Senin, 22 Juni 2026 | 20:34
OPINI

Viral Dulu - Benar atau Salah Urusan Nanti", Jangan Emosi, Jaman Sedang Berubah

Viral Dulu - Benar atau Salah Urusan Nanti
Ilustrasi

Oleh: Agusto Sulistio, Pegiat Sosmed

ASKARA - Di tengah hiruk-pikuk politik, demonstrasi, perang opini di media sosial, serta berbagai perdebatan tentang arah bangsa, ada satu kenyataan yang sering luput dari perhatian kita, bahwa dunia sedang berubah dengan sangat cepat.

Bahkan, perubahan yang sedang terjadi saat ini dapat dikatakan sebagai salah satu perubahan terbesar sejak berakhirnya Perang Dingin pada awal 1990-an. Politik berubah. Ekonomi berubah. Teknologi berubah. Cara manusia bekerja, berkomunikasi, dan memperjuangkan gagasannya pun berubah.

Persoalannya, banyak orang masih menggunakan cara pandang lama untuk memahami dunia yang sudah berubah. Akibatnya, lahirlah kejengkelan, kemarahan, saling menyalahkan, dan berbagai bentuk pertentangan yang sering tak menghasilkan solusi.

Padahal, sepanjang sejarah peradaban manusia, perubahan adalah sesuatu yang tidak pernah bisa dihentikan.

Pada dekade 1990-an, dunia dipenuhi optimisme. Setelah runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, banyak pemimpin dunia percaya bahwa perdagangan bebas dan kerja sama global akan membawa kemakmuran bersama. Presiden Amerika Serikat Bill Clinton menjadi salah satu tokoh yang mendorong globalisasi ekonomi itu.

Negara-negara Eropa memperkuat integrasi ekonomi hingga melahirkan mata uang Euro. Investasi asing dibuka seluas-luasnya dan berbagai hambatan perdagangan mulai dikurangi.

Saat itu dunia seolah memiliki keyakinan yang sama, bahwa 

"Semakin banyak negara saling bergantung, maka semakin kecil kemungkinan mereka berkonflik."

Namun tiga puluh tahun kemudian, arah angin sejarah mulai berubah.

Pandemi Covid-19 pada tahun 2020 menjadi salah satu titik balik penting. Banyak negara menyadari bahwa ketergantungan berlebihan kepada pihak lain dapat menjadi masalah serius ketika krisis datang. Ketika pasokan pangan, obat-obatan, energi, hingga semikonduktor terganggu, hampir semua negara mulai meninjau ulang strategi ekonominya.

Kini para pemimpin dunia berbicara tentang ketahanan pangan, ketahanan energi, penguatan industri nasional, penguasaan teknologi strategis, dan keamanan rantai pasok.

Jika tahun 1990-an dunia berbicara tentang globalisasi, maka tahun 2026 dunia berbicara tentang keseimbangan antara kerja sama dan kemandirian.

*Amerika Serikat Contoh Paling Nyata Perubahan Jaman*

Perubahan ini paling mudah dilihat dari Amerika Serikat.
Pada era Bill Clinton, Amerika menjadi motor utama globalisasi dunia. Banyak perusahaan Amerika memindahkan pabriknya ke negara lain demi menekan biaya produksi. Dunia didorong menuju pasar yang semakin terbuka.

Namun kini keadaan berubah. Ketika Donald Trump mengusung slogan "America First",  Amerika mulai berbicara tentang pentingnya mengembalikan industri strategis ke dalam negeri. Ketergantungan terhadap impor mulai dikurangi dan kepentingan nasional kembali menjadi prioritas.

Yang menarik, perubahan itu tidak berhenti ketika Joe Biden menggantikan Trump. Meski berbeda partai dan gaya politik, Biden tetap mempertahankan banyak kebijakan yang bertujuan memperkuat industri dalam negeri Amerika, terutama di bidang teknologi, energi, dan manufaktur.

Artinya, perubahan tersebut bukan lagi hanya agenda satu presiden, melainkan perubahan cara pandang sebuah bangsa terhadap dunia.

Bahkan negara yang dahulu menjadi simbol globalisasi kini sedang berupaya memperkuat kemandirian nasionalnya.

*Konflik Tak Lagi Hanya Gunakan Senjata*

Perubahan juga terlihat dalam cara negara menghadapi konflik. Pada era 1990-an, konflik identik dengan tank, pesawat tempur, dan pasukan militer.

Kini konflik jauh lebih kompleks. Perang Rusia-Ukraina sejak 2022 menunjukkan bahwa perang modern tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga melalui sanksi ekonomi, perang informasi, serangan siber, teknologi, energi, hingga media sosial.

Hari ini, sebuah unggahan media sosial dapat mempengaruhi opini publik lebih cepat dibandingkan pidato resmi seorang pejabat negara.

Informasi telah menjadi salah satu sumber kekuatan baru dalam peradaban modern.

Karena itu, masyarakat yang tidak mampu memilah informasi akan menjadi korban dari arus perubahan yang tidak dipahaminya.

*Dari Aktivis Reformasi ke Era Digital*

Perubahan besar juga terjadi dalam gerakan sosial-politik.
Pada masa Reformasi 1998, mahasiswa dan aktivis harus membangun jaringan melalui diskusi panjang, kajian mendalam, rapat organisasi, dan kaderisasi yang berjenjang.

