Senin, 30 November 2020 | 08:18
OPINI

Love Story Dewi dan Soekarno (Bag. 2)

Love Story Dewi dan Soekarno (Bag. 2)
Bung Karno dan Ratna Sari Dewi

Pertanyaan pertama yang menggelitik hati Mang Ucup, kenapa Dewi seorang gadis muda belia yang cantik jelita maupun cerdas bisa merasa tertarik bahkan bisa jatuh cinta kepada seorang kakek gaek yang usianya 40 tahun jauh lebih tua daripada dirinya sendiri?

Saya yakin haqul yakin kebanyakan dari kita akan menvonis Dewi bahwa ia hanya tertarik kepada Bung Karno karena harta dan tahta saja sebagai first lady Namun inilah jawaban dari Dewi langsung yang diceritakan kepada Mang Ucup. Monggo silahkan Anda untuk dinilainya sendiri.

https://www.askara.co/read/2020/10/22/10360/love-story-dewi-dan-soekarno-(bag-1)?preview=1

Profesi Geisha seringkali diidentikan sebagai pelacur, karena sudah tugasnya menghibur para tamu yang menyewanya. Dan sudah merupakan perlakuan yang setiap hari Dewi alami, dimana sang tamu, kurang ajar dan memandang dia sebagai sampah yang bisa diperlakukan secara semena-mena tanpa rasa malu.

Namun beda dengan Bung Karno untuk pertama kali dalam hidupnya dimana Dewi diperlakukan seperti layaknya seorang putri (like a real princess) oleh seorang pria! Pada hari-hari pertemuan mereka yang pertama Bung Karno tidak pernah minta layanan esek-esek, karena dimata Bung Karno – Dewi itu seorang putri yang suci dan terhormat.

Bung Karno tidak pernah berusaha untuk menggurui ataupun mengkhotbahinya. Bagi bung Karno masa lampau Dewi tidaklah penting jadi tidak perlu di bahas lagi. Bung Karno mau dan bersedia menerima Dewi apa adanya dengan segala kelebihan maupun kekurangannya. Saat itu Dewi merasa seperti Putri Abu ataupun Pretty Woman. Banyak pria yang tidak mengerti, bahwa kebutuhan utama dari setiap perempuan itu ingin dihargai !

Dari situlah mulai cinta bersemi di dalam hati Dewi. Awalnya Dewi mengharapkan bisa menemukan seorang pangeran muda dengan kuda putih. Namun akhirnya ia hanya mendapatkan seorang raja tua yang bijak dengan rambut putih. Disamping itu dia memiliki jiwa patriot dan pengabdiannya kepada rakyat yang sangat besar.

Dimana ia menceritakan kepada Dewi, bahwa ia bercita-cita untuk membuat dan memajukan Indonesia di mata dunia sebagai negara maju modern seperti di Jepang. Misalnya dari hasil uang pampasan perang dari Jepang tersebut. Bung Karno berhasrat bukannya untuk bagi-bagi angpauw dengan sanak keluarganya sendiri ataupun membeli pesawat jet pribadi. Melainkan benar-benar untuk pembangunan mulai dari Gedung Sarinah, Hotel Indonesia, Hotel Bali Beach ataupun Samudera Beach dll.

Hampir di semua foto Bung Karno dan Dewi. anda bisa melihat betapa anggunnya Dewi diperlakukan oleh Bung Karno seperti first lady tulen. Bahkan tanpa banyak orang yang tahu bahwa Bung Karno pernah membuat surat wasiat, dimana saat beliau nanti wafat, beliau ingin dimakamkan dalam satu liang lahat dengan Dewi (matan seorang Geisha). Jadi wajarlah apabila pada saat itu Dewi merasa benar-benar diangkat sedemikian tingginya seperti malaikat naik ke sorga.

Saat itu hampir setiap hari Bung Karno di bully terutama oleh media asing, bahwa ia jatuh cinta kepada seorang pelacur. Apalagi keadaan politik di Indonesia juga sedang memanas, karena adanya pertikaian dengan negara Malaysia.

Hal inilah yang mendorong Pimpinan ABRI untuk segera mengirim dua perwiranya, Ahmad Yani dan Soenarso untuk segera menyusul dan menjemput Bung Karno ke Tokyo. Mereka memaparkan kepada Bung Karno, bahwa saat itu negara sangat membutuhkan sekali kehadirannya di Indonesia agar Bung Karno bisa segera meredam gejolak yang sedang berkecamuk di Tanah Air.

Tanpa harus pikir panjang lagi Bung Karno langsung segera menyetujuinya, karena bagi bung Karno tugas negara harus jauh lebih di utamakan daripada kepentingan pribadi. Ia mengambil keputusan untuk segera berangkat saat itu juga pulang ke Indonesia. Satu-satunya yang perlu diberi kabar hanya pihak Protokoler Jepang saja, mengingat kedatangan Bung Karno ke Jepang sebagai tamu negara!

Cobalah renungkan seorang gadis remaja yang masih bau kencur. Namun penuh khayalan maupun impian yang menjulang tinggi karena akan dinikahi oleh seorang presiden idamannya. Namun pada saat Dewi tiba di hotel kenyataan pahit yang harus diterima olehnya. Dimana Bung Karno telah pergi tanpa pamit maupun kabar sama sekali.

Hal ini membuat Dewi menjadi shock berat dan merasa ditipu dan dibohongi lagi seperti lagu lama yang biasa dan sering dinyanyikan oleh para tamunya di Copacabana dengan berbagai macam janji kosong !

Dewi merasa dicampakkan dan dibanting ke neraka paling dalam. Padahal Dewi telah memberikan kepercayaan maupun hatinya secara all out kepada Bung Karno. Dengan air mata turun berlinang Dewi menjerit dalam hatinya: “Ya Tuhan, kenapa saya harus dicampakkan sedemikian rupa seperti sampah. Saya seharusnya sadar, bahkan seorang pelacur tetaplah pelacur!

Jangan harap dunia maupun orang-orang sekitarmu bisa dan mau memaafkannya. Padahal ia sudah gembar gembor kepada handai taulan maupun orang tuanya, bahkan kepada kakak kandungnya di rumah, bahwa tidak lama lagi saya akan diboyong untuk dipersunting oleh Bung Karno. Sehingga seluruh warga di kampungnya pun sudah mengetahuinya semua.

Hal ini telah membuat Dewi menjadi putus asa (black out) dan tidak tahu entah apa lagi yang harus dilakukan olehnya sehingga ia nekad mencoba untuk melakukan bunuh diri di hotel saat itu juga. Untung ia masih bisa ditolong oleh para karyawan di hotel tersebut.

Bagi keluarga dengan minggat nya Bung Karno tanpa pamit merupakan satu aib besar yang sangat memalukan sekali. Sehingga ibunya jadi stres berat dan jatuh sakit karenanya; dimana beberapa saat kemudian ibunya yang terkasih meninggal dunia, karena akibat rasa malu dan stres!

Sejak saat itu kakak kandungnya Dewi pun tidak pernah mau menyapanya lagi, bahkan ia jadi pendiam dan tidak berani lagi keluar rumah karena rasa malu oleh tetangga. Akhirnya kakaknya Dewi juga turut mati bunuh diri, karena tidak kuat lagi untuk menanggung aib maupun rasa malu menjadi cemoohan maupun cibiran dari orang-orang disekitarnya.

Jadi bagi Dewi satu bayaran maupun pengorbanan yg sangat mahal sekali, dimana akhirnya ia harus kehilangan dua orang yg sangat dia kasihi. Kisah pilu ini hampir tidak pernah diberitakan oleh Media !

Semoga kisah kehidupan nyata dari Dewi Soekarno ini tidak membosankan para pembacanya. Apa reaksi Bung Karno dengan adanya kejadian yang sangat memilukan ini? Apakah Bung Karno tidak turut merasa bersalah, karena ia telah mencampakkan Dewi pada saat itu?

Baca sambungannya esok ! Hatur rebu nuhun.

Mang Ucup

Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar