Kamis, 18 Juni 2026 | 20:27
OPINI

Kelirumologi Kalender

Kelirumologi Kalender
Ilustrasi kelirumologi kalender (Dok Gemini)

OLEH: JAYA SUPRANA

ASKARA - Kalender Masehi menyimpan dua kekeliruan yang terlanjur kita kaprahkan sebagai kebenaran. Pertama: September itu bulan ke-9, padahal _septem_ artinya 7. Kedua: Februari cuma 28 hari, tapi tiap 4 tahun tiba-tiba jadi 29. Ini bukan salah hitung. Ini jejak sejarah yang lupa dibereskan.

Awalnya tahun baru itu Maret

Romawi kuno cuma kenal 10 bulan. Tahun mulai pas musim semi = Maret. Urutannya rapi: Maret ke-1, April ke-2, Mei ke-3, Juni ke-4, Juli ke-5 _quintilis_, Agustus ke-6 _sextilis_, September ke-7 _septem_, Oktober ke-8 _octo_, November ke-9 _novem_, Desember ke-10 _decem_. Nama dan angka selaras. Nggak ada yang bingung.

Januari-Februari nyelip, Februari dikorbankan

Tahun 713 SM, Raja Numa Pompilius nambah Januari dari Ianuarius_ dan Februari dari Februarius_ di depan. Kalender jadi 12 bulan, tapi nama 7 bulan terakhir tetap. September yang tadinya ke-7, sekarang geser jadi ke-9. Biar total hari pas 355 hari, Pompilius bikin semua bulan ganjil 29-31 hari. Februari apes: dapat sisa 28 hari saja. Karena dianggap bulan sial, bulan penyucian, dia rela jadi korban.

Julius Caesar mengunci kekeliruan

Tahun 46 SM, Kalender Julian lahir. Tahun baru resmi pindah ke 1 Januari biar pas pelantikan konsul. Reformasi beres, tapi nama bulan nggak diganti. Terlalu ribet. Maka kekeliruan urutan dikunci selamanya. Ego kaisar bikin kekeliruan tambah ruwet. Quintilis jadi Juli buat Julius Caesar. Sextilis jadi Agustus buat Kaisar Augustus. Augustus nggak mau kalah 30 hari, jadi Februari dipotong lagi jadi 28 hari. Supaya Juli dan Agustus sama-sama 31 hari.

Kabisat: tambal sulam terakhir

Kalender matahari 365,25 hari. Kalau dipaksa 365 hari, tiap tahun meleset 6 jam. Solusinya: tiap 4 tahun Februari dapat bonus 1 hari jadi 29. Namanya tahun Kabisat.

Jadi Februari itu bulan paling nahas dikorbankan : jumlah hari paling sedikit, namanya tidak sesuai urutan, nasibnya dipotong kaisar, dan cuma "tambah satu hari" setiap 4 tahun sekali.

Dua kekeliruan ini mengajarkan hal sama yaitu bahasa itu fosil, dan reformasi selalu mewariskan luka label. Nama boleh bohong, angka boleh geser, hari boleh nambah atau ngurang. Yang penting roda waktu tetap jalan.

Jadi kalau cucu tanya "Kenapa September 9 padahal 7?", jawab: "Nak, itu karena dulu tahun baru mulainya Maret". Kalau dia tanya "Kenapa Februari 28?", jawab: "Karena dulu dia paling sial, Nak".

Nama bulan boleh keliru, namun kisah di balik layar kalender siap menjelaskan.

 

Komentar