Sebuah gagasan membutuhkan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk menyebar / viral.

Hari ini, satu video berdurasi satu menit dapat menjangkau jutaan orang dalam hitungan jam.

Satu # tagar dapat menjadi isu nasional dalam semalam. Satu potongan video dapat membentuk opini publik sebelum masyarakat mengetahui konteks yang sebenarnya.

Generasi digital memiliki keunggulan luar biasa dalam kecepatan mobilisasi. Namun kecepatan itu melahirkan kajian yang minim. Akibatnya, muncul kecenderungan "yang penting viral, benar atau salah belakangan".

Padahal dalam tradisi keilmuan yang sehat, seharusnya memahami persoalan dilakukan terlebih dahulu sebelum menyampaikan kesimpulan.

*Orang Menjadi Mudah Marah?*

Bayangkan seorang petani yang selama puluhan tahun mengolah sawah dengan cara tertentu.

Kemudian datang teknologi baru yang mengubah seluruh metode kerja yang selama ini ia kenal. Sebagian akan melihat peluang, sebagian lagi akan melihat ancaman.

Padahal teknologi itu sendiri bersifat netral, yang menentukan hasil akhirnya adalah bagaimana manusia merespons perubahan tersebut.

Begitu pula dengan perubahan politik, ekonomi, dan sosial yang sedang terjadi saat ini.

Yang membuat seseorang menderita bukanlah perubahan itu sendiri, melainkan ketidakmauannya menerima kenyataan bahwa dunia memang telah berubah.

Ketika peta lama digunakan untuk membaca wilayah yang sudah berubah, kebingungan dan kemarahan menjadi sesuatu yang hampir tidak terhindarkan.

Al-Qur'an Sudah Menjelaskan Tentang Perubahan Jauh Sebelum Para Filsuf

Menariknya, jauh sebelum para filsuf Yunani, pemikir Barat modern, maupun para ilmuwan sosial berbicara tentang perubahan peradaban, Al-Qur'an telah menjelaskan bahwa perubahan adalah bagian dari sunnatullah atau hukum Allah yang berlaku dalam kehidupan manusia.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

InnaLlaha laa yughayyiru maa biqaumin hatta yughayyiruu maa bi anfusihim.

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)

Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat mendalam. Allah tidak mengajarkan manusia untuk memusuhi perubahan.

Allah juga tidak mengajarkan manusia untuk pasrah tanpa ikhtiar.

Sebaliknya, Allah mengajarkan bahwa perubahan harus dimulai dari perubahan cara berpikir, cara belajar, karakter, sikap, dan tindakan manusia itu sendiri.
Karena itulah bangsa yang mampu beradaptasi biasanya akan berkembang, sedangkan bangsa yang menolak belajar sering kali tertinggal oleh sejarah.

Al-Qur'an juga mengingatkan bahwa pergiliran keadaan adalah sesuatu yang pasti terjadi.

Allah SWT berfirman:

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

Wa tilkal ayyamu nudaawiluhaa bainan naas.

"Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia." (QS. Ali Imran: 140)

Ayat ini menjelaskan bahwa tidak ada kekuatan yang akan berjaya selamanya. Tidak ada bangsa yang akan terus berada di atas. Tidak ada pula masa sulit yang akan berlangsung selamanya.

Sejarah bergerak. Keadaan berganti. Generasi datang dan pergi.

Karena itu, manusia yang bijak tidak terjebak dalam euforia ketika menang dan tidak larut dalam keputus asaan ketika menghadapi kesulitan.

Membaca Perubahan dengan Kepala Dingin Dalam situasi dunia yang berubah cepat seperti sekarang, kritik tetap penting, Demonstrasi masih penting, perbedaan pendapat juga.

Namun semuanya akan jauh lebih bermanfaat apabila dibangun di atas pemahaman yang utuh.

Kita perlu membedakan antara kritik dan kemarahan.

Kritik bertujuan memperbaiki keadaan.

Sedangkan kemarahan umumnya hanya melampiaskan kekecewaan.

Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tidak pernah berbeda pendapat. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengubah perbedaan pendapat menjadi solusi.

*Penutup*

Filsuf Yunani Heraclitus pernah mengatakan bahwa tidak ada yang abadi selain perubahan.

Namun lebih dari enam abad sebelum lahirnya berbagai teori modern tentang perubahan sosial, Al-Qur'an telah mengajarkan bahwa perubahan adalah bagian dari hukum kehidupan yang ditetapkan Allah SWT.

Karena itu, pertanyaan terpenting bagi kita hari ini bukanlah mengapa dunia berubah.

Sebab dunia memang selalu berubah.

Pertanyaan yang lebih penting adalah, apakah kita bersedia belajar, memperbaiki diri, memahami arah jaman, dan mengambil peran positif di tengah perubahan itu?

Masa depan tidak dimenangkan oleh mereka yang paling keras berbicara, tapi oleh mereka yang paling cepat belajar, paling bijak memahami keadaan, dan paling siap menyesuaikan diri tanpa kehilangan nilai-nilai kebenaran yang menjadi pegangan hidupnya.

Sebagaimana firman Allah SWT:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11).

Komentar