WR Soepratman dan Koran-Koran Tua: Nilai-Nilai Pancasila Sudah Hidup Sebelum 1945
Oleh Dr. Dario Turk
“Pancasila bukan sekadar dokumen sejarah, juga Pancasila tidak boleh sekadar slogan yang kita ucapkan dalam setiap upacara.”
— Presiden Prabowo Subianto, Peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026
ASKARA - Kalimat itu menggema dari Gedung Pancasila pada 1 Juni 2026. Keras. Jelas. Dan — jika kita jujur — realitas di lapangan belum banyak berubah.
Di banyak sekolah Indonesia, 1 Juni masih berlalu seperti hari libur biasa. Tidak ada upacara. Tidak ada refleksi. Tidak ada percakapan tentang mengapa hari itu penting. Generasi Z dan Generasi Alpha — generasi yang tumbuh di era TikTok, algoritma, dan gelembung digital — semakin jauh dari Pancasila bukan karena mereka bodoh atau tak peduli, tetapi karena tidak ada yang berbicara kepada mereka dalam bahasa yang mereka mengerti.
Dan ironisnya, bukti bahwa nilai-nilai yang kemudian dirumuskan sebagai Pancasila sudah hidup jauh sebelum tahun 1945 telah lama tersimpan dalam koran-koran tua yang menguning.
Apa yang Diungkapkan Koran-Koran Tua
Dalam menelaah berbagai arsip pers sezaman, Yayasan Wage Rudolf Soepratman – Meester Cornelis Jatinegara menemukan jejak nilai-nilai yang kelak dirumuskan sebagai Pancasila jauh sebelum 1 Juni 1945 — dalam karya dan sikap seorang pemuda bernama Wage Rudolf Soepratman.
Tentang persatuan. Majalah Star (16 Agustus 1958) merekam momen besar: sebelum Kongres Pemuda 1928, gerakan kebangsaan Indonesia masih terkotak-kotak — kedaerahan, kesukuan, saling curiga. Indonesia Raya mengubahnya. Surat kabar Sin Po, dalam tulisan wartawan berinisial Es Ka, mencatat bahwa lagu itu mulanya dikira milik satu partai, lalu dipakai oleh seluruh pergerakan kebangsaan hingga akhirnya diakui sebagai lagu bersama. Satu melodi melarutkan ego golongan. Itulah nilai persatuan yang kemudian dirumuskan dalam Sila Ketiga Pancasila.
Tentang kemanusiaan. Yang paling mengejutkan justru datang dari pers kolonial Belanda. De Sumatra Post — media penjajah — menulis bahwa siapa pun yang membaca lirik Indonesia Raya dengan jernih tak akan menemukan hasutan atau kebencian. Yang ada hanyalah ekspresi cinta pada tanah kelahiran dan ajakan memajukan negeri. Menariknya, bahkan surat kabar kolonial Belanda melihat bahwa nasionalisme yang diperjuangkan WR Soepratman bukanlah kebencian terhadap bangsa lain, melainkan kecintaan kepada tanah air sendiri. Di situlah kita menemukan cerminan nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Tentang pengabdian. Majalah Star No. 659 memuat kata-kata WR Soepratman sendiri yang seharusnya dipajang di setiap kelas Indonesia: “Saja merasa puas dalam hidup ini, karena pengabdian saja telah diterima oleh nusa dan bangsa.” Bukan kutipan dari pidato resmi. Tetapi dari seorang pemuda yang hidupnya dikejar polisi rahasia kolonial, piringan hitamnya disita, namun tetap memilih jalan pengorbanan. Ia menghidupi nilai Pancasila melalui tindakan nyata, bukan sekadar pencitraan.
Tentang kesadaran ketuhanan dalam perjuangan kebangsaan. Harian Pemandangan (17 Agustus 1938) melaporkan wafatnya WR Soepratman dengan doa agar jasanya bagi nusa dan bangsa diterima oleh “Jang Maha Koeasa” (ejaan lama dari “Yang Mahakuasa”). Iklim perjuangan kebangsaan saat itu kental dengan napas spiritual — bukan sektarian, bukan eksklusif, tetapi bersandar pada Yang Mahakuasa sebagai sumber kekuatan.
Temuan-temuan ini menunjukkan satu hal yang sulit dibantah: WR Soepratman wafat pada 17 Agustus 1938, tujuh tahun sebelum Pancasila dirumuskan sebagai dasar negara. Tetapi ia sudah menghidupi nilainya jauh sebelum kata itu ada.
Jika Bung Karno adalah perumus Pancasila sebagai dasar negara, maka WR Soepratman adalah salah satu pelopor yang menanamkan semangat persatuan yang menjadi jiwa dari Pancasila itu sendiri. Inilah alasan mengapa pembelajaran Pancasila dan pembelajaran sejarah WR Soepratman seharusnya tidak dipisahkan — keduanya berbicara tentang hal yang sama: membangun Indonesia yang bersatu, berkarakter, dan mencintai tanah airnya.
Krisis yang Sesungguhnya
Kini mari kembali ke hari ini. Generasi Z dan Generasi Alpha adalah generasi paling terhubung dalam sejarah manusia — dan paradoksnya, bisa menjadi generasi paling terputus dari akar kebangsaannya. Bukan karena mereka tidak peduli. Tetapi karena sistemnya gagal.
Tanyakan kepada siswa kelas sepuluh apa makna Sila Ketiga. Ia menjawab benar: “Persatuan Indonesia.” Tanyakan apa artinya bagi hidupnya hari ini. Ia pun terdiam. Hafalan tanpa penghayatan. Ritual tanpa roh. Ini bukan kegagalan anak muda — melainkan kegagalan institusi yang hanya mengejar nilai ujian, bukan karakter bangsa.
Sementara itu, media sosial mengerjakan kebalikannya dengan sangat efisien. Algoritma media sosial cenderung memperkuat polarisasi, bukan menyatukan. Kita yang sudah merdeka justru membiarkan diri terkotak-kotak lebih parah dari pemuda-pemuda 1928 yang berhasil WR Soepratman satukan dengan satu lagu.
Satu Langkah Konkret
Yayasan Wage Rudolf Soepratman – Meester Cornelis Jatinegara mengajukan satu usulan sederhana kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah: wajibkan upacara bendera dan pembacaan Pancasila di seluruh sekolah setiap tanggal 17 setiap bulan, serta refleksi singkat mengenai penerapan salah satu nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Bukan nostalgia. Ini prinsip habitualisasi — karakter tidak terbentuk dari satu ceramah, melainkan dari kebiasaan yang diulang. Dua belas kali setahun, setiap siswa berdiri, menatap bendera Merah Putih, mengucapkan Pancasila — bukan karena takut dihukum, tetapi karena perlahan memahami bahwa itu adalah janji mereka sebagai warga bangsa.
Tentu ritual saja tidak cukup. Ia harus disertai diskusi nyata: bagaimana Sila Ketiga berlaku ketika kamu ikut menyebar hoaks yang memecah belah? Bagaimana Sila Kedua berlaku ketika kamu diam melihat teman dirundung di grup WhatsApp? Bagaimana gotong royong bermakna di era gig economy yang merayakan individualisme?
Kalau WR Soepratman bisa menyatukan bangsa yang terpecah dengan satu lagu — tanpa internet, tanpa studio rekaman, dan tanpa anggaran — maka sesungguhnya tidak ada alasan generasi hari ini tidak bisa menghidupkan kembali ruh itu. Hanya perlu kemauan.
Penutup
WR Soepratman wafat muda, dikejar penjajah, tanpa pernah menyaksikan kemerdekaan yang ia perjuangkan. Tetapi koran-koran tua merekam bahwa ia merasa puas — karena pengabdiannya diterima nusa dan bangsa.
Presiden Prabowo benar: Pancasila tidak boleh menjadi mantra. Tetapi seruan dari istana tidak akan mengubah apa pun jika tidak ada tindakan di ruang kelas.
Koran-koran tua sudah bicara. Pertanyaannya: apakah kita mau mendengar?
Dr. Dario Turk adalah Pendiri dan Pembina Yayasan WR Soepratman Meester Cornelis Jatinegara.

Komentar