Minggu, 05 Februari 2023 | 17:20
OPINI

Kasih Seorang Ibu

Kasih Seorang Ibu
Ilustrasi Kasih Seorang Ibu (int)

Oleh: Mang Ucup *)

Yuk kita mengingat jasa maupun kasih sayang dari ibu kita. Oleh sebab itu menjelang hari Ibu ini mang Ucup ingin memposting hasil karya Mang Ucup tulen! 

Apakah Anda mengasihi Ibu Anda?  Apakah Anda masih ingat betapa besar kasih sayang Ibu Anda? 

Kasih Seorang Ibu

Jalannya sudah tertatih-tatih, karena usianya sudah lebih dari 77 tahun.  Kalau tidak perlu sekali, jarang ia bisa dan mau keluar rumah. Walaupun ia mempunyai seorang anak perempuan, ia harus tinggal di rumah jompo, karena kehadirannya tidak diinginkan. 

Ia masih ingat, betapa berat penderitaannya ketika akan melahirkan putrinya tersebut. Ayah si putri minggat setelah menghamilinya tanpa mau bertanggung jawab. Di samping itu keluarganya menuntut agar ia menggugurkan bayi yang belum dilahirkan.

Keluarga merasa malu mempunyai seorang putri yang hamil sebelum nikah. Namun ia tetap mempertahakan kehamilannya, sehingga ia diusir dari rumah orang tuanya.  Selain aib yang harus ditanggung, ia pun harus bekerja berat di pabrik untuk membiayai hidupnya. 

Ketika ia melahirkan putrinya, tidak ada seorang pun yang mendampinginya. Ia tidak mendapatkan kecupan manis maupun ucapan selamat dari siapapun. Ia hanya mendapatkan cemoohan, karena telah melahirkan seorang bayi haram tanpa ayah. 

Meski demikian ia merasa amat bahagia atas berkat dari Tuhan yang telah mengaruniakan seorang putri. Ia berjanji akan memberikan seluruh kasih sayangnya hanya untuk putrinya.  Ia menamakan putrinya Love - Kasih. 

Siang ia harus bekerja berat di pabrik dan di waktu malam hari ia harus menjahit sampai jauh malam, untuk mencari penghasilan tambahan.  Terkadang ia harus menjahit sampai dengan pukul 2 pagi. 

Tidur lebih dari empat jam sehari itu suatu kemewahan yang tidak pernah ia dapatkan.  Bahkan pada hari Sabtu dan Minggu pun ia masih bekerja sebagai pelayan restoran. Ia melakukan semua agar bisa membiayai kehidupan maupun biaya sekolah putrinya tercinta. 

Ia tidak mau menikah lagi, karena ia masih tetap mengharapkan, bahwa pada suatu saat ayah dari putrinya akan datang kepadanya, dan ia tidak mau memberikan ayah tiri kepada putrinya. 

Sejak ia melahirkan putrinya ia menjadi seorang vegetarian. Ia tidak pernah mau membeli daging, karena terlalu mahal baginya.  Uang untuk beli daging bisa disisihkan untuk putrinya.

Untuk dirinya ia tidak pernah mau membeli pakaian baru, ia selalu menerima dan memakai pakaian bekas pemberian orang. Namun untuk putrinya tercinta, ia berikan hanya yang terbaik dan terbagus, mulai dari pakaian sampai dengan makanan. 

Pada suatu saat ia jatuh sakit, demam panas. Cuaca di luar sangat dingin. Saat itu, musim dingin menjelang hari Natal. Ia telah berjanji untuk memberikan sepeda sebagai hadiah Natal untuk putrinya. Namun uang yang dikumpulkan belum cukup. 

Ia tidak ingin mengecewakan putrinya.  Maka walau cuaca dingin sekali, dan dalam keadaan sakit dan lemah, ia tetap memaksakan diri untuk keluar rumah dan bekerja.  Sejak saat tersebut ia kena penyakit rheumatik, sehingga sering sekali badannya terasa sangat nyeri sekali. 

Ia ingin memanjakan putrinya dan memberikan yang terbaik bagi putrinya walaupun untuk ini ia harus berkorban. Demi membahagiakan sang putri, dalam keadaan sakit ataupun tidak ia tetap bekerja. 

Karena perjuangan dan pengorbanannya, sang putri bisa melanjutkan studinya di luar kota. Di sana putrinya jatuh cinta kepada seorang pemuda anak dari seorang konglomerat ternama.

Putrinya tidak pernah mau mengakui bahwa ia masih mempunyai orang tua.  Ia merasa malu bahwa ia ditinggal pergi oleh ayah kandungnya dan ia merasa malu mempunyai seorang ibu yang bekerja hanya sebagai BABU pencuci piring di restaurant. 

Ia mengaku kepada calon suaminya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal dunia. Pada saat putrinya menikah di Gereja, ibunya hanya bisa melihat dari jauh.  Ia tidak diundang, bahkan kehadirannya tidaklah diinginkan. 

Ia duduk di sudut kursi paling belakang di gereja, sambil mendoakan agar Tuhan selalu melindungi dan memberkati putrinya tercinta.  Sejak saat itu bertahun-tahun ia tidak mendengar kabar dari putrinya.  Ia dilarang dan tidak boleh menghubungi putrinya. 

Pada suatu hari ia membaca di koran bahwa putrinya telah melahirkan seorang putera.  Ia merasa bahagia telah mempunyai seorang cucu.  Ia sangat mendambakan untuk bisa memeluk dan menggendong cucunya.  Tentu saja ini tidak mungkin, sebab ia tidak boleh menginjak rumah putrinya. 

Ia berdoa tiap hari agar ia bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat dan bertemu dengan anak dan cucunya. Karena keinginannya sedemikian besar untuk melihat putri dan cucunya, maka ia melamar sebagai pembantu di rumah anaknya dengan menggunakan nama palsu. 

Ia merasa bahagia sekali, karena lamarannya diterima dan diperbolehkan bekerja disana.  Di rumah putrinya ia bisa dan boleh menggendong cucunya, walaupun hanya sebagai seorang pembantu bukannya sebagai seorang nenek bagi sang cucu.  Ia sangat berterima kasih kepada Tuhan, bahwa permohonannya telah dikabulkan. 

Di rumah putrinya, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan khusus, bahkan anjing binatang peliharaan mereka jauh lebih dikasihi oleh putrinya  daripada dirinya sendiri.  Di samping itu ia sering sekali dibentak dan dimaki dengan kata-kata kasar yang menyakitkan oleh sang putri yang darah dagingnya sendiri. 

Ia hanya bisa berdoa sambil menangis di dalam kamarnya di belakang dapur.  Ia berdoa agar Tuhan mau mengampuni kesalahan putrinya, ia berdoa agar hukuman tidak dilimpahkan kepada putrinya, ia berdoa agar hukuman itu dilimpahkan kepadanya saja, karena ia sangat menyayangi putrinya. 

Setelah bekerja bertahun-tahun sebagai babu tanpa ada yang mengetahui siapa dirinya, akhirnya ia menderita sakit dan tidak bisa bekerja lagi.  Anak mantunya (yang sama sekali tidak mengenalinya sebagai ibu dari sang istri) merasa berhutang budi kepada pelayannya yang setia ini. 

Ia lalu memberikan kesempatan untuk menjalankan sisa hidupnya di rumah jompo.  Puluhan tahun ia tidak bisa dan tidak boleh bertemu lagi dengan putri kesayangannya.  Uang pensiunnya selalu ia sisihkan dan tabung untuk putrinya, siapa tahu pada suatu saat sang putri membutuhkan bantuannya. 

Beberapa hari sebelum hari Natal, ia jatuh sakit lagi.  Ia merasa bahwa saatnya sudah tidak lama lagi.  Ia merasakan ajalnya sudah mendekat. 

Hanya satu keinginannya sebelum ia meninggal dunia, yakni bisa bertemu dan boleh melihat putrinya sekali lagi.  Di samping itu ia ingin memberikan seluruh uang simpanan yang ia telah kumpulkan selama hidupnya, sebagai hadiah untuk putrinya. 

Suhu di luar telah mencapai 17 derajat di bawah nol dan saljupun turun dengan lebatnya. Jangankan manusia, anjing pun pada saat ini tidak mau keluar rumah karena cuaca sangat dingin.  Namun tidak demikian dengan ibu tua itu. 

Dia tetap memaksakan diri untuk pergi ke rumah putrinya.  Ia ingin bertemu dengan putrinya untuk terakhir kalinya.  Dengan tubuh menggigil karena kedinginan; ia menunggu datangnya bus berjam-jam lamamya di luar. 

Ia harus dua kali ganti bus, karena jarak rumah jompo itu jauh dari rumah putrinya.  Satu perjalanan jauh dan tidak mudah bagi seorang nenek tua yang sedang sakit. 

Setiba di rumah putrinya dalam keadaan lelah dan kedinginan ia mengetuk rumah putrinya. Putrinya sendiri yang membukakan pintu. Apakah ucapan selamat datang yang diucapkan putrinya?  Apakah ada senyum rasa bahagia bertemu kembali dengan ibunya?  Tidak! 

Bahkan ia ditegur: "Kamu sudah bekerja di rumah kami puluhan tahun sebagai pembantu, apakah kamu tidak tahu bahwa untuk pembantu ada pintu khusus, ialah pintu di belakang rumah!" 

"Nak, Ibu datang bukan untuk bertamu melainkan hanya ingin memberikan hadiah Natal untukmu. Ibu ingin melihat kamu sekali lagi, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Bolehkah saya masuk sebentar saja, karena di luar dingin sekali dan sedang turun salju. Ibu sudah tidak kuat lagi nak!" kata wanita tua itu. 

"Maaf saya tidak ada waktu, sebentar lagi kami akan menerima tamu seorang pejabat tinggi, lain kali saja. Lain kali kalau mau datang telepon dahulu, jangan datang begitu saja!" ucapan putrinya dengan penuh rasa kesal. 

Setelah itu pintu ditutup dengan keras. Ia mengusir ibu kandungnya sendiri, seperti mengusir seorang pengemis. Tidak ada rass belas kasih sedikitpun juga. Setelah beberapa saat bel rumah bunyi lagi, Ada seseorang mau pinjam teleponnya. 

"Maaf Bu, mengganggu, bolehkah kami pinjam telepon sebentar untuk menelepon ke kantor polisi, sebab di halte bus di depan ada seorang nenek meninggal dunia, rupanya ia mati kedinginan!" 

Wanita tua ini mati bukan hanya kedinginan jasmaniah, tetapi terutama kedinginan batiniah. Ia mati kedinginan, karena hilangnya kasih sayang dari sang putri yang durhaka, yang tidak mengakui dia sebagai ibunya hanya, karena dia seorang tukang cuci piring yang tak bersuami. 

Ia meninggal dalam kedinginan dan ketiadaan rasa syukur dari sang putri terhadap hidup mereka. Ia meninggal dalam kedinginan egoisme sang putri yang malu mau mengakui keadaan ibunya yang miskin.  Ya, ia meninggal karena sang putri telah membeku hatinya akan kasih pada Allah dan orangtuanya. Suatu tragedi terbesar dalam hidup bila kita mengingkari kasih sayang orangtua kita. 

Suatu kemuliaan terbesar bila kita selalu menempatkan orangtua kita di atas segalanya dalam segala kelebihan dan kekurangan mereka, sembari bersyukur tiada henti kepada Tuhan yang telah memberikan orangtua kepada kita. 

Ibu saya tidak melek komputer, bahkan beliau seorang wanita yang buta aksara.  Namun untuk Mang Ucup pribadi beliau wanita paling hebat, karena sampai dengan detik ini Mang Ucup masih bisa belajar dari padanya. 

Saya belajar memberikan dan membagikan kasih tanpa pamrih. Ibunya Mang Ucup menderita sakit kanker, tetapi ia tidak pernah mengeluh.  Tiap kali saya menelepon Ibu, pertanyaan standard selalu diajukan kepada saya: "Apa yang Ibu bisa bantu untukmu nak?" 

Ia tidak memohon untuk dirinya sendiri dalam doanya, yang ia utamakan selalu kami anak-anaknya!  Ia selalu mendoakan kami siang dan malam.  Bagi Mang Ucup, Ibu saya adalah wanita tercantik sejagat raya, melebihi daripada Michael Preifer walaupun ia pernah terpilih oleh majalah People sebagai wanita tercantik sedunia untuk tahun 1999. 

Seorang Ibu melahirkan dan membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang tanpa mengharapkan pamrih apapun juga. Seorang Ibu bisa dan mampu memberikan waktunya 24 jam sehari bagi anak-anaknya, tidak ada perkataan siang maupun malam, tidak ada perkataan lelah ataupun tidak mungkin dan ini 366 hari dalam setahun. 

Seorang Ibu mendoakan dan mengingat anaknya sepanjang masa. Bukan hanya setahun sekali saja pada hari-hari tertentu.  Kenapa kita baru bisa dan mau memberikan bunga maupun hadiah kepada Ibu kita hanya pada waktu hari Ibu saja sedangkan di hari-hari lain tidak pernah mengingatnya?

Jangankan memberikan hadiah, untuk menelepon saja kita tidak punya waktu. Kita akan bisa lebih membahagiakan Ibu kita apabila kita mau memberikan sedikit waktu kita untuknya, waktu nilainya ada jauh lebih besar daripada bunga maupun hadiah. 

Renungkanlah: Kapan kita terakhir kali menelepon Ibu? Kapan kita terakhir mengundang Ibu?  Kapan terakhir kali kita mengajak Ibu jalan-jalan?  Kapan terakhir kali kita memberikan kecupan manis dengan ucapan terima kasih kepada Ibu kita?  Kapankah kita terakhir kali berdoa untuk Ibu kita? 

Berikanlah kasih sayang selama Ibu kita masih hidup, percuma kita memberikan bunga maupun tangisan apabila Ibu telah berangkat, karena Ibu tidak akan bisa melihatnya lagi. 

When mother prayed, she found sweet rest, when mother prayed, her soul was blest; Her heart and mind on Christ were stayed, And God was there when Mother prayed!  Our thanks, O God, for mothers who show, by word and deed, Commitment to Thy will and plan And Thy commandments heed. A thousand men may build a city, but it takes a mother to make a home. 

Apabila Anda mengasihi Ibunda Anda sebarkanlah tulisan ini kepada rekan-rekan lainnya, agar mereka juga sadar selama Ibunda mereka masih hidup berikanlah bakti kasih Anda kepada Ibunda terkasih sebelumnya terlambat. 

*) Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar