Minggu, 14 Juni 2026 | 01:36
Ruang Menulis

Cerpen: Buku Gelap di Warung Kopi

Cerpen: Buku Gelap di Warung Kopi
Ilustrasi

ASKARA - Di warung kopi pinggir sawah, Samin membaca buku berjudul Mengelola Nyali untuk Beristri Empat. Warga menertawakan, mengira ia sedang menyiapkan poligami. Namun tatapan Samin tidak seperti lelaki penuh gairah, melainkan seperti orang yang sedang menunggu vonis. Aku, Surya, menjadi saksi diam diam dari rahasia yang disembunyikannya rapat rapat.

Warung kopi Pak Rukman selalu ramai menjelang magrib, ketika angin sawah membawa aroma lumpur dan daun padi basah. Di sudut warung itu, Samin duduk sendirian dengan kopi hitam tanpa gula. Tangannya memegang sebuah buku tebal bersampul gelap yang tulisannya mencolok dan sengaja memancing mata. Orang orang yang datang selalu menahan tawa, seolah warung itu baru mendapat hiburan baru.

Judul buku itu membuat siapa pun merasa berhak berkomentar. Mengelola Nyali untuk Beristri Empat, tertulis besar dan tegas seperti papan pengumuman. Bu Rini penjual sayur terkikik setiap kali melihatnya, lalu membisikkan sesuatu pada ibu ibu lain. Pak Darto bahkan bersumpah Samin pasti sudah punya calon istri kedua, sebab tidak mungkin orang membaca buku seperti itu tanpa niat.

Samin bukan siapa siapa di kampung kami, hanya buruh serabutan yang hidupnya pas pasan. Kadang ia ikut panen, kadang jadi kuli angkut di pasar, kadang memperbaiki atap bocor tetangga demi upah seadanya. Namun sejak buku itu muncul, namanya seperti naik kelas di mulut warga. Seolah ia bukan lagi Samin si kurus, melainkan tokoh utama dari kisah paling heboh sedesa.

Aku Surya, teman kecilnya, awalnya ikut tertawa seperti yang lain. Aku sempat berpikir mungkin Samin sedang kesambet ambisi, atau mungkin ingin membuktikan diri sebagai lelaki hebat. Tetapi setiap kali kulihat wajahnya menunduk di balik halaman buku, ada sesuatu yang berbeda. Tatapannya tidak memancarkan kesombongan, melainkan seperti orang yang sedang menahan sakit di dada.

Suatu malam aku duduk di depannya, ketika warung mulai sepi dan lampu bohlam menggantung redup. Aku bertanya setengah bercanda, apakah ia benar benar ingin beristri empat seperti judul bukunya. Samin menutup buku itu perlahan, lalu menatapku lama tanpa tersenyum. Setelah beberapa detik, ia berkata pelan bahwa orang kampung terlalu mudah percaya pada sampul.

Aku ingin tertawa, tetapi nada suaranya membuat leherku tercekat. Ia membuka halaman tengah, memperlihatkan coretan pensil dan tanda garis yang rapi. Yang kutemukan bukan catatan tentang perempuan atau strategi memikat hati, melainkan daftar nama, tanggal, dan angka angka yang tampak seperti hitungan biaya. Ada juga catatan kecil berbunyi, jangan sampai anak anak kehilangan rumah.

Samin menatap halaman itu seolah sedang membaca nasibnya sendiri. Ia berkata hidup bukan soal keberanian menambah, tetapi keberanian menahan. Kalimatnya pendek, tetapi matanya memerah seperti baru saja menelan tangis. Aku mulai sadar bahwa buku itu bukan bahan tertawaan, melainkan sesuatu yang ia pegang sebagai pegangan hidup.

Keesokan harinya gosip justru semakin liar. Pak Darto menyebarkan cerita bahwa Samin pasti sudah mendapat restu dari seorang janda kaya di pasar. Bu Rini menambahkan bumbu bahwa calon istri kedua itu cantik dan masih muda, sebab katanya Samin terlihat sering tersenyum sendiri. Bahkan Pak Lurah sempat menyinggung nama Samin dalam rapat RT, menyuruh warga tidak gaduh kalau memang ada rencana pernikahan lagi.

Yang membuatku tidak nyaman adalah reaksi orang orang yang seolah menunggu hiburan. Mereka membicarakan Samin seperti membicarakan pertandingan sepak bola, memilih pihak dan menebak skor. Tidak ada yang bertanya apakah istrinya setuju, atau apakah anak anaknya akan baik baik saja. Di kampung kami, gosip sering lebih penting daripada kebenaran.

Aku pun memutuskan mendatangi rumahnya. Rumah Samin sederhana, dindingnya sebagian papan, lantainya semen kasar, dan halaman depannya ditumbuhi rumput liar. Lestari istrinya membukakan pintu dengan wajah pucat, bibirnya kering, dan tubuhnya tampak ringan seperti kehilangan tenaga. Ia mempersilakan aku masuk dengan suara lirih, lalu duduk diam seolah setiap napas adalah kerja berat.

Samin datang dari dapur membawa teh hangat, tetapi ia tidak tampak tenang. Matanya sering melirik ke kamar, tempat Lestari beberapa kali batuk pelan. Di atas meja, buku itu tergeletak bersama sebuah map cokelat yang sudutnya sudah kusut. Aku melihat ada bungkus obat di dekat gelas, sengaja ditutupi kain kecil, seolah tidak ingin terlihat.

Aku menatap Samin dan bertanya tanpa bercanda lagi. Aku menanyakan apa sebenarnya yang ia rencanakan, dan mengapa ia membiarkan orang kampung menertawakannya. Samin menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggung pada kursi bambu yang berderit. Ia berkata ia tidak sedang mengejar perempuan, ia sedang mengejar waktu yang semakin sedikit.

Belum sempat aku bertanya lebih jauh, Lestari keluar dari kamar dengan langkah pelan. Ia memegang perutnya, wajahnya pucat seperti kain yang direndam air. Ia tersenyum tipis pada kami, lalu berkata ia hanya ingin minum air hangat. Saat Samin berdiri membantu, kulihat tangan Lestari gemetar, dan senyum yang ia paksa terasa seperti pintu yang hampir roboh.

Ketika Lestari kembali masuk kamar, Samin duduk lagi dan suaranya berubah lebih berat. Ia berkata bahwa setiap malam ia membaca buku itu bukan untuk belajar berani menikah lagi. Ia membaca untuk menyiapkan dirinya menghadapi keputusan yang akan membuatnya dibenci banyak orang. Ia ingin terlihat seperti lelaki haus nafsu, agar kampung sibuk menertawakan dan lupa bertanya tentang keadaan istrinya.

Aku terdiam, dan untuk pertama kalinya aku merasa malu menjadi bagian dari kerumunan yang menertawakan. Samin lalu membuka map cokelat itu sedikit, tetapi tidak menunjukkan isinya. Ia hanya berkata bahwa surat di dalamnya adalah alasan mengapa ia harus kuat, meski hatinya ingin pecah. Ia berkata, Surya, kalau nanti kau dengar kabar buruk, jangan ikut menambah luka.

Beberapa hari setelah itu, aku melihat Samin semakin sering ke warung kopi, tetapi bukan untuk menikmati suasana. Ia seperti mencari udara, seolah rumahnya terlalu penuh dengan kenyataan yang menyakitkan. Ia membaca lebih cepat, menandai halaman tertentu, lalu menulis catatan baru di pinggir buku. Kadang ia menatap jalan kampung yang gelap, seperti menunggu seseorang datang membawa berita.

Pada suatu sore, kabar besar akhirnya meledak. Samin terlihat masuk kantor KUA di kecamatan bersama dua orang saksi, dan berita itu menyebar secepat api di ilalang. Orang orang berbondong bondong menuju balai desa, ada yang pura pura lewat, ada yang membawa anaknya sekalian agar ikut melihat. Aku ikut datang, bukan karena penasaran, tetapi karena merasa harus berada di sana jika sesuatu terjadi.

Di luar ruangan, suara bisik bisik terdengar seperti dengung lebah. Bu Rini tertawa kecil sambil menutup mulut, sementara Pak Darto berdiri paling depan seolah ia pemilik acara. Mereka yakin akan mendengar nama perempuan baru, mungkin janda pasar, mungkin bidan desa, mungkin siapa saja yang bisa dijadikan bahan cerita berhari hari. Tidak ada yang menyadari bahwa wajah Samin justru tampak seperti orang yang akan menghadiri pemakaman.

Aku berhasil mendekat dan mengintip dari celah pintu. Di dalam ruangan, petugas KUA duduk dengan berkas berkas, Pak Lurah ada di sampingnya, dan dua saksi memandang Samin dengan serius. Samin meletakkan buku itu di meja, lalu menaruh map cokelat di atasnya. Tangannya terlihat gemetar, dan napasnya berat seperti memanggul karung penuh batu.

Petugas KUA bertanya dengan nada formal, apakah Samin datang untuk mengurus pernikahan baru. Samin mengangguk pelan tanpa menatap siapa pun. Pak Lurah sempat tersenyum canggung, seolah bingung harus menanggapi dengan bangga atau marah. Petugas itu lalu bertanya siapa calon mempelai perempuan yang akan dinikahi.

Samin tidak langsung menjawab. Ia membuka buku itu, lalu mengeluarkan selembar kertas yang diselipkan rapi di halaman terakhir. Ia menyerahkan kertas itu kepada petugas KUA, dan aku melihat jemarinya menekan sudut kertas seolah takut kertas itu terbang. Setelah itu ia berkata pelan, saya ingin menikah lagi, tapi bukan untuk mencari bahagia.

Petugas KUA membaca kertas itu, dan wajahnya berubah tegang dalam hitungan detik. Pak Lurah yang semula santai mendadak berdiri, lalu ikut menunduk membaca. Dua saksi saling pandang, seperti baru sadar mereka sedang menyaksikan sesuatu yang bukan lelucon. Ruangan itu tiba tiba sunyi, bahkan suara orang orang di luar seperti mendadak jauh.

Aku melihat judul besar di bagian atas surat itu. Nama rumah sakit kota, cap dokter, dan deretan kalimat medis yang membuat dada terasa dingin. Surat itu menjelaskan bahwa Lestari menderita penyakit berat, dan kondisinya sudah memasuki tahap yang sulit diselamatkan. Ada kalimat yang paling menusuk, perkiraan waktu yang tersisa tidak panjang.

Samin menunduk, lalu berkata bahwa ia tidak ingin anak anaknya hidup tanpa pegangan. Ia tidak ingin Lestari pergi dengan rasa takut, memikirkan siapa yang akan menjaga keluarga setelah ia tiada. Ia ingin Lestari bisa menutup mata dengan tenang, meski dunia menuduhnya macam macam. Ia berkata buku itu ia beli agar dirinya punya nyali menghadapi kenyataan, bukan nyali untuk menambah kesenangan.

Pintu ruangan terbuka, dan orang orang langsung menyerbu dengan pertanyaan. Mereka meminta nama calon istri kedua, menuntut cerita yang bisa mereka bawa pulang. Namun Samin melangkah keluar dengan mata merah, membawa buku itu di dadanya seperti membawa batu nisan. Ia berkata keras bahwa ia sengaja membiarkan mereka menertawakan, karena ia tidak ingin Lestari menjadi bahan kasihan.

Kerumunan mendadak terdiam, seperti dipukul suara lonceng. Bu Rini menutup mulutnya, Pak Darto mundur selangkah, dan beberapa orang mulai menunduk malu. Mereka baru sadar bahwa selama ini mereka menertawakan luka orang lain tanpa izin. Aku melihat mata Samin bergetar, tetapi ia tetap berdiri, seolah malu bukan lagi miliknya.

Di saat semua orang masih terpaku, Lestari tiba tiba muncul di ujung jalan. Tubuhnya lemah, langkahnya pelan, tetapi ia memaksa berjalan seperti ingin menutup cerita dengan tangannya sendiri. Ia memandang kerumunan, lalu memandang Samin dengan mata yang basah. Suaranya lirih namun jelas ketika ia berkata bahwa ia sudah merestui semuanya.

Orang orang tidak paham, mengira Lestari sedang memberi izin untuk poligami. Tetapi Lestari melanjutkan, ia merestui bukan karena ia ingin dimadu, melainkan karena ia tidak ingin Samin sendirian setelah ia pergi. Ia ingin ada tangan lain yang bisa menuntun anak anaknya, ketika tangannya sendiri sudah tak mampu menggenggam. Setelah mengatakan itu, tubuhnya oleng, dan ia jatuh di pelukan Samin.

Samin memeluknya erat, seolah ingin menahan tubuh itu agar tidak jatuh lebih jauh. Buku yang selama ini ia bawa terlepas dari tangannya dan jatuh ke tanah. Halamannya terbuka pada catatan kecil yang ditulis Samin sendiri, bukan tulisan dari penulis buku itu. Di situ tertulis satu kalimat yang membuatku menelan napas, Nyali terbesar bukan menambah cinta, tetapi menyiapkan kehilangan.

Kerumunan bubar tanpa suara, seperti orang orang yang baru pulang dari pemakaman. Pak Darto tidak lagi tertawa, Bu Rini tidak lagi bergosip, dan Pak Lurah menatap tanah seperti kehilangan kata. Aku berdiri terpaku melihat Samin mengangkat Lestari perlahan, membawa pulang istrinya dengan langkah yang berat. Saat itulah aku sadar, buku itu memang tentang nyali, tetapi bukan nyali seperti yang selama ini kami bayangkan.

Komentar