Cerpen: Pelukan di Seberang Warung Ronde
ASKARA - Hujan turun tanpa jeda ketika aku melihat suamiku memeluk seorang ibu tukang parkir di seberang warung ronde. Tangis mereka pecah seperti dua orang yang lama kehilangan arah. Aku terpaku, tak mengerti mengapa pelukan itu terasa begitu dalam, seolah menyimpan luka bertahun tahun. Malam yang semula biasa berubah menjadi kisah yang tak pernah kami rencanakan.
Aku masih ingat detik ketika pelukan itu terjadi, karena semua suara seperti berhenti mendadak. Lampu jalan memantulkan kilau air hujan di aspal, membuat bayangan mereka tampak samar. Anak kami menggeliat di pelukanku, mengantuk, sementara aku berdiri kaku menahan napas. Suamiku tidak biasanya memeluk orang asing, apalagi di tengah hujan.
Beberapa menit sebelumnya, kami masih duduk santai di warung ronde kecil di pinggir jalan. Warung itu sederhana, bangkunya dari kayu, mejanya penuh noda bekas kuah jahe. Di atas tungku, panci besar mengepul, menebarkan aroma jahe dan gula merah yang hangat. Aku menatap suamiku yang sedang tersenyum pada anak kami, lalu mengira malam itu akan berlalu tanpa cerita apa pun.
Kami memang sengaja keluar malam, sekadar mencari udara setelah hari yang melelahkan. Anak kami merengek ingin minum ronde karena melihatnya di video pendek yang sering muncul di ponselku. Suamiku mengalah, mengajak kami ke warung yang katanya enak dan terkenal sejak dulu. Hujan mulai turun rintik ketika kami memarkir motor, tapi kami tetap masuk karena perut sudah lapar dan badan ingin hangat.
Penjual ronde itu seorang bapak tua dengan wajah ramah, memakai kupluk wol yang mulai basah. Ia bekerja cepat, tangannya terampil membentuk bulatan ronde putih, lalu memasukkannya ke dalam kuah jahe mendidih. Uap mengepul, mengembun di kaca etalase kecil berisi kacang tanah dan potongan roti tawar. Suasana warung ramai, namun hangatnya membuat semua orang seperti saling memaklumi.
Aku baru menyadari sesuatu ketika pandanganku menyeberang ke sisi jalan. Di sana, di bawah payung lusuh yang miring, berdiri seorang ibu tukang parkir. Tubuhnya kecil, jaketnya tipis, dan kain penutup kepalanya tampak basah menempel pada dahi. Ia memegang peluit dan selembar karcis, matanya tajam mengawasi kendaraan yang keluar masuk.
Hujan yang tadinya lembut mulai berubah rapat dan menusuk. Aku melihat ibu itu menggigil, bahunya naik turun menahan dingin. Ia tetap berdiri, tetap memberi isyarat pada kendaraan, seolah hujan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti bekerja. Dadaku terasa tidak enak, seperti ada beban yang tiba tiba diletakkan tanpa izin.
Aku menunduk melihat gelas ronde di tanganku, uapnya hangat, aromanya manis. Rasanya tidak adil jika aku menikmati ini sementara orang lain berdiri di luar tanpa perlindungan. Aku menoleh ke suamiku, dan tanpa perlu banyak kata, ia juga sudah melihat ke arah yang sama. Kami saling tatap sebentar, lalu suamiku mengangguk pelan.
Pesan satu lagi, katanya dengan suara rendah. Biar ibu itu juga minum yang hangat. Aku mengangguk, memanggil bapak penjual ronde, lalu memesan satu porsi tambahan. Suamiku tidak mengatakan apa pun lagi, tetapi aku melihat sorot matanya berubah, seperti ada kenangan lama yang tiba tiba menyala.
Bapak penjual ronde menuangkan kuah jahe panas ke dalam gelas besar. Bulatan ronde mengambang pelan, gula merah larut dan membuat kuahnya berwarna cokelat keemasan. Ia menambahkan potongan roti kecil dan taburan kacang, lalu menutupnya rapat. Aku membayar cepat, membawa gelas itu dengan hati hati, takut tumpah.
