Senin, 30 November 2020 | 08:30
OPINI

Love Story Dewi dan Soekarno (Bag. 1)

Love Story Dewi dan Soekarno (Bag. 1)
Ratna Sari Dewi

Pada hari Rabu tanggal 29 April 1970 saya diminta untuk jemput Dewi di Schipholl Airport Amsterdam pukul 14:00 siang. Ia tiba dari Paris langsung dengan pesawat KLM - KL2012. Dewi datang dengan Karina putrinya yang saat itu baru saja berusia tiga tahun.

Mengingat saya sudah kenal Dewi cukup lama, sehingga saya menyambut Dewi seperti layaknya menyambut seorang anggota keluarga dekat. Dari Airport kami langsung menuju ke Hotel Appolo di Amsterdam. Ia datang dengan didampingi oleh Nanny (Babysitter) nya.

Siapakah Dewi? Ratna Sari Dewi adalah wanita asal Jepang dengan nama asli Naoko Nemoto. Nama Ratna Sari Dewi diberikan oleh Bung Karno. Di Jepang ia lebih terkenal dengan nama Dewi Fujin (デヴィ夫人) yang berarti “Madame Dewi”. Naoko lahir di Tokyo 6 Februari 1940, dari keluarga miskin. Ayahnya hanya seorang kuli bangunan rendahan.

Awalnya ia bekerja sebagai agen asuransi, sebelumnya ia menjadi seorang entertainer (Geisha) di Copacabana Night Club yabg paling bergengsi saat itu di Tokyo. Kata Geisha (芸者); atau Geiko Atau Geigi bisa diartikan sebagai seniman penghibur. Namun kata Geigi lafalnya mirip seperti kata “yi ji” atau “ji” dalam bahasa Mandarin = Pelacur oleh sebab itu jarang digunakan.

Oleh sebab itulah untuk menjadi Geisha butuh keterampilan khusus mulai dari menyanyi dan menari juga keterampilan lainnya misalnya ritual penyajian minum teh Ocha. Jadi yang diutamakan bukan hanya penampilan fisik saja, karena tujuannya bukan sebagai pemuas syahwat. Geisha kebanyakan selalu memakai pakaian tradisionil Kimono (着物).

Biayanya pun tidak murah ketika di Tokyo saya harus bayar AS$ lima ribu untuk dihibur oleh Geisha selama lima jam saja atau per jam seribu AS$ (Rp 15 juta) tanpa esek-esek. Service apa yang tak terlupakan saat dilayani oleh Geisha ialah disuapin makan seperti saat pernikahan.

Mang Ucup selama hidup ini baru tiga kali disuapin oleh Geisha di Jepang atau oleh Gisaeng di Korea mirip Geisha dan di Bangkok di rumah makan No Hands Bar.

Saat itu Bung Karno sering ke Jepang dalam rangka mengurus pampasan Perang dari Jepang. Pampasan senilai USD 223 juta sebanding dengan USD 1,8 miliar saat ini (menggunakan kalkulator inflasi). Dengan kurs 1 USD sekitar Rp 11.000, uang pampasan perang itu kira-kira senilai dengan Rp 20 triliun sekarang. Jadi jumlah uang yang sangat aduhai sekali banyaknya.

Dana pampasan perang juga semacam uang tutup mulut terhadap tiga kejahatan perang Jepang yaitu Romusha (kerja paksa), Juugun Ianfu (korban perkosaan) dan Heiho atau wajib militer. Mereka ingin membersihkan masa lalu Jepang yang buruk.

Saya salut sama pemerintah Jepang yang belum juga lima tahun menjajah kita. Namun Jepang telah bersedia dan mau membayar Pampasan Perang. Beda dengan Belanda walaupun Belanda sudah menjajah Indonesia lebih dari 400 tahun namun kenyataannya tidak ada pampasan perang sama sekali yang dibayar oleh pihak Belanda.

Jadi wajarlah seperti juga pepatah dimana ada gula disitu ada semut. Sehingga salah satu konglomerat Jepang yang kesohor saat itu, bernama Masao Kubo. Ia adalah Direktur Utama Tonichi Inc, sebuah bisnis konglomerasi yang mulai mengembangkan sayap bisnis di Asia, termasuk Indonesia.

Mengetahui kelemahan Bung Karno ialah perempuan. Maka dari itulah ia berusaha untuk menggaet Bung Karno dengan umpan perempuan. Dimana ia mengundang Bung Karno untuk datang berkunjung ke Club tempat Dewi bekerja.

Disitu ia ingin men-service Bung Karno dengan satu acara special! Dimana untuk ini ia telah memilih Geisha termuda dan yang tercantik di Club tersebur dan pilihannya jatuh kepada Dewi sang jelita. Bahkan ia ingin memberikan unforgettable service, dimana ia minta Dewi untuk belajar melantunkan lagu dalam bahasa Indonesia. Ialah lagu keroncong hasil mahakarya dari Gesang “Bengawan Solo”.

Hati pria mana yang tidak akan luluh dan tersentuh hatinya. Ketika ia sedang berada jauh dirantau; mendengar lagu Indonesia yang dibawakan oleh seorang Geisha dari Jepang! Jadi tidaklah bisa disalahkan, apabila saat itu Bung Karno jadi begitu terkesan dengan sang Geisha yang selainnya cantik juga merdu suaranya.

Kesan yang begitu sangat mendalam, sehingga membuat dia semalaman susah tidur, karena teringat terus kepada Sang Geisha. Hatinya terasa hancur luluh lumer, karena harus teringat terus kepada Dewi. Alhasil dengan dicomblangi oleh Mr. Kubo sehingga Bung Karno esoknya sudah bisa langsung bertemu lagi di Hotel Imperial tempat di mana Bung Karno bermalam.

Namun hal apa gerangan yang telah bisa membuat Dewi seorang gadis cantik jelita berusia 18 tahun. Bisa jatuh cinta edan eling kepada Bung Karno seorang kakek gaek yang usianya 40 tahun jauh lebih tua. Bahkan Dewi telah pernah mencoba melakukan bunuh diri (Hara Kiri) untuk Bung Karno? Apa rahasia atau azimatnya?

Ingin tahu baca sambungannya besok !

PS: Hal apa yang saya tulis disini, semuanya berdasarkan penuturan langsung dari Dewi, jadi bukannya sekedar gosip ataupun kata orang !

Mang Ucup

Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar