FIKOM UPDM (B) Kupas Strategi Komunikasi Digital, Viral Belum Tentu Berdampak
ASKARA - Perkembangan media digital telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi, membentuk opini, hingga menciptakan budaya baru di ruang publik. Namun, viralitas di media sosial tidak selalu berbanding lurus dengan dampak yang dihasilkan. Pesan itulah yang mengemuka dalam ajang The Colors of Communication 2026 yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).
Kegiatan bertema "Influence and Virality: Trend Budaya dalam Komunikasi Digital" tersebut berlangsung di Kampus I Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Jalan Hang Lekir I, Jakarta, belum lama ini, dan diikuti akademisi, praktisi komunikasi, mahasiswa, serta peserta dari berbagai daerah.
Acara dibuka oleh Rektor Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Dr. H. Muhammad Saifulloh, didampingi Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Rialdo Rezeky Manogari L. Toruan, Wakil Dekan Dr. Eni Kardi Wiyati, Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Dr. Natalia Nilamsari, serta Ketua Program Studi S1 Ilmu Komunikasi Fizzy Andriani.
Dalam sambutannya, Muhammad Saifulloh menegaskan bahwa transformasi digital telah mengubah wajah komunikasi masyarakat. Karena itu, generasi muda dituntut mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar tetap relevan di dunia profesional, khususnya pada bidang komunikasi dan industri kreatif.
"Perubahan teknologi telah menggeser cara manusia berkomunikasi. Kemampuan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman menjadi kompetensi yang harus dimiliki generasi muda," ujarnya.
Forum ilmiah tersebut menghadirkan Kepala Biro Humas dan Publik Kementerian Kebudayaan RI, Prof. Dr. Ibnu Hamad, serta Head of Protocol and Corporate/Public Affairs SCM-Emtek Media, Irnawati Widji Kahardja, dengan moderator Ketua Subkomisi Media dan Publikasi Lembaga Sensor Film Indonesia, Nusantara Husnul Khatim Mulkan.
Dalam paparannya, Prof. Ibnu Hamad mengajak kalangan akademisi untuk tidak hanya menjadi penikmat budaya digital global, tetapi juga menjadi pencipta gagasan dan teori komunikasi yang berakar pada nilai-nilai Indonesia.
"Kita perlu membangun budaya komunikasi yang lahir dari pemikiran anak bangsa, sehingga Indonesia tidak hanya mengikuti perkembangan dunia, tetapi juga memberi kontribusi melalui perspektif dan teori yang berasal dari negeri sendiri," katanya.
Sementara itu, Irnawati Widji Kahardja menyoroti pentingnya membangun reputasi di era media sosial. Menurutnya, keberhasilan komunikasi tidak cukup diukur dari banyaknya konten yang viral, tetapi dari kemampuan membangun kepercayaan publik secara konsisten.
"Brand yang kuat dibangun melalui komunikasi yang konsisten, memahami karakter audiens, terus berinovasi, dan melakukan evaluasi. Viral bisa menjadi pintu masuk, tetapi kepercayaan adalah tujuan akhirnya," ujarnya.
Diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta yang hadir secara langsung maupun daring. Berbagai isu mengemuka, mulai dari perubahan algoritma media sosial, budaya digital, hingga strategi membangun pengaruh positif di tengah derasnya arus informasi.
Melalui penyelenggaraan The Colors of Communication 2026, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) berharap forum ini terus menjadi ruang kolaborasi antara akademisi dan praktisi untuk melahirkan inovasi, memperkaya kajian ilmu komunikasi, serta memperkuat kapasitas sumber daya manusia Indonesia di era digital.

Komentar