Tiyo, Algoritma di Era Post-Truth Politik Viral
Oleh: Agusto Sulistio -
ASKARA - Fenomena Tiyo Adrianto menarik untuk dicermati. Bukan karena ia satu-satunya anak muda yang pandai berbicara, melainkan karena ia berhasil merebut perhatian publik dalam waktu singkat dan kemudian ditempatkan oleh sebagian kalangan sebagai simbol oposisi.
Itulah media sosial berbasis internet, yang bekerja berbasis algoritma yang mencari siapa yang paling banyak dibicarakan netizen. Algoritma tidak mencari yang sepi dibicarakan, seperti pidato panjang, gagasan,konsep, solusi yang panjang, dan berjilid-jilid. Cukup kalimat singkat yang diperlukan, misalnya kemarahan dengan kalimat yang singkat tapi ganas, sadis, menarik dan menyinggung fisik seseorang, itu yang paling banyak disukai dalam dunia sosmed digital.
Pertanyaannya, mengapa Tiyo yang viral?
Di negera kita ini banyak mahasiswa, aktivis, akademisi, dan anak muda yang memiliki kemampuan berbicara yang baik. Namun di era media sosial, perhatian publik tidak selalu diberikan kepada mereka yang memiliki analisis paling mendalam. Seringnya perhatian justru diberikan kepada mereka yang paling mampu membangkitkan emosi.
Ibarat sebuah warung, yang ramai belum tentu paling enak makanannya. Kadang hal ini ditentukan karena lokasinya strategis, promosi, dan momentum.
Begitu pula dalam politik, yng viral belum tentu yang paling substansial, relevan, data akurat, dll.
Banyak orang melihat kemiripan gaya bicara Tiyo dengan Cak Nun (M Ainun Najib). Namun kemiripan gaya tidak otomatis berarti kesamaan kedalaman pemikiran. Cak Nun membangun otoritas intelektualnya selama puluhan tahun melalui karya, pemikiran, dan pendampingan masyarakat. Sementara Tiyo dikenal luas karena momentum politik yang diperkuat oleh algoritma media sosial.
Karena itu, fenomena Tiyo lebih tepat dibaca sebagai fenomena simbolik daripada fenomena intelektual.
Ia berhasil menjadi saluran bagi sebagian kelompok masyarakat yang sedang kecewa atau tidak puas terhadap keadaan.
Dalam ilmu sosial, fenomena seperti ini sangat lazim. Ketika masyarakat resah, figur yang berani bersuara keras akan lebih mudah mendapatkan perhatian dibanding mereka yang berbicara dengan bahasa akademik dan penuh data.
Masalahnya, perhatian publik tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas gagasan.
Di sinilah kita masuk ke era yang disebut sebagai post-truth, yaitu kondisi ketika emosi dan persepsi lebih berpengaruh daripada fakta dan data.
Dalam era post-truth, kritik yang tajam kerap lebih cepat menyebar dibanding analisis yang mendalam. Kritik terhadap pribadi pemimpin lebih mudah viral dibanding pembahasan mengenai kebijakan ekonomi, fiskal, atau pembangunan. Akibatnya, banyak tokoh muncul sebagai fenomena media, tetapi tidak semuanya berkembang menjadi tokoh sejarah, lihat dan baca sejarah gerakan bangsa kita dalam peristiwa Malari 1974, Mei 1998.
Sejarah dunia menunjukkan bahwa banyak figur yang sempat viral, dipuja, dan dianggap mewakili suara rakyat. Namun beberapa tahun kemudian mereka menghilang karena tidak memiliki gagasan yang kuat, organisasi yang kokoh, maupun solusi yang jelas.
Mereka besar karena emosi publik, algoritma, tetapi tidak mampu mengubah emosi itu menjadi agenda perubahan.
Lalu apakah fenomena Tiyo dapat berkembang menjadi gerakan sosial besar?
Untuk menjawabnya, kita perlu melihat kondisi masyarakat secara objektif.
Pada Mei 1998, mahasiswa memperoleh dukungan luas karena rakyat sedang mengalami krisis yang nyata dan menyeluruh. Harga-harga melonjak, PHK terjadi di mana-mana, perusahaan bangkrut, dan kepercayaan publik terhadap pemerintah runtuh. Mahasiswa dan rakyat berbicara dalam frekuensi yang sama.
Situasi hari ini berbeda.
Memang masih banyak persoalan ekonomi yang dirasakan masyarakat, seperti lapangan kerja yang semakin kompetitif, daya beli yang belum sepenuhnya pulih, dan tekanan ekonomi pada sebagian kelompok masyarakat. Namun pada saat yang sama, aktivitas ekonomi tetap berjalan, pembangunan masih berlangsung, bantuan sosial tersedia, dan banyak masyarakat masih menyimpan harapan terhadap berbagai program pemerintah.
Karena itu, ketika belakangan ini mahasiswa berdemonstrasi, respons masyarakat tidak begitu tertarik untuk turun bersama, tidak serta-merta sama seperti tahun 1998.
Banyak masyarakat memilih mengamati. Mereka mendengar kritik yang disampaikan. Tetapi mereka juga menunggu solusi yang ditawarkan.
Mereka ingin mengetahui bukan hanya apa yang salah, tetapi juga apa yang harus dilakukan.
Di sinilah letak tantangan terbesar bagi setiap tokoh oposisi seperti Said Didu, Ferry Amsari, termasuk juga Tiyo.
Mengkritik adalah bagian penting dari demokrasi. Namun sejarah menunjukkan bahwa tokoh yang dikenang bukanlah mereka yang paling keras dan ekstrim berteriak, melainkan mereka yang mampu menawarkan jalan keluar.
Bangsa kita tidak kekurangan pengkritik, dan orang yanh berani. Bangsa ini lebih membutuhkan pemikir pejuang-pejuang pemikir, perumus solusi, dan pemimpin yang mampu mengubah kemarahan publik menjadi gagasan yang bermanfaat.
Karena itu, fenomena Tiyo mungkin penting untuk dibicarakan. Namun yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa ruang publik tidak berhenti pada sensasi, melainkan bergerak menuju substansi.
Sebab di era post-truth, menjadi viral memang mudah. Tetapi menjadi bagian dari sejarah adalah perkara yang jauh lebih sulit.
*) Pegiat Sosmed (Mantan Kepala Aksi & Advokasi PIJAR Semarang era tahun 90an, penggerak AMRS: Aksi Mahasiswa dan Rakyat Semarang "Mei 1998")

Komentar