Minggu, 07 Juni 2026 | 01:07
OPINI

Mengenang Chairil Anwar

Mengenang Chairil Anwar
Ilustrasi mengenang Chairil Anwar (Dok Gemini)

Oleh: Jaya Suprana

Nama: Chairil Anwar

Lahir: Medan, 26 Juli 1922

Wafat: Jakarta, 28 April 1949, umur 26 tahun karena TBC

Julukan: Si Binatang Jalang, Bapak Puisi Modern Indonesia

Latar: Anak bangsawan Minang, pindah ke Jakarta tahun 1940. Hidup keras: miskin, ngopi, ngerokok, baca buku sampai pagi di kamar kontrakan.

Karya kunci: Aku, Cemara, Derai-Derai Cemara, Krawang-Bekasi.

Angkatan: Angkatan '45. Dia mematahkan pola Pujangga Baru yang rapi. Sumpahnya: “Aku mau hidup seribu tahun lagi.”

Chairil Anwar hanya hidup 26 tahun saja, dan hanya sekitar empat tahun menulis. Tapi bahasa Indonesia tidak pernah sama lagi setelah dia.

Sebelum Chairil, puisi adalah pantun rapi, kata-kata manis, dan rima yang wajib. Chairil datang membawa kata jalanan, bahasa Belanda, serta napas pendek. Dia bilang: puisi harus jujur, walau sakit.

Hidupnya sama dengan puisinya. Liar, tidak mau diatur, tidak mau meminta belas kasihan. Ia mati miskin di RS Cikini, tetapi meninggalkan warisan yang membuat anak SMA tahun 2026 masih hafal puisinya.

Jika dibaca berdampingan, Aku (1943) dan Cemara (1949) itu seperti dua foto Chairil: yang muda mengamuk, yang tua pasrah. Bedanya bisa disusun satu per satu seperti berikut:

1. Nada

Aku mengamuk dan menantang kematian dengan kalimat “Tak perlu sedu sedan itu”, sementara Cemara lirih dan menerima dengan “Berdiri menanti dan berdoa.”

2. Posisi “Aku”

Di Aku, subjeknya berdiri tegak sebagai “binatang jalang dari kumpulannya terbuang”, tetapi di Cemara, subjeknya melebur menjadi pohon yang hanya “bercinta dengan angin.”

3. Sikap kepada Tuhan

Aku menolak diratapi Tuhan lewat kalimat “Tidak juga kau”, sedangkan Cemara justru memohon “Sekali seumur / Sekali di hidup.”

4. Ritme

Aku menghantam dengan kata-kata pendek dan kata “Aku” yang diulang 17 kali seperti pukulan drum. Sebaliknya, Cemara mengalun panjang lewat pengulangan “derai-derai” seperti bisikan napas.

5. Citra Alam

Aku memperlakukan alam sebagai arena perang: “terjangan dan tempuh”. Sementara Cemara menjadikan alam sebagai teman curhat: “derai-derai cemara meraung seperti derita.”

6. Estetika

Aku menganut estetika ekspresionis yang meludahi luka ke atas kertas. Sebaliknya, Cemara memakai estetika simbolis yang membisikkan luka ke angin.

Titik temunya hanya satu: sama-sama sendiri.

Aku sendiri karena memilih keluar dari barisan. Cemara sendiri karena ditinggal barisan. Senjata Chairil berganti: muda memakai api, tua memakai angin. Tetapi kejujurannya tidak pernah berubah.

Chairil memberi pelajaran bagi kita dua hal sekaligus: berani hidup dan berani mati.

Aku mengajarkan bahwa hidup itu terjang, jangan menunduk.

Cemara mengajarkan bahwa mati itu tenang, jangan takut.

Dia wafat pada usia 26 tahun, tetapi sumpahnya menjadi kenyataan: “Aku mau hidup seribu tahun lagi.”

Buktinya, setiap kali kita membaca dua mahapuisi itu, Chairil hidup lagi di dada kita.

 

Komentar