Rabu, 29 September 2021 | 00:19
OPINI

Cinta Tertinggi Saat PPKM Level 4

Cinta Tertinggi Saat PPKM Level 4
Ilustrasi Cinta Tertinggi Saat PPKM Level 4 (int)

Oleh: Elva Tazar *)

Berkali kali Agus melirik  jam tangannya, 30 menit lagi jam 8 malam, dia harus segera pulang  kalau tidak ia akan berurusan dengan  satpol pp yang galaknya melebihi polisi. Aturan saat PPKM ini jika melanggar, didenda seperti penjual sate kemarin malam harus rela bayar  1 juta padahal  satenya baru laku 3 porsi. Malam ini,

Tak satupun pembeli, jalanan sepi. Berkali kali Agus malihat ke jalanan, " Ya Allah,.. kirimlah pembeli walaupun hanya seporsi nasi goreng agar istriku tidak kecewa.." Bisik batin Agus. Namun sampai menjelang jam 8 malam tak satu pun  pembeli menghampiri. Agus makin gusar, sungguh PPKM ini membuat hidupnya yang sangat pas pasan makin sensara. Istrinya tadi mengatakan bahwa beras sudah habis, untuk  jualan besok sudah tidak ada beras lagi. Ya Allah, tolonglah hamba. Doa Agus berkali kali.

Jam 8 malam kurang 10 menit. Teman temannya sesama pedagang kaki lima sudah  beres beres, mereka tak ingin berurusan dengan satpol PP.  Agus melihat kucing liar yang biasa menanti  sisa makanan. Kucing pun kelaparan karena tidak ada pembeli, maka tak ada sisa makanan.  

Agus  lalu mengambil telur dan mengaduknya dengan nasi putih lalu diberikan kepada kucing  kucing liar itu. "Kamu kelaparan ya?, kasihan,” bisik Agus sambil memberikan sepiring nasi telor,  dengan lahap kucing kucing itu makan. Agus tersenyum hatinya sedikit terhibur walaupun nasi goreng nya belum ada yang beli paling tidak bisa memberi makan hewan kesayangan Rasulullah.

Jam 8 malam, Agus siap siap pulang. Satpol  PP sudah berseliweran mengingatkan agar menutup warung. Agus, hanya bisa istigfar dalam hati,  berusaha  untuk tidak kecewa, qodarulah ini takdir Allah. Mungkin hari ini belum rezekiku. Alhamdulillah Aku dan keluargaku masih sehat tidak terpapar covid.  Tak perlu sedih. Agus menghibur dirinya.

Tini, hanya bisa menarik nafas panjang melihat suaminya pulang tanpa bawa uang. Sejak PPKM  ini hidup mereka kian morat marit. Kemarin suaminya bawa uang 30 ribu sekarang malah tidak ada sama sekali.

Dia paham  di saat PPKM ini dagang dibatasi. Hanya buka 2 jam, buka jam 6 sore  harus tutup jam 8 malam. Padahal  ramai pembeli diatas jam 8. Biasanya suaminya  baru kembali  ke rumah jam 11 malam. "Ya Sudahlah Bang, kita masih bisa makan besok dengan sisa nasi malam ini. Tapi setelah ini kita harus pikirkan Bang untuk pinjam uang koperasi karena uang kita sudah habis Bang,.. " Belum selesai ucapan Tini,

Agus langsung menyela, " Sudah berapa kali Abang ingatkan Dek, jangan sekali kali pinjam uang kalau berbunga, Abang nga mau makan dari bisnis Riba Dek," Jawab Agus agak keras, Tini kaget dia tidak mengira suaminya bisa semarah itu. "Terus bagaimana Bang, kalau setiap hari begini kita makan apa?, kalau kita masih bisa puasa Bang, anak anak kita bagaimana?. Kejam banget rezim ini Bang, ayam saja dikurung dikasih makan," Tini menangis, ia benar benar bingung harus bagaimana. Agus menarik nafas panjang, dengan lembut ia peluk istrinya, " Dek, jangan sedih, yakinlah Allah bantu kita, nggak usah berharap pada manusia Dek apalagi sama pemerintah, pasti kita kecewa, nga ada gunanya. Hasbunaulah waniakmal wakil.. Cukuplah Allah tempat kita berlindung.  Sabar yaa Dek, Abang akan pikirkan untuk makan kita selanjutnya.." Agus berusaha menenangkan istrinya walaupun dia sendiri bingung untuk  2 hari ke depan apa yang akan mereka makan.

"Ini Agus ya? Dulu  SMA 1 Dumai ? Masih ingat sama aku?". Agus mengerut keningnya siapa ya? Kemudian laki laki itu melepas maskernya. "Aku Faisal."  Agus langsung ingat Faisal sahabatnya waktu SMA di Dumai. "Masya Allah, Faisal, Apakabar." Tak bisa ditahan lagi padahal PPKM harus taat prokes tidak  boleh berpelukan.  Namun 2 sahabat yang sudah 15 tahun tak bertemu itu sudah lupa aturan. Mereka saling berpelukan erat

"Ayo Gus, ikut aku, kita bernostalgia," ajak Faisal. Agus agak ragu untuk mengikuti  ajakan teman lamanya, namun dia tak ingin mengecewakan Faisal.

"Aku ingat waktu tamat SMA, kau pindah ke Surabaya ya, sejak itu kita nga pernah ketemu. Sudah berapa anakmu Gus?" Tanya Faisal.  "Alhamdulillah 2 dan kamu Sal, sejak kapan tinggal di sini?" tanya Agus penasaran dia tahu Faisal asli orang Melayu. "Sudah 5 tahun disini Gus, alhamdulillah dipercayai mengurus perusahaan. Anakku baru 1. Oh ya, kita makan di warteg yuk, sambil ngombrol.  Waduh..  makan dibatasi 20 menit," Kata Agus sambil tertawa. "Wes, makin nggak jelas aja aturan, makin bingung  kita,” ucap Faisal dengan nada kesal. "Terimakasih Sal, aku langsung pulang saja,  istriku sudah menunggu di rumah,” tolak Agus walaupun ia sangat ingin berlama lama dengan Faisal.

Sepanjang perjalanan  Faisal terus bertanya keadaan Agus dan Agus tanpa malu malu menceritakan sejak di PHK 2 tahun yang lalu dia menjual nasi goreng. Bingung mau kerja apa dengan ijazah SMA yang  ia punya. Faisal, hanya bisa membatin sungguh nasib orang tidak ada yang tau, Agus waktu SMA selalu juara dan berprestasi, hanya Agus bukanlah dari keluarga kaya. Faisal meneruskan kuliah di Jakarta sejak itu tak pernah tau dimana keberadaan Agus.

 "Stop Sal, aku turun disini saja, mobil nga bisa masuk ". Mobil Pajero itu berhenti  di depan gang  kecil. Baru beberapa meter Agus berjalan,  "Gus, sebentar ini untukmu." Faisal mengejar  Agus sambil menyerahkan amplop putih.  Titip ya buat anakmu dari om Faisal." Agus ragu menerima amplop itu, " Apa nih Sal?" tanyanya. "Buat anakmu Gus. Ok aku pamit ya. Maaf aku nggak bisa mampir karena ada janji. Kalau ada apa-apa  kontak aku ya."

Tini membuka amplom putih itu dan matanya pun terbelalak melihat beberapa lembar uang merah. Ya Allah, 2 juta Bang, alhamdulillah Bang Allah telah mengirim hambaNya menolong kita," jerit Tini dengan airmata bercucuran. Abang ketemu dimana malaikat ini Bang?" tanya Tini sambil memeluk uang kedadanya. Faisal dengan mata berkaca kaca menjawab, " Tadi abang ke toko Mas Dek mau jual cincin kawin kita itu, pas  Abang mau masuk toko mas, ketemu teman lama waktu SMA. Dia baru saja beli kalung untuk istrinya, lalu Abang diajak ngobrol di mobil nya dan mengantarkan Abang pulang. Walaupun di jalan tadi Abang nggak fokus dek, karena belum jual cincin buat makan anak-anak. Masha Allah cincin kawin kita diselamatkan Allah dengan memberi kita rezeki yang tidak diduga."

Tini tak kuasa menahan haru saat suaminya memasangkan kembali cincin tanda cinta mereka 8 tahun yang lalu. "Astagfirullah, Bang,  Aku salah Bang, Aku sudah buruk sangka sama Allah. Ternyata Allah balas dengan Kasih sayangNya semoga teman Abang panjang umur, sehat dan murah rezeki." Makin deras tangis Tini.

"Alhamdulillah Dek, ini pembelajaran bagi Kita, kalau kita yakin sama pertolongan Allah, Allah pasti tolong Kita, buktinya Allah kirim hambanya yang murahhati menolong kita. InshaAllah uang itu cukup selama PPKM ini, Kita tak perlu mengemis sama Pemerintah, Biarkan Allah yang menolong kita, kewajiban kita hanya ikhtiar,  ibadah dan beramal sholih." Tini memeluk Suaminya. " Iya Abang, Aku bersyukur Abang suami, Abang yang  selalu mengajakku jalan ke Surga. Alhamdulillah terimakasih ya Allah." Agus pun memeluk istrinya airmatanya menetes, "Ya Allah sungguh rezeki itu Kau yang memberikan. Jika berharap  padaMu pasti tidak akan kecewa.."

*) Penulis Novel Amak, [email protected] , Youtube ElvaTazar

Komentar