Rabu, 17 Juni 2026 | 23:15
OPINI

Yuk Kita Ke Belanda (Bag. 7)

Kawasan Lampu Merah, Mall Birahi Belanda

Kawasan Lampu Merah, Mall Birahi Belanda
De Wallen, kawasan prostitusi di Belanda

Artikel ini dipersembahkan untuk saudara. Wilson Lalengke. Ik hou van jou = Saya cinta kamu. Hoe oud ben je? = Berapa usia Anda?

Bagi sebagian orang, kawasan prostitusi memiliki daya tarik tersendiri: kelap-kelip cahaya temaram, liukan dan tatapan para wanita penjaja kesenangan yang memiliki seribu makna, cerita mereka yang menggantungkan hidup darinya, hingga ketegangan kala menantang hukum dan norma.

Apalagi ketika menginjakkan kaki untuk pertama kali di Amsterdam, Belanda. Mana lagi lokasi yang terbersit di benak selain kawasan terkenal red light district alias "Kramat Tunggak" Belanda? Kawasan pelacuran di Belanda ini sudah dikenal seantero dunia sebagai daerah prostitusi terbesar dan tertua di peradaban manusia modern.

Nama "red light" sendiri datang dari berkembangnya rumah bordil pada paruh kedua abad 18 Masehi. Para PSK dikumpulkan oleh germonya masing-masing di sebuah rumah yang terpasang lampu merah sebagai \'tanda\' bagi pencari prostitusi. Belum ke Jakarta kalau belum ke Monas, belum ke Surabaya bila belum pergi ke Suramadu, dan belum ke Yogyakarta jika belum mengunjungi Malioboro.

Ungkapan-ungkapan semacam ini telah menjadi penggalan wajib untuk menunjukkan “bukti” betapa kita telah menginjak sebuah kota, lengkap dengan landmark-nya. Begitu pula saat saya pertama kali berada di Belanda, beberapa kawan bertanya, “Sudah ke Red Light District belum?”

Salah satu ciri khas Kota Amsterdam di Belanda adalah kehidupan malam yang begitu bebas. Seks di Red Light District dan ganja sudah menjadi bagian komoditas dari berbagai “jajanan malam” yang diperdagangkan secara legal di kota ini. Orang Belanda menyebutnya Rosse Buurt. Ada juga yang menamakannya De Wallen atau Walletjes.

Kawasan ini adalah kawasan remang-remang paling terkenal di Belanda, bahkan dunia. Bila di negara-negara lain, daerah lampu merah adalah daerah remang-remang yang hanya dikunjungi malam hari saja oleh mereka yang ingin jajan, di Amsterdam daerah lampu merah bisa dikunjungi 24 jam. Kawasan ini pun terbuka bagi wisatawan mancanegara. Agen-agen wisata pun menyediakan tourkhusus untuk meninjau lokasi ini sehingga wisatawan tidak perlu risih untuk mengunjungi kawasan ini.

Saya sendiri sudah puluhan kali jadi pemandu wisata bagi para pembimbing agama entah itu Pastor, Pendeta, Ustadz ataupun Biksu. Mereka sangat tertarik sekali untuk bisa berkunjung ke Kawasan Lampu Merah tersebut, walaupun bukan sebagai nasabah, hanya sekadar pengkhotbah. Begitu juga sudah banyak pejabat maupun istrinya yang ingin diajak dolan-dolan meninjau ke sana, mulai dari level menteri sampai dengan para konglomerat. Karena jalan-jalan masuk ke daerah tersebut tidak terkesan kumuh ataupun mesum, maka dari itu banyak dikunjungi orang, seperti juga berkunjung ke pasar malam atau mall biasa saja, hanya beda barang dagangan saja.

De Wallen, inilah nama kawasan seluas 600 meter persegi yang sengaja didesain sebagai lokasi pelacuran legal di Belanda sejak tahun 1275. De Wallen bukan sekadar tempat prostistusi tetapi juga tempat beroperasinya rumah makan dan pedagang-pedagang souvenir. Banyak wisatawan yang telah berkunjung ke kawasan Red Light District ini. Diperkirakan setiap tahunnya lebih dari tiga juta wisatawan yang datang berkunjung melakukan sight-seeing ke sana.

Wisatawan yang baru pertama kali ke Belanda dan menjelajahi kawasan Red Light District akan terhenyak kaget menemukan berbagai layanan pemuas syahwat di kawasan ini. Semua tersedia, mulai dari pertunjukan teater yang mempertontonkan adegan berhubungan seks secara langsung, tari telanjang -striptis, hingga jasa prostitusi standar yakni tidur dengan pekerja seks yang bisa dipilih di jendela-jendela kaca berhias lampu merah, mirip etalase toko.

Di kawasan ini ada sekitar tiga ratus ruang kecil dengan kaca, seperti akuarium. Mereka yang mencari nafkah dengan menjajakan seks di kawasan tersebut terdiri dari berbagai macam bangsa, termasuk Afrika dan Asia. Sejak tahun 1998, Belanda menjadi negara pertama di dunia yang melegalkan industri seks. Prostitusi juga berkewajiban membayar pajak. Bila berdagang itu halal dan seks juga itu halal, kenapa berjualan sex dinilai tidak halal?

Nilai transaksi di kawasan lampu merah ini diperkirakan mencapai USD 100 juta per tahun. Pada Maret 2013, saudara kembar Louise dan Martine Fokkens (70), yang mengklaim sebagai penjaja seks komersial (PSK) tertua di Amsterdam akhirnya pensiun dari dunia prostitusi. Keduanya menjadi penjaja seks lebih dari 50 tahun. Karena sudah terlalu tua dan ingin bertobat, dua wanita yang telah meniduri 355 ribu pria akhirnya menghentikan aktivitas prostitusinya.

Karena prostitusi telah dijadikan profesi, pelaku-pelakunya pun membutuhkan pendidikan. Seorang mantan mucikari di Belanda mendirikan sekolah prostitusi. Lembaga pendidikan ini mengajarkan peserta didiknya untuk belajar menjadi penjaja seks profesional. Nama sekolah prostitusi ini adalah Hanky Panky School.

Kurikulum sekolah ini disusun sedemikian rupa agar lulusannya dapat menjalankan pekerjaannya secara profesional dan tentunya bisa lebih banyak menghasilkan uang. Yang lebih mencengangkan lagi, di Amsterdam juga ada Sex Museum. Di museum ini dipamerkan berbagai foto hingga bermacam alat bantu seks dari berbagai zaman.

Belanda bisa dikatakan sebagai surganya seks di dunia. Maka tidaklah heran bila di daerah ini ada gereja yang diberi nama Ons lieve heer op solder yang berarti Tuhan kita berada di kamar gudang atas, karena Dia sudah tidak mau melihat umat-Nya lagi. Bagi para pengusaha Start Up mereka bisa mengajukan permohonan kredit ke Bank untuk buka usaha bordil, lengkap dengan studi kelayakannya. hartelijk bedankt = terima kasih. Tot ziens = sampai jumpa.

Mulai hari ini saya akan selalu melampirkan Video film yang berkaitan dengan artikel yang saya tulis, agar Anda lebih bisa turut menghayatinya.

Mang Ucup

Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar