Kelirumilogi Tafsir
Oleh Jaya Suprana
ASKARA - Menurut pemikiran pribadi saya yang sudah barang tentu subyektif, sejak homo sapiens mulai bisa berpikir, pastinya makhluk berpikir ini mulai berpikir tentang pemikiran manusia yang selaras perjalanan waktu disebut dengan berbagai istilah, mulai dari jiwa, perilaku, psikologi, kognitif sampai neuroscience.
Namun, menurut hasil penelitian Pusat Studi Kelirumologi, adalah keliru menafsirkan tafsir sebagai pasti benar alias mustahil keliru. Apa yang disebut sebagai tafsir justru terletak pada salah satu di antara sekian banyak kearifan kelirumologis utama, yaitu di dalam kekeliruan niscaya ada kebenaran serta di dalam kebenaran niscaya ada kekeliruan.
Dan pada hakikatnya, tafsir merupakan unsur utama apa yang disebut sebagai kenisbian. Maka layak disimpulkan bahwa tidak ada tafsir yang bersifat konsepsual, akibat tafsir bukan senantiasa, namun bahkan niscaya kontekstual. Teorem mekanika kuantum menjadi mubazir jika kita tidak memahami dan mempercayai ketidakpastian Werner Heisenberg.
Di dalam pemikiran estetika, layak disepakati bahwa tafsir melekat pada selera yang kurang disukai para penyelenggara kontes kecantikan. Kecantikan jelas nisbi karena lebih bersifat subyektif ketimbang obyektif, di samping curang berlindung di balik dalih ceteris paribus. Meski sebenarnya, satu-satunya yang tidak berubah di universe, multiverse, atau apapunverse, hanyalah sang perubahan itu sendiri.
Secara subyektif saya menafsirkan bahwa lebih adil menyelenggarakan festival di mana segenap peserta menang ketimbang kompetisi di mana dipaksakan ada yang menang dan ada yang kalah. Menurut selera pribadi saya, pianis terbaik di planet bumi adalah Glenn Gould. Saya yakin beliau mustahil lolos babak pra-penyisihan Chopin Piano Competition sebab permainan pianoforte Glenn Gould terlalu kontroversial untuk selaras dengan selera seluruh anggota dewan juri. Kebetulan Glenn Gould juga tidak suka memainkan karya Fryderyk Chopin.
Martha Argerich berang sehingga walk out dari ruang kompetisi akibat dewan juri tidak memenangkan Ivo Pogorelic yang menurut tafsir selera Argerich seharusnya nomor wahid. Perbedaan tafsir memang merusak komunikasi.
Menurut tafsir selera subyektif saya pribadi, sebenarnya kesenian yang tidak bisa diukur an sich tidak layak dikompetisikan. Yang sebenarnya layak diolimpiadekan memang hanya olahraga yang prestasi kecepatannya, ketinggiannya, serta kejauhannya dapat diukur secara tidak nisbi alias akurat.
Maka Museum Rekor Dunia Indonesia tidak menganugerahkan penghargaan terhadap rekor yang bersifat kualitatif, namun terbatas pada hal-hal kuantitatif terukur seperti yang paling, yang pertama, dan yang satu-satunya.
Dan jangan lupa akan kenisbian apa yang disebut sebagai ilusi yang murni kontekstual, tergantung pada daya tafsir penginderaan manusia yang memang tidak sempurna sehingga kerap menyesatkan.
Misalnya kalimat “di dalam kalimat ini ada tiga kekeliruan” pasti hanya ditemukan dua kekeliruan oleh mereka yang tidak sadar bahwa kekeliruan ketiga adalah pernyataan bahwa di dalam kalimat itu ada tiga kekeliruan, padahal cuma dua.
Kalimat yang memelintir logika sambil out of the box tersebut merupakan fakta tak terbantahkan bahwa pada hakikatnya tafsir tidak kebal terhadap kekeliruan.

Komentar