Senin, 30 November 2020 | 07:58
OPINI

Love Story Dewi Dan Soekarno (Bag. 3)

Love Story Dewi Dan  Soekarno (Bag. 3)
Ratna Sari Dewi dan Soekarno

Setelah pertemuan pertama Dewi dengan Bung Karno, beliau segera memerintahkan Dewi untuk minta PHK dari Club Copacabana. Maklum Bung Karno tidak ingin Dewi di peluk lagi entah oleh pria manapun juga. Disamping itu untuk mengembalikan kembali harkat dan martabat dari dirinya Dewi sendiri!

Pada saat ia minta phk, Dewi sudah sesumbar gembar-gembor kepada semua rekan-rekannya, bahwa ia akan segera menikah dan diboyong ke Jakarta. Namun sekarang dimana Dewi sudah kehilangan dua orang yg ia sangat kasihi, ia juga sudah tidak punya pekerjaan lagi. Uang pun sudah habis untuk biaya pemakaman ibu dan kakaknya.

Sekarang ia tinggal seorang diri hanya dengan ayahnya saja. Hal inilah yg membuat Dewi jadi semakin benci kepada Bung Karno, karena merasa dikhianati dan ditipu habis oleh Bung Karno.

Sepulangnya dari Copacabana, Dewi mengunjungi Kuil Buddha terdekat. Dengan perasaan yang sangat sedih dan linangan air mata. Dewi bertekad tidak ingin mo nikah lagi entah dengan pria manapun juga! Untuk ini ia lebih baik memilih jadi biarawati. Namun saat ini tidak mungkin ia lakukan, karena masih punya tanggung jawab untuk mengurus dan memelihara ayah kandungnya yang sudah uzur dan sakit-sakitan.

Formula cinta pria dan perempuan itu entah dimanapun juga selalu sama. Perempuan memberikan sex kepada pria, karena mengharapkan cinta. kebalikannya pria memberikan cinta kepada perempuan, karena mengharapkan sex.

Oleh sebab itulah sudah merupakan makanan sehari-hari bagi Dewi, dimana ia selalu dibohongi dgn berbagai macam janji dan iming-iming palsu, sehingga akhirnya ia sudah jadi kebal dari segala macam janji palsu tersebut. Namun entah kenapa kepada Bung Karno; Dewi bisa balik percaya kembali 100 persen. Dimana akhirnya ia ikhlas untuk minta phk dari Copacabana! Sungguh sangat menyedihkan dan tragis sekali.

Nasib yang dialami oleh Dewi saat itu, dimana ia kehilangan dua orang yang ia sangat kasihi dan juga kehilangan mata pencariannya, sedangkan uang pun sudah tidak ia miliki lagi. Ia hanya bisa pinjam kiri kanan dari tetangga maklum perut tidak bisa nunggu!

Penampilannya yang cantik jelita dengann mudah dan cepat ia bisa jual badan jadi prostitusi. Namun ia sudah sumpah dihadapan kedua orang tuannya ketika ia mo kerja di Copacabana, bahwa ia akan tetap berusaha mempertahankan kesuciannya !

Ia telah mengorbankan dan memberikan kesuciannya kepada Bung Karno, sang pria yang begitu ia kasihi dan percaya. Hal inilah yang membuat dia menjadi semakin benci dan sedih sekali, karena merasa ditipu oleh Bung Karno. Disisi lain Bung Karno menjadi panik dan terkejut sekali ketika mendengar berita Dewi, bahwa Dewi mau melakukan bunuh diri.

Sehingga ia segera ingin mengundang Dewi untuk berangkat ke Indonesia. Namun problemnya bagaimana ia bisa menghubungi Dewi. Maklum saat itu belum zaman digital dimana belum ada HP ataupun WA. Alamat dari Dewi pun tidak pernah ia miliki, sedangkan di tempat pekerjaannya Copacabana pun sudah tidak bisa dihubungi lagi. Hal inilah yang membuat mereka jadi terpisah dan tidak bisa berkomunikasi cukup lama.

Namun dengan bantuan sang konglomerat sohibnya di Tokyo, akhirnya melalui sebuah biro jasa detektif, Bung Karno berhasil bisa menghubungi Dewi lagi. Dengan bantuan dari pihak KBRI di Tokio; Bung Karno berhasil mengundang Dewi untuk liburan berkunjung ke Indonesia selama dua pekan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa kharisma Presiden ke-1 Republik Indonesia, Soekarno, memang sulit terelakkan. Hal ini pula yang jadi salah satu alasan Madame Dewi akhirnya menerima pinangan Soekarno, meski untuk dijadikan istri keenam.

