Viral, Kolonel Ini Sebut Indonesia Sedang Dikuasai Cukong di Grup Terbatas Para Perwira
ASKARA - Dua video perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang mengungkapkan kondisi Indonesia saat ini tersebar luas di aplikasi perpesanan dan media sosial
Perwira yang mengaku bernama Kolonel Rahmat Suhaji itu mengungkapkan bagaimana Indonesia saat ini sedang dikuasai para cukong.
"Jadi memang kondisi negara kita ini dalam pandangan ilmu strategi, ilmu hukum, dan lain-lainnya memang sedang dalam penguasaan cukong," ujar dalam video yang dikutip Askara, Rabu (7/10).
Menurut Kolonel Rahmat, apa yang disampaikannya itu sama seperti yang disampaikan Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo.
"Mulainya dari mana, dari undang-undang politik. Undang-undang politik tentang keuangan ada sumbangan dari asing, sumbangan partai politik diperkecil sehingga cukong masuk. Nah, cukong yang membiayai pejabat-pejabat publik ini lah yang berbalas budi, itu mulai dari tingkat bupati, gubernur, mungkin sampai tingkat pimpinan atas," kata dia.
Dengan anggaran dari para cukung itu, kata dia, dapat dilihat apakah para oknum-oknum pejabat saat ini benar-benar membela rakyat dengan membangun Indonesia, justru katanya, kebanyakan membangun para cukong tersebut. Kolonel Rahmat ini juga mengutip apa yang disampaikan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto bahwa 4 orang kaya di Indonesia mempunyai kekayaan sama dengan seratus juta rakyat Indonesia.
Para cukong itu, menurutnya, menerapkan sistem pemerintahan mafia yang pastinya tidak akan transparan.
"Makanya, dengan adanya transparansi medsos ini, para cukong itu terancam sehingga mempengaruhi, ingin membuat sistem pemerintahan yang oligarki, kekuatan mutlak, siapa itu ya komunis," ujarnya.
Dalam sistem pemerintahan komunis, Kolonel Rahmat mengatakan, penguasa mempunyai kekuasaan mutlak terhadap rakyat. Menurutnya, sistem itu sangat tepat diterapkan di China, tetapi sangat sulit diterapkan di Indonesia. Hal itu disebutnya akan membuat rakyat Indonesia sulit hidup dengan bahagia.
"Kekayaan akan disedot, karena apa kebijakan-kebijakan yang menguntungkan cukong nanti nggak akan bisa lagi kalau tidak sistem komunis. Itu menurut saya kepentingan-kepentingan daripada cukonglah yang ingin membuat sistem pemerintahan komunis. Sehingga mungkin buat kacau seperti ini situasinya," imbuhnya.
Kolonel Rahmat mengungkapkan, orang-orang -tanpa jelas siapa yang dimaksud- yang membela rakyat akan dihujat, akan dihambat. "Dilihat saja, silakan Anda membela rakyat, Anda akan dihujat, Anda akan dihambat, ini pekerjaan para cukong menggunakan, saya ulangi menggunakan oknum-oknum aparat, aparat baik militer maupun sipil, dijadikan keparat," tegasnya.
Pandangan yang disampaikannya itu, kata Kolonel Rahmat, bisa saja salah. Dia pun mengungkapkan, apa yang disampaikannya itu hanya di dalam grup terbatas, grup yang isinya para perwira TNI.
"Ya, ini pandangan saya, kajian bisa salah. Ini kan grup terbatas, grup perwira semua ya. Ya, mari kita berjuang, bila perlu teman-teman yang kerja di perusahaan-perusahaan pada cukong itu bongkar lewat medsos, bagaimana mereka mengurus perizinan tanah dengan kekuatan uangnya disulap, misalnya hutan lindung, hutan konversi menjadi hutan produksi untuk perusahaan mereka, cek aja," terangnya.
Kolonel Rahmat memberikan contoh, di laut yang terkait dengan undang-undang perikanan. Dia seolah bertanya kepada seluruh perwira Angkatan Laut tentang undang-undang perikanan dan undang-undang perlindungan nelayan. Dimana, menurutnya nelayan dengan kapal di bawah 60 GT hanya diberikan edukasi, bukan ditangkap.
"Itu masuk mana telegram-telegram aturan itu, telegramnya ada. Nah, ini menggunakan oknum, cukong menggunakan oknum, tapi banyak oknumnya," jelasnya.
Dia mengajak para perwira di dalam grup terbatas itu untuk berjuang dengan mengatakan yang benar itu benar dan jika salah dikatakan salah.
"Apalagi saya selaku dosen di Kodiklatal, center of excellence itu perintah pimpinan, dengan otak. Namun saya bisa salah, namun saya sampaikan bahwa otak saya tidak pernah her selama menjadi taruna. Mari kita berjuang, sekali lagi teman-teman di segala sektor berjuang, bongkar kemaksiatan, sikat kemaksiatan. Jangan malah pejabat menjadi keparat, pelindung keparat, bangsat itu namanya. mengingkari, mengkhianati negara kita sendiri, menjual negara kita, cah pelayaran jangan nyamit," ungkapnya.
Terakhir, dalam videonya Kolonel Rahmat meminta maaf bagi yang tersinggung. Walaupun katanya dia tak peduli jika ada yang tersinggung.
"Mohon maaf bagi yang tersinggung, tapi nggak peduli bagi yang tersinggung, matur suwun ngge, salam hormat dari leting 17, Kolonel Rahmat Suhaji, wassalam," tandasnya.
Apa yang dikatakan Kolonel Rahmat Suhaji dalam video tersebut mendapat respons dari salah seorang perwira TNI dari kesatuan Kopassus. Mengenakan pakaian lengkap TNI dengan baret merah di kepalanya, perwira yang tak diketahui identitasnya itu mengaku setuju dengan apa yang dikatakan Kolonel Rahmat Suhaji.
"Terima kasih pimpinan, Ketua Pemuda Muslim Maluku, sungguh terinspirasi bagi kita anak bangsa yang sudah bekerja baik untuk melayani rakyat. Memang rakyat harus dijaga, rakyat harus diedukasi dengan pengetahuan yang baik. Rakyat harus diberikan hak-hak kehidupannya yang baik, tidak boleh kita dikendalikan oleh oknum-oknum atau orang-orang yang di luar bangsa ini, di negara ini," katanya.
Sebagai perwira senior di Kopassus, perwira tersebut mengaku menerima apa yang disampaikan oleh Kolonel Rahmat Suhaji itu. "Apa yang disampaikan sungguh luar biasa dan kami yang ada hanya untuk rakyat kecil, untuk kemakmuran kesejahteraan rakyat," ucapnya.
Dirinya, tambah perwira itu, hanya bekerja untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.
"Kami bekerja hanya itu, tidak mengumpulkan harta kekayaan di negara ini. Boleh dicek, 32 tahun kami mengabdi di satuan terhebat di dunia ini, khususnya di Indonesia kami tidak memiliki harta kekayaan apapun, tetapi yang ada hanya pengabdian tulus yang luhur dari prajurit yang mencintai kebhinnekaan, yang mencintai kesutuan-kesatuan, yang mencintai Indonesia, yang mencintai rakyat, mencintai keadilan sosial, dan mencintai yang terbaik. Salam untuk bapak ketua umum, syalom dari markas Kopassus Cijantung, komando, komando, komando," tandasnya.

Komentar