Senin, 08 Juni 2026 | 21:14
NEWS

Prof Rokhmin Dahuri: Untuk Bangun Daerah dan Negara Tidak Susah Kalau Kita Mau Belajar

Prof Rokhmin Dahuri: Untuk Bangun Daerah dan Negara Tidak Susah Kalau Kita Mau Belajar
Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS

ASKARA - Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan-RI 2020 – 2024, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS menyampaikan, untuk membangun daerah dan Negara tidak susah kalau kita mau belajar.

“Ada empat kunci sukses untuk membangun suatu wilayah entah Kabupaten Pelalawan (Provinsi Riau), Kabupaten Cirebon (Provinsi Jawa Barat) atau Indonesia,” demikian dikatakan Prof. Rokhmin Dahuri lewat akun Instgramnya, @rokhmindahuriid dikutip Sabtu (19/3/2022).

Pertama, punya rencana (Roadmap, Blueprint) pembangunan yang tepat dan benar serta diimplementasikan secara berkesinambungan.

Kedua, setiap komponen (Penduduk, Sektor Pembangunan) dari wilayah itu menyumbangkan kemampuan terbaiknya bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Ketiga, antar komponen bekerjasama secara sinergis; dan Keempat, Pemimpin yang cakap, kuat, dan baik (Issard, 1972).

Keempat, a capable, strong, and good leader. Pemimpin suatu negara harus memiliki kapasitas tersebut untuk membangun bangsa yang besar.

Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia ini menjelaskan syarat untuk menjadi Negara Maju, Adil-Makmur dan Berdaulat, khususnya Kabupaten Pelalawan pertumbuhan ekonominya harus 7 persen pertahun. Ditingkat nasional tahun lalu baru 3,6  persen, Pelalawan 4.7 persen. Kemudian investasi plus ekspor harusnya lebih besar daripada konsumsi dan impornya dan harus adil.

“Namun yang penting gerak pembangunan di Kabupaten Pelalawan harus ramah lingkungan dan sustainable,” ujar Prof. Rokhmin Dahuri dalam paparannya pada Musrembang RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah) “Optimalisasi Pemanfaatan Sumber Daya Pembangunan dalam Pemulihan Ekonomi Daerah” Pemerintah Daerah Kabupaten Pelalawan di Gedung Daerah Datuk Laksemana Mangkudiraja - Pelalawan, (16/3).

Terkait transformasi struktural ekonomi bagaimana keutuhan suatu bangsa untuk menganekaragaman struktur produksinya untuk menciptakan aktivitas ekonomi baru untuk memperkuat kaitan antara satu sektor ekonomi dengan yang lainnya. Kemudian untuk membangun kemampuan teknologi dan inovasi.

“Jadi tidak ada kata mudah untuk membangun suatu daerah dari menengah menjadi maju dan makmur. Ini rumus awal apa yang dimaksud dengan transformasi structural ekonomi yang sering dibicarakan oleh Presiden kita,” ujar Ketua Dewan Pakar MPN (Masyarakat Perikanan Nusantara) itu.

Dalam versi Prof Rokhmin Dahuri, seharusnya ada 6 elemen transformasi struktural ekonomi yang dilakukan disetiap wilayah Indonesia:

1. Dari dominasi eksploitasi SDA dan ekspor komoditas (sektor primer) dan buruh murah, ke dominasi sektor manufaktur (sektor sekunder) dan sektor jasa (sektor tersier) yang produktif, berdaya saing, inklusif, mensejahterakan, dan berkelanjutan (sustainable).

2. Dari dominasi sektor impor dan konsumsi ke dominasi sektor investasi, produksi dan ekspor.

3.Modernisasi sektor primer (kelautan dan perikanan, pertanian, kehutanan, dan ESDM) secara produktif, efisien, berdaya saing, inklusif, ramah lingkungan dan berkelanjutan.

4.Revitalisasi industri manufakturing yang unggul sejak masa Orde Baru: (1) Mamin, (2) TPT (Tekstil dan Produk Tekstil), (3) kayu dan produk kayu, (4) pulp and paper, (5) Elektronik, (6) Otomotif, dan lainnya.

5.Pengembangan industri manufakturing baru: mobil listrik, EBT, Semikonduktor, Baterai Nikel, Bioteknologi, Nanoteknologi, Kemaritiman, Ekonomi Kreatif, dan lainnya.

6.Semua pembangunan ekonomi (butir-1 s/d 5) mesti berbasis pada Pancasila (pengganti Kapitalisme), Ekonomi Hijau (Green Economy), dan Ekonomi Digital (Industry 4.0). Terakhir ekonomi Pancasila.

Menurut Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB University itu, dua kegagalan dari kapitalisme adalah lingkungan hidup, dan ketidakadilan yakni gap antara kaya dan miskin yang membuat dunia itu tidak stabil. Kegagalan yang paling utama dari kapitalisme adalah karena tidak percaya adanya Tuhan. Sehingga orang kaya model kapitalisme itu orang model Qarun, seolah-olah harta itu karena kecerdasan, kerja keras sendiri.

“Sedangkan menurut versi Pancasila, berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, itu meyakini adanya Tuhan dan meyakini adanya akhirat. Harta dan kekuasaan bukan karena diri sendirinya saja, tapi titipan dari Allah. Kalau presepsi kita sama kita tidak mungkin pelit, kita tidak mungkin jahat sama tetangga, pasti kita berbagi. Itu yang kita ingin usulkan, bahwa Pancasilan menjadi ideologi dunia.Karena Ketuhanan Yang Maha Esa yang bisa menyelamatkan bencana peradaban saat ini,” sebut Menteri Kelautan dan Perikanan Kabinet Gotong Royong itu.

Prof Rokhmin mengingatkan Bupati Pelalawan, H Zukri Misran untuk menginstruksikan Kepala Dinas (OPD) bidang ekonomi (Pertanian, Kelautan dan Perikanan, Perindustrian, ESDM, Perdagangan,  Koperasi – UMKM, dan Naker) harus melakukan pendataan warga yang menjadi tanggung jawabnya (petani, nelayan, buruh, UMKM dan pekerja sektor informal) by name and by address.

Lalu, pilah berdasarkan income 300 dolar AS/orang/bulan untuk mengkalisifikasikan mana yang masih miskin dan mana yang sudah sejahtera (income > 300 dolar AS/orang/bulan).  Kemudian, buat kebijakan dan program kerja untuk pengentasan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan mereka yang sudah sejahtera, sehingga income nya > 12.695 dolar AS perkapita.

Kepala Dinas bisa menjalankan instruksti Bupati, kalau menggerakan setiap unit bisnis (usaha), khususnya UMKM harus menerapkan: (1) skala ekonomi (economy of scale); (2) Integrated Supply Chain Management System; (3) tekonologi mutakhir (termasuk teknologi era Industri 4.0); dan (4) ramah lingkungan dan ramah sosbud (Sustainable Development).

Perkuat dan kembangkan kerjasama produktif dan saling mnguntungkaan (win-win) antara usaha besar (corporations) dengan UMKM. Sekanjutnya, Pembangunan Kedaulatan/Ketahanan Pangan, Farmasi, Energi, dan Air: (1) Peningkatan produktivitas dan produksi, (2) Pengendalian konsumsi (demand), dan (3) Sistem Logistik dan Distribusi.

Prof Rokhmin juga berpesan kepada Bupati Pelalawan jangan mempertentangkan usaha besar dan usaha kecil. “Justru dengan kharisma Pak Bupati itu dekatkan. Antara RAPP dengan Rakyat, antara Sinar Mas dengan Rakyat. Itu yang membuat Korea maju, Kanada maju, China maju, karena pemerintahnya tidak mempertentangkan antara usaha besar dan usaha kecil,” katanya.

Tapi,Prof. Rokhmin Dahuri menekankan, tugas pengusaha besar bagaimana meningkatkan kapasitas dan kemakmuran pengusaha kecil. Perkuat dan kembangkan kerjasama produktif dan saling mnguntungkaan (win-win) antara usaha besar (corporations) dengan UMKM. “Kalau itu yang terjadi kalau Kabupaten Pelalawan menjadi model seluruh Indonesia bagaimana kemitraan antara usaha besar dan kecil,” kata Honorary Ambassador of Jeju Islands dan Busan Metropolitan City, South Korea itu.

Komentar