Minggu, 07 Juni 2026 | 10:46
OPINI

Indikasi Geografis Kopi Arabika Gayo: Aset Strategis Adat dan Dukungan Pemerintah Pusat

Indikasi Geografis Kopi Arabika Gayo: Aset Strategis Adat dan Dukungan Pemerintah Pusat

Oleh: Zam Zam Mubarak

Tim Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh

ASKARA - Kopi Arabika Gayo bukan sekadar komoditas ekspor. Ia adalah identitas, kearifan adat "Munse Ketengat", dan bukti bahwa tanah Gayo pada ketinggian 1.200-1.600 mdpl mampu melahirkan cita rasa "winey, herbal, full body" yang diakui dunia. Sejak 2010, Kopi Arabika Gayo mengantongi sertifikat Indikasi Geografis IG dari Kemenkumham. IG ini adalah pagar hukum sekaligus aset strategis adat yang harus kita jaga bersama.

Bagian dari Kebijakan Strategis Nasional
Arah kebijakan nasional saat ini menempatkan Kopi Arabika Gayo sebagai bagian dari kebijakan strategis pengembangan komoditi unggulan nasional. Dalam RPJMN, pengembangan kopi masuk dalam kerangka mewujudkan Asta Cita Presiden Prabowo. Artinya, pengembangan Kopi Arabika Gayo bukan lagi urusan daerah saja, tapi sudah menjadi komitmen nasional untuk mendongkrak devisa, serapan tenaga kerja, dan ketahanan pangan.

Kopi Arabika Gayo hari ini telah menjadi mesin ekonomi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi nasional. Sekitar 120 ribu kepala keluarga di Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Bener Meriah menggantungkan hidup di kebun kopi. Kopi telah menggerakkan ekonomi kawasan Tengah Aceh dan menjadi daya ungkit pariwisata Gayo. Event seperti Gayo Coffee Festival kini menarik wisatawan mancanegara, hotel penuh, UMKM hidup. Ini bukti kopi bukan hanya soal ekspor, tapi juga soal ekosistem ekonomi wilayah.

Nilai ekonomi Kopi Gayo mengalahkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten. Jika dikonversi, nilainya sekitar Rp5-10 triliun per tahun.

Kunci Pemulihan Pasca Bencana
Pasca bencana di Aceh Tengah, Satgas Percepatan Rehab Rekon Aceh kembali memperkuat kebijakan Kopi Arabika Gayo. Bersama UNDP, salah satu lembaga PBB, Satgas menyelenggarakan lokakarya khusus yang difokuskan melibatkan para OPD dari 3 wilayah administratif IG: Aceh Tengah, Gayo Lues, Bener Meriah.

Pesan lokakarya tegas: kopi menjadi kunci percepatan pemulihan ekonomi pasca bencana Aceh. Pemulihan tidak cukup bantuan konsumtif. Harus ada mesin pertumbuhan yang berkelanjutan. Karena itu mempercepat pemulihan ekonomi wilayah tengah adalah bagian dari upaya menjaga kepentingan strategis nasional. Stabilitas harga terjaga, petani tidak berbondong-bondong ke kota, dan kawasan hutan Leuser tetap lestari karena kopi Gayo adalah sistem agroforestri.

Tantangan Hulu dan Solusi Konkret
Menjawab tantangan hulu Kopi Arabika Gayo hari ini, para pihak perlu mendorong 3 agenda utama:

1. Implementasi soil system management berbasis teknologi mikroba: Tanah Gayo mulai mengalami penurunan kesuburan. Pendekatan mikroba dan pupuk hayati wajib jadi standar baru agar produktivitas naik tanpa merusak ekosistem.

2. Memperkuat budidaya dengan regulasi: Perbup/Perkada tentang tata kelola kebun kopi berkelanjutan harus segera terbit. Aturan jarak tanam, naungan, dan larangan alih fungsi kebun tua harus ditegakkan.

3. Perlindungan hukum dan penguatan kelembagaan IG: Majelis Perlindungan Kopi Arabika Gayo sebagai lembaga pengelola IG Kopi Gayo harus diperkuat. Kerja sama Satgas, Pemda, dan Kemenkumham perlu menindak "Kopi Gayo palsu" dari luar wilayah IG. Kelembagaan IG yang kuat adalah kunci menjaga harga dan kepercayaan pasar dunia.

Penutup
IG Kopi Arabika Gayo tidak boleh berhenti sebagai sertifikat di dinding kantor. Ia harus turun ke kebun, ke pabrik, ke kedai kopi dunia. Dukungan pemerintah pusat dengan skema khusus, penegakan hukum IG, dan diplomasi ekonomi lewat KBRI adalah wajib.

Karena melindungi Indikasi Geografis Kopi Arabika Gayo berarti melindungi adat Gayo, melindungi hutan Leuser, dan melindungi masa depan Indonesia sebagai raksasa kopi dunia.

Takengon, 5 Juni 2026

 

Komentar