Minggu, 07 Juni 2026 | 10:46
OPINI

Melemahnya Rupiah Terhadap Dolar 'Karena Berkurangnya Asupan Gizi, dan Semakin Suburnya Kaum Kapitalis'

Melemahnya Rupiah Terhadap Dolar 'Karena Berkurangnya Asupan Gizi, dan Semakin Suburnya Kaum Kapitalis'
Potret kemiskinan (Dok Pixabay)

ASKARA - Negeri ku kolam susu, Tongkat kayu dan batu jadi tanaman, gemah ripah loh jinawi, tapi rakyatnya miskin., karena korupsi, kolusi, nepotisme tidak ada habisnya ,  berlangsung secara terus menerus tanpa henti, entah sampai kapan dan entah  siapa yang bisa memberhentikannya.

Apapun celotehnya, logika tanpa logistik seperti dapur tanpa asap. Kebutuhan primer (utama), sandang pangan, papan  harus terpenuhi bila rakyat  mau cerdas.

Pajak dipungut semakin tinggi, kalo tidak bayar kena tilang alias di denda. Sementara terlalu banyak pemain sulap dan juga penyusup  yang jadi pemimpin., kalo bicara arus modernisasi menjadi terdepan, tapi mereka masih bermain jampi jampi dengan Mbah dukun untuk mendapatkan mengejar posisi.

Kekayaan di berikan kepada  orang asing, pribumi semakin melarat.  freeport Papua salah satu perusahaan  tambang  emas dan tembaga terbesar dunia, rakyatnya hanya bisa meratapi nasib di tanah sendiri. Ini menjadi  fenomena paradoks berbanding terbalik  dengan kesejahteraan masyarakatnya.  Papua menjadi provinsi dengan angka kemiskinan ekstrem yang tinggi di indonesia.

Kalimantan dijadikan ibukota negara dengan cara  paksa dan tergesa gesa melalui anggaran terbatas alias tidak ada,  berujung pada penambahan hutang yang semakin membengkak. masyarakatnya hanya jadi wisatawan lokal di balik  gedung megah pencakar langit penuh pesona., sementara di balik tembok raksasa hidup masyarakat jauh dari sejahtera.

Perputaran uang itu berada di pusat ibukota, meskipun otonomi daerah sudah berjalan tetap saja sentralistik/pengendali berada di pulau Jawa/jakarta). lebih di dahulukan perkotaan,  daerah hanya kebagian sisanya, apalagi wilayah pelosok yang tidak terjangkau, terisolir dan terbelakang yang semakin tertinggal.

Infrastruktur hanya wacana di atas kertas jauh panggang dari api. tidak  selesai selesai pekerjaan akibat terlalu banyaknya program serta usulan yg tidak penting didahulukan, yang utama  dilewatkan pada akhirnya terbengkalai karena tidak pernah di sentuh hingga terbuang anggaran secara percuma. dan Inisiatif dilakukan atas dasar kesepakatan pemerintah tidak ada kompromi dengan rakyat  yang masih banyak kelaparan, BLT (bantuan langsung tunai), menjadi senjata pamungkas agar rakyat diam di tengah kemiskinan yang semakin akut.

Jangan rakyat di jadikan sapi perahan, ini sudah bukan jamannya kuda gigit besi semuanya bisa di atur oleh sang tuan raja.,  sekarang adalah era  modernisasi, era digitalisasi,  kecanggihan dapat merubah segalanya, tidak perlu berhari hari menunggu informasi/pesanan tiba.

Di tanah yang subur ini, seharusnya rakyat menikmati hidup dengan gembira, bukan malah di kebiri. Pembodohan dan tipu tipu muslihat masih di pertontonkan di depan umum.

Orang pintar itu banyak, tapi tidak di berikan tempat untuk berkreasi menguji kemampuan, ijasah hanya sebagai tanda mata bahwa seseorang pernah belajar  di sebuah institusi.

Presiden bilang orang desa tidak pakai dolar , faktanya  sistem ekonomi bekerja pengaruhnya dapat dirasakan melalui perubahan harga barang yang merangkak naik perlahan tapi pasti. Buat rakyat kecil sedikit angka  bergerak maka semakin bertambahlah beban hidup yang harus dijalani.

Pejabat kalo bicara mulut  nya komat kamit persis Mbah dukun padahal omongannya ngelantur, yang lama belum selesai muncul persoalan baru, apa yang mau di recovery.

Konklusi, bahwa melambainya rupiah terhadap dolar karena ketidak  becusan para pemimpin mengelola keuangan negara dalam mengendalikan  perekonomian rakyat., "rekor terlemah sepanjang sejarah".


Written by:
Fin's Arhas yoga,
KP3ALA

Komentar