Cinta Dewi kepada Soekarno yang mulai tumbuh perlahan, membuat Dewi tiba-tiba terpikir untuk menikah saat dapat ajakan ke Indonesia. Ia pun meyakinkan dirinya jika pergi ke luar dari Jepang, mungkin ia akan dapat jawaban soal keputusan menikah tersebut.

"Pada saat itu, saya terus berpikir tentang keputusan untuk menikah. Lalu saya berkata pada diri sendiri jika pergi ke luar negeri, mungkin saya akan dapat pencerahan tentang keputusan yang harus diambil," jelasnya.

Meskipun ia harus menempuh perjalanan yang sangat panjang. Tidak bisa dipungkiri bahwa Dewi merasa sangat terhormat diundang datang ke Indonesia. Dewi bercerita, pada 1958 hingga 1959 belum ada pesawat jet. Jadi, Dewi hanya naik pesawat biasa dan harus terbang dari Tokyo ke Hongkong, lalu ke Bangkok, Singapura, dan harus melewati satu malam di Singapura, sebelum akhirnya tiba di Indonesia.

"Itu pertama kali kami berduaan, dari Tampaksiring kami melihat jajaran pohon kelapa di sore hari. Dan matahari tampak begitu besar perlahan tenggelam. Lalu bayangan dari pohon kelapa itu perlahan gelap," kenang Dewi.

"Udara sejuk menyibak kami, sangat sunyi, lalu beliau berkata, Jadilah inspirasi hidupku, jadilah teman hidupku, bahagiakanlah hidupku," sambungnya.

Dalam benak Dewi kala itu, ia merasa belum pernah mendengar kata-kata seromantis tersebut. Ia juga merasakan sebuah keyakinan bahwa Soekarno adalah laki-laki yang ditakdirkan Tuhan untuk mendampinginya. "Lalu dalam benak saya, meskipun saya hidup beratus-ratus tahun lamanya, saya belum pernah mendengar kata-kata lamaran yang begitu sangat indah. Dalam benak saya, Tuhan pasti telah memilih saya untuk hidup dengannya. Jika ini adalah perjalanan hidup saya, saya akan mendedikasikan hidup saya untuknya," ungkap Dewi.

Tak butuh waktu lama, Dewi memutuskan untuk menerima pinangan Soekarno. Madame Dewi dan Bung Karno kemudian menikah pada 1962. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang lahir di Tokyo, pada 11 Maret 1967, yang diberi nama Kartika Sari Dewi Soekarno.

Saya akhiri artikel hari ini dengan mengutip isi surat wasiat dari Bung Karno: “Aku mempunyai istri yang sangat aku cintai dengan segenap jiwa dan ragaku. Namanya Ratna Sari Dewi. Kalau suatu saat ia meninggal, kuburkan ia di dalam kuburku. Aku menghendaki ia selalu bersama aku."

Ketika Mang Ucup membaca surat tersebut, saya harus mengaku kalah dan sembah sujud kepada Bung Karno untuk bisa menerima saya sebagai muridnya, Maklum dalam soal merayu perempuan Bung Karno seratus kali lebih jago, lebih hebat dan lebih canggih daripada Mang Ucup sang Playboy kolot ! Namun apakah Anda tahu bahwa Mang Ucup juga pernah mengajukan permohonan yang serupa kepada Mbak Wied.

Pada saat saya wafat nanti; saya ingin dijamah dan disentuh lagi untuk terakhir kalinya oleh Mbak Wied, dimana saya mohonn bantuan Mbak Wied untuk memandikan jasad saya untuk terakhir kalinya.vItulah surat wasiat saya untuk Mbak Wied.

Ingin tahu dan ingin baca isinya, kenapa Bung Karno menulis Surat Cinta dengan tulisan tangan untuk Dewi? Padahal beliau tidak pernah sekalipun juga sebelumnya menulis surat cinta entah kepada siapapun juga.

Mang Ucup mendapatkan beberapa copy surat Cinta Bung Karno dari Dewi. Untuk bisa mengetahui bagaimana bentuk dan isinya surat cinta sang Proklamator? Bacalah sambungannya dari Love Story Dewi dan Soekarno ini! Hatur rebu nuhun !

Mang Ucup

Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar