Rabu, 24 Juni 2026 | 01:27
Ruang Menulis

Ketika Ratusan Kisah Menemukan Sayapnya

Catatan dari Peluncuran Buku Festival Kisah Inspiratif Nasional 2026

Ketika Ratusan Kisah Menemukan Sayapnya
Para penggiat literasi Nasional (Dok Perpustakaan Jakarta)

Oleh: Mariza

ASKARA - Minggu, 21 Juni 2026

Jakarta siang itu terasa sedikit berbeda.

Langit memang tidak sepenuhnya cerah. Awan tipis menggantung di atas kawasan Taman Ismail Marzuki. Namun suasana di Balai Sastra PDS H.B. Jassin, Perpustakaan Jakarta lantai 4, justru dipenuhi cahaya lain, cahaya yang datang dari ratusan orang yang mencintai kata-kata.

Satu per satu peserta mulai berdatangan.

Ada yang datang dari Jakarta dan kota-kota satelit di sekitarnya. Ada pula yang menempuh perjalanan jauh dari berbagai daerah di Indonesia hanya untuk menghadiri sebuah peristiwa yang bagi mereka sangat istimewa: Peluncuran Buku Festival Kisah Inspiratif Nasional 2026.

Mereka datang membawa senyum. Mereka datang membawa harapan. Dan sebagian besar dari mereka datang dengan satu perasaan yang sama: bangga.

Karena hari itu bukan sekadar peluncuran buku. Hari itu adalah perayaan atas keberanian untuk bercerita.

Festival Kisah Inspiratif Nasional 2026 yang diselenggarakan oleh Yayasan Rumah Indonesia Menulis, SIP Publishing, dan RUANGMENULIS.ID telah berhasil mempertemukan ratusan penulis dari seluruh Indonesia. Guru, dosen, ibu rumah tangga, pelajar, mahasiswa, pensiunan, pegiat literasi, profesional, hingga tokoh masyarakat dipersatukan oleh satu keyakinan: bahwa setiap manusia memiliki kisah yang layak dibagikan.

Begitu memasuki aula, suasana kekeluargaan langsung terasa. Di berbagai sudut ruangan terdengar sapaan hangat.

"Selama ini kita hanya bertemu di grup WhatsApp."

"Akhirnya bertemu juga."

"Jadi ini wajah penulis cerita yang membuat saya menangis itu."

Tawa pecah di sana-sini.

Pelukan hangat saling bertukar.

Banyak yang baru pertama kali bertemu secara langsung, tetapi rasanya seperti sahabat lama yang dipertemukan kembali.

Di tengah aula, sebuah standing banner bertuliskan Peluncuran Buku Festival Kisah Inspiratif Nasional 2026 berdiri tegak. Tak sedikit peserta yang bergantian berfoto di depannya. Karena bagi para penulis, dokumentasi bukan sekadar foto. Ia adalah penanda perjalanan. Sebuah pengingat bahwa pada hari itu, mereka pernah menjadi bagian dari sebuah gerakan literasi yang besar.

Acara dibuka dengan penuh semangat. Dan seperti yang telah diperkirakan banyak orang, energi ruangan langsung berubah ketika Graece Tanus, Founder RUANGMENULIS.ID, naik ke atas panggung.

Sosok yang akrab disapa Ibu Graece itu tampil hangat dan bersahaja. Namun di balik kelembutannya, tersimpan semangat luar biasa dalam membangun budaya literasi. Dalam sambutannya, Ibu Graece Tanus mengingatkan bahwa setiap manusia sesungguhnya adalah kumpulan cerita.

Ada kisah tentang perjuangan. Ada kisah tentang kehilangan. Ada kisah tentang cinta. Ada pula kisah tentang bangkit dari keterpurukan.

"Kita tidak pernah tahu, tulisan yang kita buat hari ini mungkin menjadi cahaya bagi seseorang yang sedang berjalan di dalam gelap," ujarnya.

Kalimat itu disambut tepuk tangan panjang.

Karena hampir semua yang hadir memahami betul bahwa menulis kisah inspiratif bukanlah pekerjaan mudah. Sering kali seseorang harus kembali membuka luka lama, mengingat masa-masa sulit, lalu menuliskannya dengan keberanian dan kejujuran.

Sementara itu, Dr. Nasruddin Djoko Surjono, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung budaya baca dan budaya tulis. Beliau mengajak masyarakat untuk semakin dekat dengan perpustakaan. Karena perpustakaan masa kini bukan lagi sekadar tempat menyimpan buku, tetapi ruang kolaborasi, ruang belajar, sekaligus ruang lahirnya kreativitas. Beliau yang ternyata berulang tahun hari itu, dirayakan peserta se-aula.

Suasana semakin semarak ketika Gol A Gong, Duta Baca Indonesia, naik ke panggung. Seperti biasa, Gol A Gong hadir dengan energi yang nyaris tak pernah habis. Humor-humor segarnya membuat suasana cair. Namun di balik kelucuannya, tersimpan pesan-pesan mendalam.

"Kalau ingin abadi, menulislah," katanya.

Aula pun bergemuruh.

Banyak peserta segera mengabadikan momen tersebut.

Gol A Gong mengajak seluruh peserta untuk terus menulis tanpa takut salah. Karena menurutnya, tulisan adalah jejak peradaban. Tulisan memungkinkan manusia melampaui batas ruang dan waktu. Tubuh boleh menua. Tetapi tulisan akan terus hidup.

Kehadiran Prof. E. Aminudin Aziz, Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, semakin menegaskan pentingnya gerakan literasi. Dengan gaya tutur yang tenang dan reflektif, Prof. Aminudin Aziz menekankan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai ilmu pengetahuan.

Menurut beliau, literasi bukan sekadar membaca dan menulis. Literasi adalah kemampuan memahami kehidupan, membangun empati, dan menciptakan perubahan.

Setelah itu, giliran Indra Defandra, Ketua Yayasan Rumah Indonesia Menulis sekaligus Direktur SIP Publishing, menyampaikan sambutan. Mas Indra berbicara mengenai pentingnya membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan.

Menurutnya, Indonesia memerlukan semakin banyak penulis yang tidak hanya mampu menulis dengan baik, tetapi juga mampu menghadirkan nilai dan inspirasi melalui tulisannya. Ia menjelaskan bagaimana proses panjang penerbitan buku antologi ini dilakukan, mulai dari pengumpulan naskah, penyuntingan, tata letak, desain, hingga akhirnya lahirlah buku yang hari itu diluncurkan.

"Di balik satu buku, ada banyak hati yang bekerja bersama," ungkapnya.

Dan benar.

Hari itu semua orang merasakan bahwa buku ini lahir bukan hanya dari tinta dan kertas, melainkan dari gotong royong.

Namun salah satu bagian paling memikat dari seluruh rangkaian acara justru datang dari para pengisi acara cilik. Penampilan musikalisasi puisi dari siswa-siswi SMAN 1 Jakarta berhasil memukau hadirin.

Puisi tidak sekadar dibacakan. Puisi dihidupkan. Nada gitar berpadu dengan penghayatan yang kuat. Membuat aula sesaat tenggelam dalam keheningan yang indah.

Lalu tibalah sesi yang benar-benar menyentuh hati.

Dua storyteller cilik, Abdul Malik Arrazy dan Morene Jane Rusli, tampil berpasangan di atas panggung.

Dengan ekspresi yang hidup, intonasi yang terjaga, serta penguasaan panggung yang mengagumkan, keduanya membawakan kisah tentang Inggit Garnasih, istri pertama Presiden Soekarno.

Kisah tentang perempuan tangguh yang selama bertahun-tahun mendampingi perjuangan Bung Karno disampaikan dengan sangat menyentuh.

Mereka berkisah tentang kesetiaan. Tentang pengorbanan. Tentang cinta yang memilih mendampingi dalam masa-masa sulit.

Tidak sedikit hadirin yang tampak terharu. Melalui suara anak-anak, sejarah seolah kembali hidup.

Dan dari panggung kecil itulah, generasi muda mengingatkan bahwa bangsa ini dibangun bukan hanya oleh para pemimpin besar, tetapi juga oleh perempuan-perempuan luar biasa yang berdiri di belakang mereka.

Tak kalah mengesankan adalah penampilan seorang storyteller lain yang merupakan cicit dari kakak kandung Wage Rudolf Supratman. Dengan penuh kebanggaan, Bewita membagikan kisah mengenai W.R. Supratman, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Kisah tersebut membuat hadirin seakan diajak kembali menelusuri lorong sejarah bangsa. Tentang perjuangan. Tentang nasionalisme.

Dan… tentang sebuah lagu yang hingga hari ini masih dinyanyikan dengan penuh hormat oleh seluruh rakyat Indonesia.

Kemeriahan acara semakin lengkap dengan penampilan Sanggar Selendang Putih. Anak-anak penari tampil memukau dalam balutan busana Nusantara berwarna-warni. Gerakan mereka luwes. Senyum mereka tulus. Tarian demi tarian seolah menjadi pengingat bahwa literasi dan budaya adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Hari itu, sastra, sejarah, musik, tari, dan persahabatan berpadu dalam satu ruang.

Tidak ada kompetisi.

Tidak ada yang saling mengalahkan.

Yang hadir hanyalah rasa syukur.

Syukur karena telah berani menulis.

Syukur karena telah menyelesaikan karya.

Dan syukur karena dipertemukan dengan begitu banyak sahabat baru.

Pengumuman 200 Penulis Terbaik Festival Kisah Inspiratif Nasional 2026 memang tidak dilakukan pada hari peluncuran buku ini. Namun tidak seorang pun tampak kecewa.

Karena sesungguhnya, hari itu bukan tentang siapa yang terbaik.

Hari itu adalah tentang merayakan proses.

Merayakan keberanian.

Merayakan persahabatan.

Saat acara usai, banyak peserta masih enggan meninggalkan aula.

Mereka berfoto.

Bertukar buku.

Bertukar alamat.

Bertukar mimpi.

Di luar gedung, matahari Jakarta perlahan bergerak ke barat. Namun semangat yang menyala di dalam hati para penulis tampaknya baru saja dimulai. Sebab setiap kisah yang ditulis dengan kejujuran akan selalu menemukan pembacanya.

Dan siapa tahu, di suatu tempat, pada suatu malam yang sunyi, sebuah kisah sederhana dari buku ini akan menyentuh seseorang, lalu diam-diam mengubah hidupnya.

Balai Sastra H.B. Jassin
Taman Ismail Marzuki

 

Komentar