Kamis, 23 Juli 2026 | 21:23
OPINI

Cikal Bakal dan Sejarah Rumah Sakit

Cikal Bakal dan Sejarah Rumah Sakit
Gambar logo Kaleng Coklat Droste

Baru saja sepuluh bulan yang lampau, tempat yang paling banyak digandrungi adalah Hotel. Sedangkan tempat paling dihindari adalah Hospital (Rumah Sakit).

Namun sekarang jadi berbalik, dimana ratusan juta orang memilih untuk ke Rumah Sakit daripada ke Hotel. Hal inilah yang membuat Mang Ucup tergelitik untuk menulis mengenai Rumah Sakit.

Istilah Hospital (Rumah Sakit) diserap dari bahasa Latin Hospes atau akar kata Hotel dari Hospital-ity. Rumah Sakit pertama dalam sejarah didirikan oleh para penganut agama Buddha di Sri Lanka pada tahun  431 SM. Sedangkan Rumah Sakit Kristen yang pertama didirikan oleh Santo Basil dari Caesaria (329-379).

Dan Rumah Sakit yang paling tua dan yang masih berfungsi sampai saat ini ialah Hotel Dieu (Allah) di Paris yang didirikan oleh Santo Landry sekitar 600 Masehi.

Maka tidaklah heran apabila kebanyakan Rumah Sakit didirikan oleh Umat Katolik dimana tenaga personilnya sebagian besar terdiri dari para Biarawati. Misalnya Rumah Sakit Borromeus di Bandung yang didirikan pada tahun 1921diprakasai oleh enam Biarawati dari Belanda.

Biarawati dalam bahasa Belanda = Zuster maka dari itulah kata nama Perawat (Suster) diserap dari nama tersebut. Maka dari itulah juga sebagai logo dari minuman susu coklat Droste adalah gambar dari Suster Rumah sakit yg bisa melambangkan perawatan dari seorang suster (biarawati).

Hotel Dieu di Paris dulu dilayani oleh Suster-Suster Puteri Kasih atau Daughter of Charity. Pakaian mereka pada masa itu persis seperti yang ada di gambar logo Kaleng Coklat Droste.

Rumah Sakit Pertama di Indonesia dibangun oleh VOC pada tahun 1613 dengan nama “VOC Binnen Ziekenhuis” di Jakarta.

Pada 1904, Menteri Urusan Daerah Jajahan Dirk Fock mengizinkan lulusan Stovia (Sekolah Dokter untuk Bumiputera) untuk melanjutkan studi kedokterannya di Amsterdam Belanda. Dan yang pertama lulus adalah Mas Asmaoen sebagai Dr Pribumi yang pertama.

Rumah sakit di Indonesia terbagi menjadi 5 kelas yakni kelas A hingga kelas E. Masing-masing mulai dari kelas E hingga kelas A, memiliki fasilitas medis dan layanan yang berbeda. Kelas A merupakan kelas tertinggi dan kelas E merupakan kelas terendah.

Apakah setiap pasien akan selalu diobati di Rumah Sakit? Belum tentu!  Sebab dimana para dokter maupun anggota keluarganya telah Give Up. Misalnya, karena sang pasien sudah tidak bisa sadar secara permanen ataupun pasien berada dlm kondisi terminal.

Maka akan diambilkan kebijakan “Do Not Rescucitate” - DNR yang berarti mulai dari saat tersebut sang pasien hanya akan dipercayakan dan diserahkan ke dalam Doa dam Nasib saja. Maklum dari segi medis tidak akan diambil entah tindakan apapun juga.

Itulah sedikit coretan mengenai Rumah Sakit, mohon ditambah atau dikoreksi. Maturnuwun sanget berkah dalem.

Mang Ucup                              

Komentar