinggi yang Sukses dan Bahagia
Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS

ASKARA – Anggota DPR RI periode 2024–2029, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS memaparkan strategi penting untuk menyiapkan lulusan perguruan tinggi yang sukses dan bahagia. Dengan bekal keilmuan dan nilai spiritual yang kuat, Indonesia siap melahirkan alumni yang sukses dan bahagia dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Hal ini disampaikan Prof Rokhmin Dahuri saat memberikan kuliah umum bertema “Strategi Menyiapkan Lulusan Perguruan Tinggi Yang Sukses dan Bahagia Dalam Rangka Mewujudkan Indonesia Emas 2045” di Politeknik Siber Cerdika Internasional (Poltek SCi), Cirebon, pada Senin, 24 Maret 2025.

Kuliah umum ini tidak hanya menjadi inspirasi, tetapi juga panduan konkret bagi mahasiswa dan institusi pendidikan untuk mencetak generasi muda yang mampu berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.

Empat Indikator Alumni Sukses dan Bahagia

Prof. Rokhmin Dahuri menekankan empat indikator kunci yang harus dimiliki oleh setiap lulusan perguruan tinggi agar dapat mencapai kesuksesan dan kebahagiaan dalam kehidupan profesional dan pribadi mereka. 

Indikator pertama, lulusan harus mampu menciptakan lapangan kerja atau bekerja di berbagai sektor baik di perusahaan nasional, internasional, koperasi, UMKM, atau menjadi Aparat Sipil Negara (ASN), dengan penghasilan yang mencukupi kebutuhan pribadi dan keluarga secara berkelanjutan.

Indikator kedua, lulusan harus memiliki identitas dan jiwa kebangsaan yang kuat, sehingga mereka menjadi warga negara yang baik dan mematuhi nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, dan kebhinekaan Indonesia, serta ajaran agama yang diakui di Indonesia. Hal ini menjadikan mereka warga negara yang baik (good citizen).

Indikator ketiga, lulusan harus menjadi manusia seutuhnya yang dapat berkontribusi dalam membangun dunia yang lebih baik, adil, damai, dan berkelanjutan.

"Sebagai insan kamil, alumni diharapkan dapat berkontribusi bagi pembangunan dunia dan menciptakan peradaban yang lebih baik, adil, damai, dan berkelanjutan," tegasnya.

Indikator keempat, lulusan harus memiliki keimanan yang kuat dan hidup harmonis dengan sesama pemeluk agama, sehingga mereka dapat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Alumni yang sukses harus beriman dan bertakwa kepada Tuhan sesuai agamanya masing-masing. Mereka juga harus menciptakan harmoni antarumat beragama sehingga bisa hidup sukses dan bahagia di dunia maupun akhirat.

Dengan empat indikator tersebut, Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan, lulusan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menjadi profesional yang handal, tetapi juga berkontribusi pada kemajuan bangsa dalam mencapai visi Indonesia Emas 2045.

Prof. Rokhmin Dahuri juga menekankan, mahasiswa harus mengikuti perkembangan zaman, IPTEK, dan kebutuhan pembangunan global agar dapat terus berkembang dan belajar sepanjang hayat (life-long learning),  mengingatkan bahwa pembelajaran tidak boleh berhenti meski seseorang sudah menyandang gelar pendidikan.

Hal ini, katanya, akan membantu mereka mengembangkan hard skills, soft skills, dan IMTAQ (Intellectual, Emotional, dan Spiritual Quotient) yang diperlukan untuk sukses dalam karier dan kehidupan.

“Selama masa kuliah, mahasiswa harus membekali diri dengan Hard Skills (IQ), Soft Skills (EQ), dan IMTAQ (SQ) yang mumpuni,” ujar Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University ini. Menurutnya, kombinasi ketiganya menjadi kunci keberhasilan di era modern.

Modal Dasar Pembangunan Indonesia

Dalam kesempatan itu, Prof Rokhmin Dahuri menyatakan Indonesia memiliki potensi (modal dasar) pembangunan yang sangat besar dan lengkap untuk menjadi negara-bangsa yang maju, adil-makmur, dan berdaulat (Indonesia Emas), yaitu: Pertama, jumlah penduduk 278,4 juta orang (terbesar keempat di dunia) dengan jumlah kelas kelas menengah yang terus bertambah, dan dapat bonus demografi dari 2020 – 2040, merupakan potensi  human capital (daya saing) dan pasar domestik yang luar biasa besar.

“Posisi geoekonomi yang sangat strategis ini harusnya dijadikan peluang bagi Indonesia sebagai negara produsen dan pengekspor barang dan jasa (goods and services) utama di dunia, sehingga menghasilkan neraca perdagangan yang positip (surplus) secara berkelanjutan.  Sayangnya, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu.

Kedua, kaya beragam jenis Sumber Daya Alam (SDA) baik di darat maupun di laut. Ketiga, posisi geoekonomi dan geopolitik yang sangat strategis, dimana 45% dari seluruh komoditas dan produk dengan nilai 15 triliun dolar AS/tahun dikapalkan melalui ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) (UNCTAD,2012). "Selat Malaka (ALKI-1) merupakan jalur transportasi laut terpada di dunia, 200 kapal/hari," sebutnya.

"Posisi geoekonomi yang sangat strategis ini harusnya dijadikan peluang bagi Indonesia sebagai negara produsen dan pengekspor barang dan jasa (goods and services) utama di dunia, sehingga menghasilkan neraca perdagangan yang positip (surplus) secara berkelanjutan.  Sayangnya, sejak 2010 hingga 2019 neraca perdagangan RI justru negatip terus,” jelasnya.

Keempat, rawan bencana alam (70% gunung berapi dunia, tsunami, dan hidrometri) semestinya dianggap sebagai tantangan yang membentuk etos kerja unggul (inovatif, kreatif, dan entrepreneur) dan akhlak mulia bangsa.

“Dengan jumlah penduduk yang sangat besar, kekayaan sumber daya alam darat dan laut yang melimpah serta posisi geoekonomi dan geopolitik Indonesia menjadi sangat strategis. Akan tetapi, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal,” ujar Prof. Rokhmin Dahuri.

"Dengan potensi (modal dasar) pembangunan yang sangat besar dan lengkap diatas, sejatinya potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 10% per tahun," kata Prof Rokhmin Dahuri mengutip Mc. Kinsey, 2012; Goldman and Sach, 2020.

Tantangan Pembangunan Indonesia

Lebih lanjut, Prof Rokhmin Dahuri memaparkan, sejak merdeka pada 17 Agustus 1945, alhamdulillah bangsa Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami perbaikan hampir di semua bidang kehidupan. “Contohnya, kalau pada 1945 – 1955 sekitar 70 persen rakyat Indonesia masih miskin, pada 1970 jumlah rakyat miskin menurun menjadi 60 persen,” ujar Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu, merujuk data BPS  yang diolah oleh RD Institute (2023).

Selanjutnya, pada 2004 tingkat kemiskinan turun lagi menjadi 16 persen, tahun 2014 mejadi 12 persen, dan tahun 2019 tinggal 9,2 persen.  Sayang, dampak dari pandemi Covid-19, pada 2023 tingkat kemiskinan meningkat lagi menjadi 9,3% atau sekitar 26,4 juta orang.

"Menurut World Bank, ukuran ekonomi atau PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia saat ini mencapai 1,1 trilyun dolar AS atau terbesar ke-16 di dunia. Dari 200 negara anggota PBB, hanya 19 negara dengan PDB US$ > 1 triliun,” terangnya.

Lalu, Prof. Rokhmin Dahuri menjelaskan permasalahan & tantangan pembangunan Indonesia. Pertama. Pertumbuhan ekonomi rendah (<7% per tahun). Kedua, Pengangguran & Kemiskinan. Ketiga, Ketimpangan ekonomi terburuk ke-3 di dunia. 

Keempat, Disparitas pembangunan antar wilayah. Kelima, Fragmentasi sosial: Kadrun vs Cebong, dll. Keenam, Deindustrialisasi. Ketujuh, Kedaulatan pangan, farmasi, dan energy rendah. Kedelapan, Daya saing & IPM rendah. Kesembilan, Kerusakan, lingkungan & SDA. Kesepuluh, Volatilitas global (perubahan iklim, China vs AS, Industry 4.0).

Kondisi Indonesia dalam Sepuluh Tahun Terakhir

Prof. Rokhmin Dahuri mengungkapkan bahwa Indonesia sedang menghadapi berbagai tantangan dalam sepuluh tahun terakhir, Indonesia menghadapi beberapa masalah serius dalam perekonomian, antara lain Indonesia

Beberapa isu penting yang perlu dicermati adalah deindustrialisasi, deflasi, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), penurunan kelas menengah, serta fenomena sosial yang mengarah pada migrasi generasi muda mencari peluang di luar negeri.

1. Deindustrialisasi

Indonesia mengalami fenomena deindustrialisasi, yang artinya sektor industri dalam negeri mengalami penurunan yang cukup signifikan. Sektor manufaktur yang sebelumnya menjadi pilar perekonomian negara kini kian melemah, dengan banyak pabrik yang terpaksa tutup atau mengurangi kapasitas produksinya. Hal ini berdampak pada rendahnya lapangan pekerjaan dan hilangnya daya saing di pasar global.

2. Deflasi Sejak Mei 2024

Deflasi, yang terjadi sejak Mei 2024, menjadi salah satu indikasi lemahnya perekonomian. Deflasi terjadi ketika suplai barang lebih besar dibandingkan permintaan. Kondisi ini mengarah pada penurunan daya beli masyarakat, menciptakan kesulitan dalam sektor bisnis, dan merugikan para produsen yang tidak mampu menjual produk mereka dalam jumlah yang cukup.

3. Gelombang PHK Meningkat

Di tengah tantangan ekonomi ini, gelombang PHK semakin meningkat, yang membuat banyak pekerja kehilangan pekerjaan. Banyak perusahaan yang melakukan efisiensi biaya dengan mengurangi jumlah karyawan, menyusul penurunan permintaan pasar dan biaya produksi yang semakin tinggi. Hal ini mempengaruhi daya beli masyarakat, khususnya di kalangan kelas menengah dan pekerja.

4. Penurunan Kelas Menengah

  
Kelas menengah yang sebelumnya menjadi motor penggerak perekonomian Indonesia kini mengalami penurunan signifikan. Masyarakat yang sebelumnya dapat menikmati kehidupan yang lebih baik kini kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari akibat stagnasi pendapatan dan meningkatnya biaya hidup.

5. Fenomena #KaburAjaDulu

Maraknya fenomena #KaburAjaDulu, yaitu generasi muda Indonesia yang berbondong-bondong mencari pekerjaan di luar negeri, menunjukkan kurangnya lapangan pekerjaan yang layak di dalam negeri. Keterbatasan kesempatan kerja dan tergerusnya prinsip meritokrasi menjadi faktor utama yang mendorong mereka mencari kehidupan yang lebih baik di negara lain.

6. Rasio Kepemilikan Mobil yang Rendah

Di sisi lain, rasio kepemilikan mobil di Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal ini mengindikasikan rendahnya daya beli masyarakat Indonesia, meskipun Indonesia merupakan negara dengan populasi yang besar. Bagi banyak keluarga, memiliki kendaraan pribadi masih menjadi impian, mengingat biaya hidup yang terus meningkat.

Di sisi lain, rasio kepemilikan mobil di Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal ini mengindikasikan rendahnya daya beli masyarakat Indonesia, meskipun Indonesia merupakan negara dengan populasi yang besar. Bagi banyak keluarga, memiliki kendaraan pribadi masih menjadi impian, mengingat biaya hidup yang terus meningkat.

7. Warga Negara Terjerat PINJOL dan JUDOL

Seiring dengan meningkatnya kesulitan ekonomi, banyak warga negara Indonesia yang terjerat dalam jebakan pinjaman online (PINJOL) dan judi online (JUDOL). Kondisi ekonomi yang sulit membuat banyak orang tergoda untuk mencari solusi instan, meskipun seringkali berujung pada utang yang semakin membengkak dan masalah sosial yang lebih serius.

8. Utang Luar Negeri yang Semakin Membengkak

Salah satu isu yang terus membebani perekonomian Indonesia adalah meningkatnya utang luar negeri (LN). Utang yang semakin membengkak ini memperburuk kondisi fiskal negara, membatasi ruang gerak pemerintah dalam pembangunan dan pelayanan publik. Hal ini menggerus kapasitas pembangunan bangsa, yang seharusnya fokus pada peningkatan kualitas hidup masyarakat dan daya saing global.

Peta Jalan Pembangunan Menuju Indonesia Emas 2045

Dalam rangka mencapai cita-cita besar Indonesia Emas 2045, Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan bahwa kesuksesan bangsa tidak terjadi secara kebetulan. Hal ini merupakan hasil dari pembangunan dan interaksi berbagai faktor strategis, mulai dari kebijakan ekonomi, stabilitas politik, budaya bangsa, hingga pendidikan yang efektif.

Pilar Pembangunan Bangsa yang Sukses

1. Kebijakan Ekonomi yang Bijak

Kebijakan yang baik mencakup: Pengelolaan utang secara bijak, Investasi pada infrastruktur dan inovasi IPTEK, Kebijakan fiskal yang berkelanjutan.  

2. Stabilitas Politik

Stabilitas politik adalah fondasi penting yang memungkinkan perkembangan investasi dan bisnis. Tanpa kestabilan politik dan sosial, pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat sulit tercapai.

3. Budaya Bangsa yang Mendorong Kemajuan

Budaya yang menghargai kerja keras, inovasi, meritokrasi, dan akhlak mulia memainkan peran signifikan dalam menciptakan masyarakat produktif dan tangguh.

4. Pendidikan Berkualitas Tinggi

Pendidikan yang efektif menciptakan sumber daya manusia produktif, adaptif, serta berkarakter. Selain keterampilan teknis, pendidikan harus membentuk etika, karakter, dan kemampuan berpikir kreatif untuk menghadapi tantangan global.

Bangsa yang Sukses dan Kegagalannya

Bangsa yang sukses memiliki ciri khas, seperti: Kepemimpinan yang kompeten dan visioner, Sistem pendidikan yang kuat, Produktivitas yang tinggi, Keseimbangan antara kebebasan individu dan kontrol pemerintah.  

Sebaliknya, bangsa yang gagal sering terjebak dalam ketimpangan ekonomi, korupsi, nepotisme, utang berlebih, dan institusi yang lemah. Ketimpangan sosial dan kecemburuan dapat memicu konflik yang melemahkan solidaritas nasional.

Transformasi Struktural Ekonomi (TSE)

Definisi transformasi struktural ekonomi melibatkan: 1. Peralihan dari sektor tradisional ke modern (pertanian, manufaktur, dan jasa), 2. Pengalihan sumber daya produktif ke sektor yang lebih berdaya saing, 3. Diversifikasi struktur ekonomi untuk menciptakan aktivitas baru dan memperkuat kemampuan teknologi nasional.    

Ketua Dewan Pakar ASPEKSINDO (Asosiasi Pemerintah Daerah Pesisir dan Kepulauan se Indonesia) menyampaikan pentingnya Transformasi Struktural Ekonomi (TSE) untuk memperkuat sektor-sektor strategis. Ada tujuh kebijakan utama pembangunan TSE:  

1. Hilirisasi dan Diversifikasi Ekonomi: Beralih dari eksploitasi sumber daya alam mentah ke pengembangan sektor manufaktur dan jasa yang produktif dan berkelanjutan.

2. Investasi, Produksi, dan Ekspor: Mengurangi dominasi impor dan konsumsi, meningkatkan produksi nasional, dan berpartisipasi aktif dalam rantai nilai global (GVC).

3. Modernisasi Sektor Primer: Produktivitas sektor kelautan, perikanan, pertanian, kehutanan, dan ESDM harus ramah lingkungan, efisien, dan kompetitif.

4. Revitalisasi Industri Manufaktur: Menghidupkan kembali sektor manufaktur unggulan seperti pariwisata, bioteknologi, nanoteknologi, semikonduktor, dan energi terbarukan.

5. Pengembangan Ekonomi Baru: Fokus pada industri seperti kendaraan listrik, baterai nikel, ekonomi kreatif, dan maritim yang inovatif.

6. Disparitas Wilayah: Memperbaiki kesenjangan pembangunan antarwilayah dengan memprioritaskan pengembangan ekonomi di luar Jawa, termasuk perdesaan.

7. Penerapan Kebijakan Berbasis Pancasila: Semua kebijakan harus mendukung Ekonomi Hijau, Biru, dan Digital* serta memastikan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) lebih dari 50%.

Akselerasi Transisi Energi

Program transisi energi menjadi salah satu langkah strategis untuk mengurangi emisi karbon hingga 31,9% pada 2030, meningkatkan porsi energi baru terbarukan (EBT) menjadi 25%, dan untuk mencapai net-zero carbon pada tahun 2060, kebijakan mendukung transisi energi menjadi prioritas. Hal ini meliputi: Pengembangan ekosistem kendaraan listrik, Meningkatkan proporsi energi terbarukan dalam National Energy Mix menjadi 25% pada 2030, Kebijakan fiskal yang mendorong efisiensi dan keberlanjutan.  

Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan, untuk menghadapi disrupsi teknologi ( Industry 4.0 dan Society 5.0), tensi geopolitik, dan krisis ekologis, Indonesia harus berinovasi, memanfaatkan teknologi, dan membuka diri pada perubahan.  

“The best leaders are those who recognize change and adapt to it, rather than resist it,” ungkap Prof. Rokhmin, mengutip Dalio (2021). Pendidikan berkualitas dan stabilitas politik menjadi kunci untuk menciptakan masyarakat yang resilient dan adaptif.

Menuju Indonesia Emas

Dengan kebijakan yang terukur dan kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat, Indonesia dapat mencapai potensi maksimalnya untuk menjadi bangsa yang maju, adil, makmur, dan berdaulat pada tahun 2045.

Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan bahwa kesuksesan suatu bangsa tidak terjadi secara kebetulan, melainkan melalui interaksi kompleks antara berbagai elemen penting: kebijakan ekonomi, stabilitas politik, budaya bangsa, dan pendidikan berkualitas. Strategi ini bertujuan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 —sebuah visi bangsa maju, makmur, dan berdaulat.

Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan bahwa kesuksesan suatu bangsa tidak terjadi secara kebetulan, melainkan melalui interaksi kompleks antara berbagai elemen penting: kebijakan ekonomi, stabilitas politik, budaya bangsa, dan pendidikan berkualitas. Strategi ini bertujuan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 —sebuah visi bangsa maju, makmur, dan berdaulat.

Mengutip Ray Dalio dalam Principles for Dealing with the Changing World Order , Prof. Rokhmin Dahuri mengingatkan bahwa kekuatan suatu bangsa terletak pada produktivitas masyarakatnya. Disiplin fiskal, investasi jangka panjang, dan pengelolaan utang menjadi kunci untuk menghindari jebakan kemunduran. Ketimpangan sosial dan ekonomi, jika dibiarkan, dapat memicu kecemburuan dan konflik yang melemahkan solidaritas nasional.

Program Kewirausahaan: Mahasiswa didorong untuk menjadi entrepreneur melalui inkubasi bisnis dan program startup yang didukung oleh kampus.  

Pendidikan Karakter & Soft Skills: Mahasiswa dibekali dengan *kemampuan berpikir kritis, komunikasi, serta kepemimpinan* agar siap menghadapi tantangan di dunia kerja.  

Misi: Mencetak Alumni yang Sukses dan Bahagia, Sukses tidak hanya diukur dari jabatan atau pendapatan, tetapi juga dari kepuasan hidup dan kontribusi bagi masyarakat. 

Poltek SCI menanamkan empat prinsip utama bagi mahasiswanya yaitu , Kompetensi Profesional: Menguasai ilmu dan teknologi di bidangnya. Jiwa Kewirausahaan: Mampu menciptakan lapangan kerja dan inovasi bisnis. Integritas & Etika Kerja: Menjadi insan yang bertanggung jawab dan berkontribusi positif.  

Keseimbangan Hidup: Memiliki iman, takwa, dan mental yang sehat untuk mencapai kebahagiaan sejati.  

Dengan komitmen tinggi terhadap pendidikan berkualitas, Poltek SCI siap mencetak generasi muda yang sukses, inovatif, dan bahagia dalam meniti karier di masa depan.

Menjadi Alumni Perguruan Tinggi yang Unggul di Abad 21

Di era digital dan revolusi industri 4.0, lulusan perguruan tinggi dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks. Kemajuan teknologi, globalisasi, serta perkembangan industri yang cepat menuntut alumni untuk memiliki keterampilan dan karakter yang unggul agar tetap relevan di dunia kerja maupun dalam kehidupan sosial.

Tren Teknologi Pendidikan: Meningkatkan Kualitas Pembelajaran

Dunia pendidikan terus beradaptasi dengan tren teknologi terbaru untuk meningkatkan pengalaman belajar. Beberapa inovasi yang berkembang pesat antara lain:  

E-Learning & Pembelajaran Berbasis Video; Mempermudah akses pendidikan kapan saja dan di mana saja.  

Personalisasi Pembelajaran: Membantu mahasiswa belajar sesuai dengan minat dan kecepatan mereka.  

AR/VR (Augmented Reality & Virtual Reality): Meningkatkan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan mendalam.  

Asesmen Digital & Analitik Pembelajaran: Memungkinkan evaluasi berbasis data untuk meningkatkan efektivitas pendidikan.  

Pemanfaatan AI & Big Data dalam Pendidikan: Memberikan wawasan lebih dalam mengenai pola belajar mahasiswa dan membantu personalisasi kurikulum.

Game-Based Learning & Lingkungan Belajar di Luar Kelas: Menyediakan metode pembelajaran yang lebih menarik dan menyenangkan.  

Dengan memanfaatkan inovasi ini, perguruan tinggi dapat menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan zaman.  

Delapan Karakter Alumni Perguruan Tinggi yang Dibutuhkan di Abad 21

Prof Rokhmin Dahuri menekankan, agar sukses dan berdaya saing tinggi, alumni perguruan tinggi harus memiliki kombinasi antara kompetensi akademik, keterampilan teknologi, soft skills, serta nilai-nilai moral dan spiritual.

Berikut adalah delapan karakter utama yang harus dimiliki: 

1. Kemampuan Analisis, Sintesis, dan Problem Solving: Mahasiswa dituntut untuk berpikir kritis, inovatif, serta mampu memecahkan masalah dengan solusi kreatif dan berbasis data.  

2. Kompetensi di Bidang IPTEK yang Ditekuni: Lulusan harus benar-benar menguasai bidang studinya sehingga dapat memberikan kontribusi nyata di dunia kerja maupun kewirausahaan.  

3. Keterampilan Digital dan Teknologi: Menguasai penggunaan *komputer, smartphone, software, serta berbagai platform digital* menjadi keharusan agar tidak tertinggal di era digital.  

4. Soft Skills: Leadership, Disiplin, dan Kerja Sama: Selain kecerdasan akademik, kemampuan komunikasi, kerja tim, manajemen waktu, serta kepemimpinan sangat dibutuhkan dalam dunia kerja maupun kehidupan sosial.  

5.Kemampuan Berbahasa Asing: Menguasai sedikitnya satu bahasa asing (Inggris, Arab, Mandarin, atau lainnya) memberikan nilai tambah dalam menghadapi persaingan global.  

6. Akhlak Mulia dan Etika Profesional: 

Menjadi individu yang *jujur, amanah, visioner, berempati, serta sabar dan bersyukur akan membantu membangun reputasi yang baik dalam karier dan kehidupan.  

7. Keimanan dan Ketaqwaan: Memiliki *landasan spiritual yang kuat* sesuai dengan agama masing-masing agar tetap memiliki pegangan dalam menjalani kehidupan.  

8. Kehidupan yang Harmonis dan Damai: Mampu hidup berdampingan dengan sesama secara damai, menjaga toleransi, dan menghargai perbedaan menjadi nilai penting di era globalisasi.  

Menjadi Alumni yang Siap Bersaing di Masa Depan

"Dengan memiliki 8 karakter di atas, lulusan perguruan tinggi tidak hanya siap bekerja tetapi juga mampu menciptakan peluang dan berkontribusi bagi masyarakat. Dunia semakin kompetitif, tetapi dengan keterampilan, karakter, dan inovasi, setiap alumni bisa menjadi individu sukses dan bahagia di abad ke-21,' ujar Prof Rokhmin Dahuri.

Menjadi Pribadi Unggul

Di era persaingan global yang semakin ketat, kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh keahlian teknis (hard skills), tetapi juga oleh soft skills, etos kerja, dan akhlak mulia. Kombinasi ketiga aspek ini akan menciptakan individu yang tidak hanya kompeten di bidangnya, tetapi juga memiliki integritas, kepemimpinan, dan kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain.  

Soft Skills: Kunci Keberhasilan di Dunia Profesional.

Soft skills adalah keterampilan non-teknis yang berhubungan dengan cara seseorang berinteraksi dengan orang lain dan mengelola dirinya sendiri. Berikut adalah beberapa soft skills yang penting:  

Mengenali Kekuatan dan Kelemahan Diri: Memahami potensi yang dimiliki serta mengetahui area yang perlu diperbaiki untuk pengembangan diri yang lebih baik.  

Empati dan Kemampuan Memahami Orang Lain: Memahami kebutuhan, harapan, dan motivasi orang lain untuk menjalin kerja sama yang baik.  

Motivasi Diri yang Kuat: Memiliki semangat untuk terus berkembang dan menjadi yang terbaik dalam segala bidang.  

Kreativitas dan Inovasi: Berpikir di luar kebiasaan, menciptakan solusi baru, dan terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Kemampuan Analisis dan Problem Solving: Mampu menyelesaikan masalah dengan cepat dan efektif berdasarkan data dan pengalaman.  

Leadership (Kepemimpinan): Mampu memimpin diri sendiri dan orang lain untuk mencapai tujuan bersama.  

Entrepreneurship (Kewirausahaan): Memiliki jiwa wirausaha dan kemampuan menciptakan peluang serta berani mengambil risiko.  

Kolaborasi dan Kerja Sama: Mampu bekerja dalam tim dan berkontribusi secara efektif.  

Kemampuan Berbahasa Asing: Menguasai bahasa asing seperti *Inggris, Arab, atau Mandarin* untuk meningkatkan daya saing di tingkat global.  

Etos Kerja: Fondasi Keberhasilan Jangka Panjang: Selain memiliki keterampilan interpersonal, individu juga perlu memiliki etos kerja yang tinggi agar dapat mencapai kesuksesan yang berkelanjutan. Etos kerja yang harus dimiliki antara lain:  

Kerja Keras – Tidak mudah menyerah dan selalu berusaha maksimal dalam setiap tugas.  

Rajin dan Disiplin – Konsisten dalam menyelesaikan tugas dengan penuh tanggung jawab dan tepat waktu.  

Tahan Banting dan Pantang Menyerah – Tidak mudah putus asa dalam menghadapi tantangan dan kegagalan.  

Antisipatif dan Adaptif – Mampu memprediksi perubahan serta menyesuaikan diri dengan cepat terhadap situasi baru.

Agile (Gesit dan Fleksibel) – Memiliki kemampuan untuk cepat beradaptasi dengan perubahan dan mengambil keputusan dengan cepat.  

Akhlak Mulia: Menjadi Pribadi Berintegritas

Keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari materi atau pencapaian profesional, tetapi juga dari karakter dan moral yang dimiliki. Akhlak mulia akan membentuk individu yang berintegritas, dipercaya, dan dihormati oleh lingkungan sekitarnya*. Berikut adalah nilai-nilai akhlak yang harus ditanamkan:  

Jujur (Shidiq) – Mengutamakan kejujuran dalam setiap tindakan dan perkataan.  

Amanah – Menjaga kepercayaan yang diberikan dan bertanggung jawab atas tugas yang diemban.  

Fathonah (Cerdas & Visioner)– Memiliki pemikiran yang luas, cerdas dalam mengambil keputusan, dan memiliki visi masa depan yang jelas.  

Berbagi dan Peduli – Mampu menyampaikan ilmu dan berbagi rezeki kepada orang lain tanpa pamrih.  

Sabar dan Syukur – Sabar dalam menghadapi cobaan dan bersyukur atas segala nikmat yang diberikan.  

Kana’ah (Merasa Cukup) – Tidak tamak dan selalu bersikap sederhana dalam menjalani kehidupan.  

Tidak Iri dan Dengki – Fokus pada pengembangan diri tanpa merasa iri terhadap kesuksesan orang lain.

Karakter Alumni Perguruan Tinggi yang Dibutuhkan di Abad-21 

Prof. Rokhmin Dahuri memaparkan peran krusial perguruan tinggi dalam mempersiapkan generasi muda yang siap menghadapi tantangan di era Society 5.0, melalui Proses Tri Dharma Perguruan Tinggi, meliputi pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai fondasi penting dalam mencetak lulusan yang siap terjun ke dunia kerja dan memberikan kontribusi positif kepada masyarakat. 

"Proses tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan dengan pengetahuan teoritis, tetapi juga kemampuan praktis dan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja," ujarnya.

Ia menekankan bahwa perguruan tinggi harus menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten dalam bidang ilmu mereka, tetapi juga mampu menghadapi perubahan cepat yang ditandai dengan teknologi canggih dan transformasi digital yang sedang berlangsung.

Strategi ini ditujukan untuk menghasilkan lulusan dengan keahlian berikut: Kemampuan analisis dan pemecahan masalah yang kompleks, Berpikir kritis, kreatif, dan inovatif, Kemampuan kolaboratif.

Prof. Rokhmin Dahuri merumuskan delapan karakter utama alumni yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan global:  

1. Kemampuan berpikir kritis, analisis, dan inovasi. 

2. Keahlian di bidang IPTEK sesuai jurusan.

3. Penguasaan teknologi digital dan platform lainnya.

4. Soft Skills: motivasi diri, teamwork, leadership, dan disiplin.  

5. Kemampuan berbahasa asing (Inggris, Arab, Mandarin, dll).

6. Berakhlak mulia: jujur, amanah, sabar, dan bersyukur.  

7. Keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan YME.

8. Hidup harmonis dan penuh kedamaian.* 

Pilar Pendidikan Global dan Nasional  

Sebagai Member of International Scientific Advisory Board of Center for Coastal and Ocean Development, University of Bremen, Germany , Prof. Rokhmin mengintegrasikan pilar pendidikan global dan nasional untuk membentuk mahasiswa yang sukses.  

1. Perspektif Global: Pilar Utama Pendidikan

Prof. Rokhmin memaparkan empat pilar pendidikan berdasarkan perspektif global:

Pilar Global

Learning to Know: Belajar terus-menerus dan mengeksplorasi rasa ingin tahu.  

Learning to Do: Penguasaan keterampilan praktis untuk menghadapi dunia kerja.  

Learning to Live Together: Penghormatan dan kerja sama di tengah keberagaman.  

Learning to Be: Pengembangan individu menjadi manusia seutuhnya yang bertanggung jawab.  

Pilar Nasional

Mengacu pada Pancasila, sebagai dasar ideologi negara. Pembukaan UUD 1945: Sebagai pijakan visi bernegara. Pasal 31 UUD 1945: Menjamin hak setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan. UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. UU No. 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi.

a. Learning to Know

Belajar untuk mengetahui memacu rasa ingin tahu yang mendalam, memungkinkan seseorang untuk terus meneliti, belajar, dan menemukan hal-hal baru. Pilar ini menuntut individu untuk mengembangkan strategi berpikir, konsentrasi, memori, serta kemampuan belajar sepanjang hayat ( life-long learning).  

b. Learning to Do

Belajar untuk melakukan berfokus pada keterampilan praktis, kemampuan bekerja dalam tim, mengambil inisiatif, dan keberanian menghadapi risiko. Pilar ini menekankan pentingnya mengaplikasikan kompetensi yang dipelajari agar dapat bertindak kreatif sesuai kebutuhan lingkungan kerja.  

c. Learning to Live Together

Belajar untuk hidup bersama mengajarkan empati, penghargaan terhadap orang lain, dan memahami keadaan mereka melalui dialog. Pilar ini sangat relevan di Indonesia, mengingat keberagamannya, untuk mewujudkan harmoni dan menyelesaikan konflik secara damai.  

d. Learning to Be

Pilar ini mendefinisikan pendidikan sebagai sarana untuk membentuk manusia yang utuh. Pendidikan harus membantu individu menggali potensi tersembunyi mereka, mengembangkan bakat dan minat, serta membangun pribadi yang mandiri, imajinatif, dan bertanggung jawab.  

2. Perspektif Nasional: Dasar Pendidikan Indonesia

Prof. Rokhmin Dahuri menjelaskan bahwa pendidikan di Indonesia harus selaras dengan nilai-nilai kebangsaan, yaitu: Membangun lulusan yang siap menjawab tantangan

Menurut Prof. Rokhmin Dahuri, lulusan perguruan tinggi harus memiliki kombinasi Hard Skills (IQ), Soft Skills (EQ), dan IMTAQ (SQ) yang mumpuni. Untuk mencapai itu, mahasiswa harus: Aktif belajar, meneliti, berdiskusi, dan berlatih. 

Mengikuti perkembangan IPTEK, kebutuhan manusia, serta budaya di tingkat nasional dan global. Terus membaca dan belajar sepanjang hayat untuk beradaptasi dengan perubahan zaman.  

“Dengan strategi ini, kita dapat mencetak lulusan yang tidak hanya sukses secara profesional, tetapi juga bahagia di kehidupannya,” tegas Prof. Rokhmin Dahuri.

Empat Keahlian Utama

Lulusan perguruan tinggi, lanjut Prof. Rokhmin, perlu menguasai empat kemampuan utama untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup mereka. Kemampuan tersebut adalah:

1. Kemampuan Analisis & Pemecahan Masalah yang Kompleks: Lulusan diharapkan mampu menghadapi dan menyelesaikan berbagai tantangan yang semakin kompleks di dunia yang terus berubah.

2. Berpikir Kritis: Kemampuan untuk menganalisis informasi secara objektif, mempertanyakan asumsi yang ada, dan mencari solusi yang lebih baik.

3. Kreativitas & Inovasi: Lulusan harus mampu berpikir kreatif dan inovatif, menghasilkan ide-ide baru, serta mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di masyarakat.

4. Kolaborasi: Kemampuan untuk bekerja sama dengan berbagai pihak, berkolaborasi dalam tim lintas disiplin, dan menghargai keragaman.

Prof. Rokhmin menambahkan, perguruan tinggi harus memastikan bahwa selama proses perkuliahan, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis, tetapi juga mengembangkan keterampilan interpersonal dan soft skills yang akan sangat berguna dalam kehidupan profesional mereka. Untuk itu, perguruan tinggi perlu terus berinovasi dalam pendekatan pembelajaran, menciptakan lingkungan yang mendukung kolaborasi, serta mendorong mahasiswa untuk berpikir kreatif dan kritis.

Dengan pendekatan ini, lulusan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya sukses dalam karier mereka tetapi juga bahagia dalam kehidupan pribadi, berkontribusi pada perkembangan masyarakat, dan siap menghadapi tantangan dalam era Society 5.0.

Tujuan Pendidikan Nasional

Pendidikan menjadi kunci penting untuk membentuk generasi yang sukses dan bahagia, khususnya di era globalisasi dan revolusi teknologi. Prof. Rokhmin Dahuri memaparkan visi dan strategi untuk menyiapkan lulusan perguruan tinggi yang tidak hanya kompeten, tetapi juga mampu beradaptasi dengan tantangan Abad-21.  

Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik dan mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, serta memiliki kompetensi yang unggul. 

Pasal 3 (UU No. 20/2003): Mengarahkan peserta didik menjadi warga negara yang sehat, berilmu, cakap, kreatif, demokratis, dan bertanggung jawab.  

Pasal 5 (UU No. 12/2012): Menargetkan mahasiswa agar menguasai cabang ilmu pengetahuan, teknologi, serta berkontribusi pada peradaban manusia melalui penelitian dan pengabdian masyarakat.  

Peningkatan Poltek SCI

Sebagai politeknik pertama di Cirebon, Poltek SCI berkomitmen menghadirkan pendidikan vokasi berkualitas dengan program unggulan seperti Bisnis Digital, Teknik Rekayasa Komputer dan Jaringan, serta Pembangunan Pedesaan dan Ekonomi Masyarakat.

Dengan visi menjadi Pusat Pendidikan Vokasi Berdaya Saing Nasional Tahun 2028, kampus ini menerapkan "521 Learning System", yang menggabungkan pembelajaran di kampus dan industri untuk memastikan lulusan siap kerja. Direktur Poltek SCI, Abdurokhim, mengungkap bahwa kampus ini telah menjalin lebih dari 20 kerja sama industri untuk memperkuat pembelajaran dan penyerapan tenaga kerja.  

Teknologi Pendidikan dan Inovasi  

Tren teknologi pendidikan seperti E-Learning, AI dalam pendidikan, pembelajaran berbasis game, hingga AR/VR menawarkan pengalaman belajar yang lebih menarik. Inovasi pendidikan di era digital ini membantu meningkatkan kualitas pembelajaran, sekaligus mengembangkan potensi mahasiswa.  

Kebijakan Kemendikbud untuk perguruan tinggi mencakup

Merdeka Belajar: Kesempatan mengambil mata kuliah lintas prodi dan kampus.  

Pengembangan Kepemimpinan: Kegiatan ekstra kurikuler untuk teamwork dan leadership.  

Pendampingan Dosen: Memberi dukungan mahasiswa dalam berbagai aktivitas.  

Entrepreneurial Mindset: Membentuk semangat juang dan pantang menyerah.  

Pembelajar Sepanjang Hayat: Mengedepankan budaya belajar untuk beradaptasi dengan perubahan.  

Dengan strategi ini, pendidikan nasional dapat menghasilkan alumni yang tidak hanya siap menghadapi dunia kerja, tetapi juga memberikan kontribusi positif pada masyarakat dan peradaban global. 

Mencetak Alumni Sukses dan Bahagia

Politeknik Siber Cerdika Internasional (Poltek SCI) hadir sebagai *institusi pendidikan vokasi unggulan* yang fokus pada pengembangan keterampilan di bidang teknologi, bisnis digital, serta pembangunan ekonomi berbasis desa. Dengan kurikulum berbasis industri dan metode pembelajaran inovatif, Poltek SCI memastikan lulusannya siap menghadapi dunia kerja dan berkontribusi bagi masyarakat. 

Program Studi Unggulan di Poltek SCI

Poltek SCI menawarkan tiga program studi D4 (Sarjana Terapan) yang didesain untuk memenuhi kebutuhan industri dan kewirausahaan:  

D4 Teknik Rekayasa Komputer dan Jaringan

Program ini dirancang untuk mencetak profesional di bidang teknologi informasi, jaringan komputer, dan pengembangan perangkat lunak.  

Prospek Karier

Technopreneur: Business Owner, Software Developer, Startup Analyst: Network Administrator, Data Analyst, Database Administrator  

D4 Bisnis Digital

Menyediakan pemahaman mendalam tentang strategi bisnis digital, pemasaran online, dan pengelolaan data untuk pengambilan keputusan bisnis yang lebih baik.  

Prospek Karier

Business Owner & Entrepreneur: Social Entrepreneur, Digital Business Planner

Digital Marketing Analyst: Data Analyst, Konsultan Manajemen Bisnis/Teknobisnis  

D4 Pembangunan Pedesaan dan Ekonomi Masyarakat

Program ini berfokus pada pengembangan sumber daya desa, kewirausahaan sosial, serta tata kelola pemerintahan desa yang inovatif.  

Prospek Karier

ASN & Pemerintah: Penyelenggara Pemerintah, Pendamping Desa; Wirausaha & Pengelola Usaha Desa

Meningkatkan Kualitas Pendidikan dan Menyiapkan Alumni Sukses

Poltek SCI tidak hanya memberikan ilmu dan keterampilan teknis, tetapi juga membekali mahasiswa dengan nilai-nilai kewirausahaan, kepemimpinan, dan inovasi. Beberapa strategi yang diterapkan untuk memastikan kesuksesan lulusan antara lain:  

Kurikulum Berbasis Industri

Mahasiswa mendapatkan kombinasi teori dan praktik yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja saat ini.  

Learning System: Sistem pembelajaran inovatif yang mencakup 5 semester belajar di kampus, 2 semester praktik di industri, dan 1 semester magang atau proyek nyata.

Kolaborasi dengan Industri: Poltek SCI menjalin kemitraan dengan lebih dari 20 perusahaan dan institusi untuk memastikan lulusan memiliki pengalaman kerja sebelum wisuda.

Komentar