MELAWAN LUPA DARI PULAU BURU
Jejak Tapol, Iman, dan Perjuangan Membuka Peradaban
"Di sinilah dulu kami membuka hutan..."
ASKARA - Suara Mbah Sutoyo pelan, nyaris tenggelam di antara desir angin yang mengusap hamparan padi di Desa Wanareja, Unit II, Pulau Buru. Usianya sekitar delapan puluh enam tahun. Satu dari tinggal 2 orang mantan Tapol yang ketemu tinggal di pinggir Desa Wanaraja, Unit II Kabupaten Buru. Keriput di wajahnya seperti menyimpan peta panjang perjalanan hidup yang tidak pernah selesai diceritakan.
Pandangannya lurus ke depan. Ke arah sawah 100 hektar yang kini menghijau, tenang, dan menghidupi ribuan keluarga dan kini lumbung padi Provinsi Maluku
Sulit dipercaya, hamparan subur itu dahulu adalah hutan lebat. Tidak ada jalan, tidak ada saluran air, tidak ada rumah. Yang ada hanya semak belukar yang perlahan ditaklukkan oleh tangan-tangan manusia yang datang bukan sebagai perintis, melainkan sebagai tahanan yang melaksanakan kerja paksa.
Saya datang ke Pulau Buru bukan untuk mencari sensasi sejarah. Saya datang sebagai seorang imam yang ingin belajar mendengar. Mendengar orang-orang yang masih mengingat. Mendengar tanah yang diam tetapi tidak pernah lupa. Sebab tanah selalu menyimpan jejak setiap langkah yang pernah melintasinya.
Bagi banyak orang Indonesia, Pulau Buru segera menghadirkan satu nama: Pramoedya Ananta Toer. Tetralogi Buru telah menjadikan pulau ini bagian dari ingatan bangsa. Namun ketika benar-benar berjalan di atas tanahnya, saya menyadari bahwa Pulau Buru menyimpan kisah yang jauh lebih luas daripada kisah seorang sastrawan.
Pulau ini adalah rumah bagi ribuan cerita yang tidak pernah masuk ke dalam buku sejarah.
Cerita-cerita itu hidup dalam ingatan para saksi.
Mbah Sutoyo adalah salah satunya.
Ia pernah menjadi bagian dari gelombang ribuan tahanan politik yang dikirim ke Pulau Buru. Setelah bebas, ia memilih tetap tinggal. Barangkali karena sebagian hidupnya telah tertanam di tanah ini.
Sejarah mencatat, antara tahun 1969 hingga 1979 pemerintah membangun kawasan Inrehabilitasi Tahanan Politik (Inrehab) di Pulau Buru. Mula-mula delapan belas unit permukiman, kemudian berkembang menjadi dua puluh satu unit. Dalam kurun sepuluh tahun, sekitar 10.500 tahanan politik menjalani kehidupan di kawasan ini.
Menariknya, kawasan itu bukan penjara seperti yang lazim dibayangkan.
Tidak ada tembok tinggi. Tidak ada kawat berduri yang membatasi cakrawala.
Yang ada adalah kamp-kamp sederhana dengan disiplin militer yang ketat. Apel pagi. Apel sore. Di antara keduanya, para tahanan membuka hutan, menggali saluran irigasi, membangun rumah, mencetak sawah, dan mengolah tanah yang kelak menjadi salah satu lumbung pangan Maluku.
Di sinilah ironi sejarah itu hadir.
Mereka yang datang dengan status tahanan justru menjadi orang-orang pertama yang mengubah belantara menjadi lahan kehidupan.
Di tengah kisah yang penuh luka itu, Gereja Katolik memilih hadir dengan cara yang sunyi. Bukan untuk masuk ke dalam pusaran politik, melainkan menjaga martabat manusia.
Pelayanan pastoral dimulai sejak tahun 1969 oleh *Pastor Werner Rovin, SJ*, bersama *Bruder Yuwono Wiharjono, SJ*. Pelayanan tersebut kemudian diteruskan oleh para imam Serikat Yesus, antara lain *Rm. Alex Dirjosusanto, SJ* dan *Rm. Yuwono Wiharjono, SJ*, yang secara berkala mengunjungi para tahanan politik Katolik di berbagai unit.
Di sisi lain, pelayanan kepada umat Katolik di lingkungan militer dilakukan oleh *Rm. Suto Panitro, Pr*, mewakili *Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI)*. Kehadiran Gereja di Pulau Buru menjadi sebuah kesaksian bahwa belas kasih tidak pernah memilih pihak. Gereja hadir bagi siapa pun yang membutuhkan harapan.
Yang mengagumkan, pelayanan itu tidak berhenti pada mereka yang telah beriman.
