Cinta Mati Putera Tan Sim Tjong, Romeo dan Juliet Citepus
Tan Sim Tjong beristrikan tiga, dari istri ketiga tsb terlahir Tan Tjeng Hoe sebagai putera keduanya yang dilahirkan pada tahun 1892. Tan Djin Gie adalah ayah dari Hermine Tan Giok Nio pacarnya Tan Tjeng Hoe. Tan Djin Gie sebagai seorang masih berkiblat ke Tiongkok, walaupun pendidikan dan agama keluarganya sudah berkiblat ke Barat/Belanda.
Oleh sebab itu ia tidak menyetujui hubungan putrinya Hermine Tan Giok Nio dengan pria yang memiliki Marga Tan yang sama. Disamping itu ia adalah saudagar batik kaya raya dan juga memiliki perkebunan karet dan teh. Sedangkan Tan Sim Tjong saat itu sudah jatuh pailit bin kere dan agamanya pun masih memegang agama leluhur.
Namun pola pikir Tan Sim Tjong ada jauh lebih terbuka, sehingga ia berani dan mau mendukung hubungan dan pernikahan semarga dari puteranya Tan Tjeng Hoe. Walaupun sudah dilarang oleh ayahnya Hermine tetap saja menolak perintah ayahnya untuk memutuskan hubungan dengan Tan Tjeng Hoe.
Sebagai hukuman Hermine digebukin dengan kemoceng dan tidak boleh pergi masuk sekolah lagi. Seluruh pakaian maupun sepatunya dibakar oleh ayahnya. Hal ini mengakibatkan dimana Hermine menjadi lebih nekad dan lebih berani lagi untuk kabur pindah ke rumah Tan Sim Tjong.
Tentu saja perwakilan dari keluarga orang tua Hermine datang pergi menuju rumah Tan Sim Tjong untuk menjemput putrinya. Penjemputan pertama tidak berhasil. Penjemputan kedua berhasil, tetapi Hermine tidak mau dibawa pulang balik ke rumah orang tuanya melainkan dititipkan ke rumah seorang pendeta.
Untuk ketiga kalinya Hermine diajak minggat lagi oleh Tjeng Hoe namun ini kali langsung ke Singapur dimana mereka segera menikah di sana. Ayahnya Hermine sangat marah sekali sehingga pada tanggal 29 Desember 1917.
Ia memasang iklan pernyataan bahwa mulai saat itu ia tidak mau mengakui Hermine sebagai putrinya lagi dan tidak akan mendapatkan warisan entah apapun juga. Dari hasil pernikahan ini mereka mendapatkan seorang putri yang diberi nama Vicky (kemenangan) sayangnya Tan Tjeng Hoe mati muda dalam usia 30 tahun.
Beberapa tahun kemudian setelah menjanda Hermine jatuh cinta kembali kepada seorang indo bule yang bernama Emil. Bagi etnis Tionghoa saat itu kawin dengan bule ada jauh lebih memalukan daripada kawin dengan sesama marga.
Emil meninggal dunia di kamp tawanan Jepang. Setelah Emil suaminya meninggal Hermine hijrah ke Belanda. Andil Tan Sim Tjong dengan mendukung perjuangan melawan adat pernikahan semarga perlu dicatat sebagai andil historis beliau untuk masyarakat Bandung/Indonesia keturunan Tionghoa dalam memilih pasangan hidupnya tanpa batasan nama marga.
Sesuai perkembangan zaman, kebebasan individu ini merupakan bagian dari hak azasi manusia dan perlu mendapat tempat dalam masyarakat masa kini.
Kisah Love Story mereka ini telah dikisahkan kembali dalam Novel: “Rasia Bandoeng atawa Satoe Pertjintaan jang Melanggar Peradatan Bangsa Tionghoa: Satoe Tjerita jang Benar Terdjadi di Kota Bandoeng dan Berachir Pada Tahon 1917” yang ditulis oleh Chabanneau. (1918).
Untuk menghormati dan juga menjaga nama baik dari para tokoh dalam novel tsb nama-nama tokohnya telah diganti oleh sang penulis Chabanneau. Terlampir foto Hermine danTan Tjeng Hoe (putera dari Tam Sim Tjong).
Mang Ucup
Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar