Senin, 15 Juni 2026 | 19:02
COMMUNITY

Bukan Sembarang Politisi PDIP, Prof. Rokhmin Dahuri Dikenal Sebagai Pendakwah, penasihat ICMI Yang Vokal Soal Agama

Bukan Sembarang Politisi PDIP, Prof. Rokhmin Dahuri Dikenal Sebagai Pendakwah, penasihat ICMI Yang Vokal Soal Agama
Prof. Rokhmin Dahuri berbicara di Podcast Pejuang (sc podcast pejuang)

ASKARA – Siapa tak kenal Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS. Menteri Kelautan dan Perikanan era Presiden Gus Dur dan Megawati itu kini duduk sebagai Anggota DPR RI Periode 2024–2029. Tapi publik mengenalnya bukan cuma sebagai pakar kelautan. Ia juga pendakwah, penasihat ICMI, dan politisi PDIP yang vokal soal agama.

Dalam Podcast Pejuang bertajuk "Bukan Sembarang Politisi PDIP, Sosok Ini Ternyata Pendakwah dan Penasihat ICMI" yang dipandu M. Chozin Amirullah, Jumat (5/6), Prof. Rokhmin membongkar pandangannya soal ilmu, agama, dan bobroknya sistem kapitalisme.

"Ilmuwan Muslim Dulu Serba Bisa, Kenapa Sekarang Dicemburuin?"

Prof. Rokhmin menyoroti budaya cemburu terhadap orang yang menguasai banyak bidang. Padahal, kata dia, di era The Golden Age of Muslim abad 8 sampai 13, hal itu biasa.

"Saya ingat Ibnu Al-Khawarizmi itu bukan hanya ahli algoritma Aljabar, tetapi juga ahli kimia. Pencipta pesawat terbang, Ibnu Firnas, selain ahli matematika, dia ahli biologi juga," ungkap Guru Besar IPB University itu.

Kuncinya, kata dia: quantitative thinking. Kalau daya analisis bagus dan rajin baca, seseorang bisa menguasai banyak ilmu. “Yang penting kita banyak baca. Sama berdoa kepada Allah supaya kita punya kemampuan menganalisis dan mensintesis.”

"Masalah Bangsa Tak Bisa Dipecahkan Satu Disiplin Ilmu"

Ketua Umum MAI ini menegaskan, realitas pembangunan terlalu kompleks untuk satu bidang ilmu. “Nggak mungkin suatu masalah pembangunan tuh hanya dipecahkan oleh satu disiplin ilmu. Nah jadi betul. Yang penting kita banyak baca.”

Ia pun punya passion untuk itu. Meski sering dicap “generalis”, Prof. Rokhmin tak sedih. “Setelah saya banyak baca mengenai kegemilangan umat Islam, saya nggak begitu sedih tuh kalau dituduh, ‘Wah ini generalis nih’.”

PDIP: Gabungan Nasionalis-Religius, Bung Karno Sangat Islami. Soal pilihan politiknya di PDIP, Prof. Rokhmin punya jawaban tegas. Menurutnya, AD/ART PDIP sebenarnya gabungan nasionalis-religius.

“Bung Karno kan, dia tahajud, sangat Islami. Beliau menantunya tokoh Muhammadiyah di Demak. Gurunya A. Hassan, HOS Tjokroaminoto, Kyai Haji Ahmad Dahlan, ulama-ulama besar. Nah jadi, cuman dia nasionalis.”

Sebagai Muslim, ia yakin pedoman hidup dari Allah harus jadi pegangan manusia. “Sila pertama Pancasila kan Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi tafsiran saya, monggo. Setiap umat beragama ber-fastabiqul khairat, berlomba-lomba untuk sistem perundangan di Indonesia itu diwarnai oleh keyakinan agamanya masing-masing.”

3 Alasan Hidup Harus Pakai Pedoman Tuhan

Prof. Rokhmin menyebut 3 alasan kenapa manusia wajib hidup pakai “manual” dari Pencipta:

1. Alasan rasional. “Setiap pencipta menciptakan ciptaannya, itu pasti membuat manual, buku pedoman. Kalau kita menjalani hidup tidak berdasarkan pedoman yang dibuat oleh Penciptanya, pasti gagal.”

2. Istidraj itu nyata. Ia menyindir orang yang jauh dari Tuhan tapi hidupnya mentereng. “Ijazah palsu pun jadi-jadi orang top. Tapi itu istidraj. Mohon maaf ya, lihat istana keluarganya hancur. Istrinya kena narkoba, anaknya segala macam. Tidak ada kebahagiaan.”

3. Dalil naqli jelas. Ia mengutip Ali Imran ayat 85: “Bahwa barang siapa manusia yang tidak berpedoman hidup pada pedoman yang diturunkan oleh Tuhannya, maka amalannya ditolak. Dan di akhirat, khasirin. Merugi kalau merugi kan masuk neraka.”

Juga Al-Maidah 44: “Wa mal lam yahkum bima anzalallahu fa ula’ika humul-kafirun.” Artinya, manusia yang menetapkan perkara ekonomi, waris, pendidikan, tidak berdasarkan pedoman Tuhan, kafir dia.

"Ngaku Islam Tapi Ekonomi Pakai Kapitalis, Ya Hancur"

“Nah, ini yang banyak Muslim sekuler dan nggak PD. Karena kalau mengungkapkan seperti saya, pasti nggak jadi menteri di era Jokowi kemarin. Dibilang radikal. Padahal tidak,” tegasnya.

Menurutnya, Islam harus dijalankan kaffah, menyeluruh. “Nggak bisa kalau umrah, kalau ibadah mahdhah, ya salat pakai Islam, tapi ekonomi, teknologi, pendidikan pakai kapitalis. Itu hancurnya.”

Buktinya, Islam berjaya 11 abad, dari abad ke-7 sampai ke-18. “Yang bikin Muhammad, oleh Michael Hart, dinobatkan sebagai orang terbaik sepanjang masa.”

Sentil Keras Kapitalisme: 8 Orang Kuasai 50% Harta Dunia, Trump & Elon Musk Jadi Contoh

Prof. Rokhmin membeberkan data Oxfam: tahun 2010, 338 orang terkaya dunia punya harta sama dengan 50% penduduk bumi. “7 tahun berikutnya, yang 338 tuh menurun jadi 8. Jadi 8 orang itu kekayaannya sama 50%. Jadi artinya makin senjang.”

Di Amerika lebih parah. “1% orang Amerika terkaya sama dengan 99% kekayaan Amerika,” kutipnya dari Joseph Stiglitz.

Kenapa? “Karena memang ajaran dasar dari kapitalisme ya itu profit maximization. Nggak peduli lingkungan hidup, nggak peduli zakat, pemerataan nggak ada. Sehingga yang namanya teori trickle down effect nggak ada.”

Ia pun menyentil Elon Musk dan Donald Trump. “Lihat si Elon Musk makin kaya, NASA planning mau ke Mars. Mohon maaf, Pak Donald Trump, ya terbukti di pengadilan Anda ngemplang pajak 370.000.000 US dollar. Anda itu tidak tahan dengan wanita cantik. Terbukti semua. Anda pembohong, terpilih. Mana demokrasi itu bener?”

“Kapitalisme itu policy-nya seolah-olah hanya untuk Amerika aja. Soal kenaikan tarif, menghajar Palestina segala macam. Dunia kan saling tergantung.”

Solusi Islam: Zakat, Infak, dan Akhlak Nabi Muhammad

Bandingkan dengan Islam. “Kenapa waktu Islam berjaya itu menguasai 23 wilayah dan tidak ada satu mustahik zakat pun? Karena memang ada hadits: kalau ada seorang Muslim yang bisa tidur nyenyak, lalu tetangganya kiri kanan ada yang nganggur, ada yang kelaparan, kalau bukan umatku. Dalam keyakinan kami, di akhirat masuk neraka.”

Ia mencontohkan akhlak Nabi Muhammad yang memilih hidup sederhana padahal bisa jadi orang terkaya. “Kalau zaman sekarang 20% aja nuruti akhlak Nabi Muhammad, akhlak Sayyidina Abu Bakar Siddiq, wah Indonesia itu sudah baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” tutupnya.

 

 

Komentar