Banyak kesaksian menyebutkan bahwa sejumlah penghuni Inrehab dari berbagai latar belakang agama kemudian meminta dibaptis menjadi Katolik. Bersamaan dengan itu, masyarakat asli Pulau Buru yang sebelumnya hidup dalam kepercayaan leluhur mulai mengenal Kristus melalui kesaksian hidup para tahanan dan para misionaris.
Di Pulau Buru, pewartaan ternyata tidak pertama-tama lahir dari mimbar.
Ia lahir dari ketabahan.
Ia lahir dari kesetiaan.
Ia lahir dari cara manusia memperlakukan sesamanya ketika semua alasan untuk membenci sebenarnya tersedia.
Kisah itu kembali menemukan wajahnya ketika saya bertemu *Bapak Petrus Wail*, kelahiran tahun 1957.
Beliau dibaptis pada tahun 1976.
Kalimat yang ia ucapkan sederhana.
*"Saya belajar membaca dari mereka."*
Kalimat itu pendek. Namun sejarah yang dikandungnya sangat panjang.
Menjelang berakhirnya masa Inrehab pada tahun 1979, aparat memberi kesempatan kepada para tahanan untuk mengajar anak-anak kampung. Selama beberapa bulan sebelum dipulangkan, mereka membuka kelas-kelas sederhana. Anak-anak belajar membaca, menulis, dan berhitung.
Yang berdiri di depan kelas bukan guru biasa. Di antara para tahanan terdapat dosen, guru, insinyur, ahli pertanian, seniman, penulis, dan berbagai kaum intelektual. Sejatinya, dari sekitar 12.000 Tapol katakanlah demikian 10 dari Tapol hanya satu yang berhaluan komunis, 9 lainnya lebih Sukarnois dan memang tidak terlibat langsung dari kegiatan PKI. Mereka disebut Kelompok B. Tapi sedihnya, mereka masuk Pulau Buru TANPA PROSES PERADILAN.
Mereka boleh kehilangan kebebasan. Namun mereka tidak kehilangan panggilan untuk mencerdaskan kehidupan orang lain. Barangkali di situlah letak kemenangan kemanusiaan.
Bahwa martabat manusia tidak pernah sepenuhnya dapat dipenjara.
Tahun 1979 menjadi babak baru. Program Inrehab berakhir. Lahan-lahan yang telah dibuka kemudian diteruskan melalui program transmigrasi. Para transmigran dari Jawa bersama masyarakat lokal mengembangkan persawahan yang telah dirintis sebelumnya. Sedikit demi sedikit Pulau Buru berubah menjadi salah satu sentra produksi pangan di Provinsi Maluku.
Hari ini, sulit membedakan sawah mana yang mula-mula dicangkul oleh para tahanan politik, mana yang dikembangkan para transmigran, dan mana yang kini dikelola anak cucu mereka.
Sejarah rupanya bekerja seperti air yang mengalir dalam saluran irigasi. Ia tidak pernah berhenti.
Ia hanya terus menghidupi generasi berikutnya. Sore itu saya meninggalkan Wanareja ketika matahari perlahan tenggelam di balik hamparan padi.
Langit memerah.
Burung-burung kembali ke sarangnya.
Dan saya tiba-tiba menyadari bahwa Pulau Buru sesungguhnya sedang mengajarkan sesuatu yang sangat penting bagi bangsa ini.
Kita tidak dipanggil untuk melupakan sejarah.
Tetapi kita juga tidak dipanggil untuk tinggal di dalam luka sejarah.
Melawan lupa bukan berarti memelihara dendam.
Melawan lupa berarti memberi tempat yang jujur bagi setiap kisah, menghormati martabat setiap manusia, dan belajar agar sejarah yang kelam tidak kembali berulang.
Pulau Buru mengingatkan kita bahwa peradaban tidak selalu lahir dari ruang-ruang kemenangan. Sering kali ia justru bertumbuh dari tanah yang pernah basah oleh air mata, dari tangan-tangan yang tetap bekerja ketika harapan nyaris padam, dan dari orang-orang yang memilih tetap menjadi manusia ketika kemanusiaannya sedang diuji.
Mungkin itulah pelajaran terbesar dari pulau ini.
Luka masa lalu tidak harus menguburkan asa.
Dari tanah yang pernah menjadi tempat pengasingan, tumbuh sawah-sawah yang memberi kehidupan. Dari kisah yang pernah dipenuhi derita, lahir benih-benih pendidikan, iman, persaudaraan, dan pengharapan.
Masa lalu memang tidak dapat diubah.
Namun masa depan selalu dapat dibangun.
Dan selama bangsa ini masih berani mengingat dengan jujur sekaligus melangkah dengan harapan, matahari akan selalu terbit di ufuk Pulau Buru—membawa cahaya baru bagi perjuangan kemanusiaan di Pertiwi Indonesia.
Salam sehat, limpah berkat.
+ Rm. Yos Bintoro, Pr.

Komentar