Begitu keluar dari warung, hujan langsung menyambutku dengan dingin yang tajam. Aku menutupi kepala dengan tangan, melangkah cepat menyeberang jalan. Air hujan memukul wajahku, membuat mataku perih dan napasku berat. Ibu tukang parkir itu menoleh, terlihat waspada, mungkin mengira aku hendak menegur atau meminta sesuatu.
Bu, ini ada ronde hangat, kataku sambil menyodorkan gelas. Ibu itu terdiam beberapa detik, lalu memandang gelas itu seperti memandang sesuatu yang asing. Wajahnya tampak bingung, kemudian perlahan berubah menjadi terharu. Tangannya gemetar ketika menerima, dan aku melihat matanya berkaca kaca.
Makasih ya, Nak, ucapnya pelan. Suaranya serak, seperti orang yang menahan dingin terlalu lama. Ia menunduk, lalu mengangkat gelas itu mendekat ke hidung, menghirup aromanya. Untuk sesaat, ia memejamkan mata, seolah aroma jahe itu membawa ingatan yang jauh.
Aku tersenyum kecil dan kembali ke warung, tidak ingin membuatnya merasa sungkan. Ketika duduk, aku mendapati suamiku menatap kosong ke arah seberang. Anak kami masih sibuk meniup ronde, pipinya mengembung lucu, lalu tertawa karena uapnya membuat hidungnya geli. Aku mencoba mengalihkan perhatian suamiku, tetapi ia hanya mengangguk tanpa benar benar kembali.
Beberapa menit kemudian, aku melihat ibu tukang parkir itu tidak langsung meminum ronde tersebut. Ia justru berdiri menepi, memeluk gelas itu di dekat dada, seolah menggunakannya sebagai penghangat. Matanya menoleh ke sudut ruko yang gelap, lalu ia mengangkat tangan memberi isyarat. Ada sesuatu yang ia tunggu, dan rasa ingin tahuku semakin besar.
Dari balik tembok ruko, muncul seorang anak kecil. Badannya kurus, rambutnya basah, dan ia menutupi kepala dengan kantong plastik hitam. Anak itu berlari kecil mendekat, lalu berhenti di depan ibu tukang parkir. Ibu itu menunduk, menyeka wajah anak itu dengan ujung kain yang ia pakai.
Aku melihat ibu itu membuka tutup gelas ronde perlahan. Ia meniup uapnya, lalu menyodorkan gelas itu kepada anak kecil tersebut. Anak itu ragu ragu, tapi akhirnya meneguk sedikit demi sedikit. Ibu itu menatapnya dengan mata lembut, seperti seseorang yang menyimpan seluruh cintanya dalam satu pandangan.
Aku tiba tiba merasa sesak, bukan karena dingin, tetapi karena kenyataan yang menyentuh. Ronde itu tidak hanya menjadi minuman, tetapi menjadi jembatan kecil antara seorang ibu dan anak yang sedang bertahan hidup. Aku menoleh pada suamiku dan menunjuk pelan. Suamiku memperhatikan, lalu wajahnya berubah, seolah ia baru saja diingatkan pada sesuatu yang ia coba lupakan.
Ia memberi kepada anaknya, gumam suamiku lirih. Aku mengangguk, dan tanpa sadar aku menekan bibirku agar tidak bergetar. Ada rasa malu yang datang, bukan karena memberi, tetapi karena aku sempat berpikir ibu itu hanya sendirian. Ternyata, bahkan dalam hujan dan lapar, ia masih berbagi.
Suasana warung tetap ramai, tetapi bagiku dunia seperti mengecil. Suara sendok beradu gelas terdengar jauh, obrolan pelanggan terdengar seperti gema. Aku hanya bisa menatap seberang, melihat ibu itu berdiri memayungi anaknya dengan tubuhnya sendiri. Dalam cahaya lampu jalan, bayangan mereka tampak rapuh namun tegar.
Ketika ronde kami habis, anak kami mulai menguap dan bersandar di lenganku. Suamiku mengeluarkan uang dari dompetnya, lalu menatapku seolah meminta izin. Aku mengangguk, lalu berkata pelan agar anak kami tidak mendengar, kasih saja sedikit lagi. Suamiku berdiri, merapikan jaketnya, dan berjalan keluar.
Aku melihat suamiku menyeberang jalan dengan langkah pelan, seperti orang yang sedang menimbang sesuatu dalam pikirannya. Ia mendekati ibu tukang parkir itu dan berbicara singkat. Tangannya menyelipkan uang ke telapak tangan ibu itu, tetapi ibu itu tampak menolak. Suamiku mengatakan sesuatu lagi, lebih pelan, lalu ibu itu akhirnya menerima dengan kepala tertunduk.
Aku mengira semuanya selesai sampai di situ. Aku sudah siap pulang, sudah siap melupakan malam itu sebagai kisah kecil tentang kebaikan. Tetapi ketika suamiku kembali, aku melihat wajahnya berbeda. Matanya seperti memendam sesuatu, dan napasnya sedikit lebih berat.
Kami berjalan menuju motor, anak kami sudah hampir tertidur. Aku menoleh sekali lagi ke seberang jalan. Ibu tukang parkir itu masih berdiri di bawah hujan, memegang uang pemberian suamiku dengan tangan gemetar. Ia menatap ke arah kami, tatapannya tidak seperti orang yang sekadar berterima kasih.
Tatapan itu seperti mengenali. Tatapan itu seperti menemukan sesuatu yang hilang.
Ibu itu melangkah mendekat beberapa langkah dan memanggil pelan. Suaranya nyaris tenggelam oleh hujan dan suara kendaraan yang lewat. Aku berhenti, suamiku juga berhenti, dan anak kami menggeliat dalam pelukanku. Aku menunggu dengan perasaan tidak nyaman, seolah udara tiba tiba menipis.
Nak, kata ibu itu sambil menatap suamiku, kamu namanya siapa. Suamiku terdiam, seperti tidak menduga pertanyaan sederhana itu. Ia menyebut namanya dengan suara pelan, dan aku melihat ibu itu menelan ludah. Wajahnya memucat, dan matanya memandang suamiku seolah ia sedang melihat hantu.
Ibu itu menggeleng pelan, lalu berkata lirih, bukan, bukan itu. Suamiku mengerutkan kening, tampak bingung, sementara aku mulai merasa jantungku berdetak lebih cepat. Hujan semakin deras, menetes dari ujung rambutku, namun aku tidak sanggup bergerak. Ibu itu kemudian berbisik, nama kecilmu dulu siapa.
Suamiku menatapku sebentar, lalu menatap ibu itu lagi. Ada jeda panjang sebelum ia menjawab, seperti ia sedang membuka lemari tua yang terkunci dalam ingatannya. Arif, katanya akhirnya, suaranya sangat pelan, hampir seperti orang mengaku dosa. Saat nama itu keluar, tubuh ibu tukang parkir itu seperti kehilangan tenaga.
Gelas ronde yang tadi ia pegang jatuh ke tanah, menggelinding di antara genangan air. Kuah jahe tumpah, larut bersama hujan, dan aroma manisnya naik sebentar sebelum hilang. Ibu itu menutup mulutnya dengan tangan, napasnya memburu. Matanya menatap suamiku tanpa berkedip, seolah takut jika ia berkedip maka sosok itu akan lenyap.
Ya Allah, ucapnya gemetar. Suaranya pecah, bukan tangis biasa, tetapi tangis orang yang menyimpan duka bertahun tahun. Ia melangkah mendekat, ragu ragu, lalu tangannya menyentuh lengan suamiku. Sentuhan itu seperti memastikan bahwa yang ia lihat bukan bayangan.
Suamiku menelan ludah, lalu menarik lengan bajunya sedikit. Aku baru menyadari ada bekas luka kecil di dekat pergelangan tangan suamiku, luka yang selama ini tidak pernah kutanyakan. Ibu itu menatap luka itu, lalu tangisnya semakin keras. Ia memanggil sebuah nama lain, lirih namun jelas, Sari.
Aku membeku. Itu nama yang tidak pernah aku dengar sebelumnya, tetapi suamiku langsung memejamkan mata, seolah kata itu menusuk tepat di tempat paling rapuh. Suamiku menarik napas panjang dan berkata, itu nama ibu kandung saya. Kalimat itu keluar seperti batu jatuh ke air, membuat dadaku ikut tenggelam.
Ibu tukang parkir itu menangis sambil mengangguk, lalu ia menunjuk dirinya sendiri. Saya Sari, katanya pelan, suaranya hampir hilang. Saya ibumu. Aku merasa lututku melemas, dan tanganku otomatis memeluk anak kami lebih erat.
Suamiku mundur setengah langkah, wajahnya pucat, seolah ia ingin menyangkal. Ia menatap ibu itu dari ujung kepala sampai kaki, seolah mencari kesalahan dalam kenyataan. Tetapi ibu itu mengangkat tangannya dan menunjukkan sebuah tanda di telapak, bekas luka bakar kecil yang membentuk garis melengkung. Suamiku mematung, karena aku melihat tangannya sendiri bergerak refleks, menyentuh bekas luka serupa di lengannya.
Aku tidak tahu kapan suamiku mulai menangis. Air hujan bercampur air matanya, membuat wajahnya sulit dibedakan mana yang basah karena cuaca dan mana yang basah karena luka lama. Ia membuka mulut seolah ingin berkata sesuatu, tetapi tidak ada suara yang keluar. Lalu ibu itu memeluknya, erat, seperti memeluk seseorang yang pernah ia lepaskan dengan paksa.
Di situlah aku berdiri terpaku, menyaksikan pelukan yang membuat malam kami runtuh sekaligus utuh. Anak kami terbangun sedikit, menatap pemandangan itu dengan mata bingung. Suamiku membalas pelukan itu perlahan, seperti orang yang takut salah, seperti orang yang takut semuanya hanya mimpi. Tangis mereka pecah dalam hujan, dan aku merasa dunia berubah arah.
Setelah beberapa menit, ibu itu menatapku dengan mata merah. Maaf ya, Nak, katanya pelan, saya kira anak saya sudah mati. Saya cari bertahun tahun, tapi tidak pernah ketemu. Saya cuma dengar kabar dia diadopsi, tapi saya tidak tahu siapa yang bawa dia pergi.
Aku ingin bertanya banyak hal, tetapi lidahku kelu. Suamiku menggenggam tangan ibu itu, tangannya gemetar, lalu bertanya dengan suara serak, kenapa ibu di sini. Ibu itu menunduk dan menjawab, saya kerja di sini sejak lama, karena dulu saya terakhir melihat kamu di sekitar terminal ini. Saya pikir kalau saya bertahan di tempat ini, mungkin suatu hari Tuhan mengembalikan kamu.
Kalimat itu membuatku merinding. Ternyata hujan, dingin, dan peluit kecil itu bukan sekadar pekerjaan. Itu adalah penantian yang dibangun dari kesabaran dan luka yang tidak pernah sembuh. Aku memandang ibu itu, lalu memandang suamiku, dan baru kusadari bahwa hidup bisa menyembunyikan rahasia sebesar ini di balik hal sederhana.
Suamiku menunduk, lalu mengeluarkan dompetnya. Dari dalamnya ia mengambil secarik kertas kecil yang selalu ia simpan, surat lama yang tulisannya hampir pudar. Aku pernah melihatnya, tetapi ia selalu menutupnya cepat setiap kali aku bertanya. Malam itu, ia membukanya dan menyerahkan kepada ibu itu.
Ibu itu membaca surat itu perlahan, bibirnya bergerak mengikuti setiap kata. Tangisnya pecah lagi ketika ia melihat tanda tangan di bagian bawah. Itu tulisan saya, katanya, lalu ia menekan surat itu ke dadanya. Aku melihat suamiku menggigit bibirnya, menahan suara yang ingin keluar.
Aku kira ibu sudah tidak ada, bisik suamiku. Ibu itu menggeleng, lalu menjawab dengan suara hancur, saya tidak pernah pergi. Saya cuma tidak punya kekuatan untuk menemukanmu. Saya cuma punya kaki yang lelah dan tubuh yang semakin tua.
Kami berdiri di bawah hujan lebih lama daripada yang seharusnya. Orang orang berlalu lalang, kendaraan lewat, tetapi aku merasa dunia hanya menyisakan kami bertiga, ditambah anak kami yang kini menatap wajah ayahnya dengan heran. Aku memeluk anakku lebih erat, lalu mengusap rambutnya agar ia tetap hangat. Suamiku menatapku, matanya memohon pengertian.
Aku mengangguk pelan. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah malam itu, tetapi aku tahu satu hal, pertemuan ini bukan kebetulan biasa. Itu terlalu rapi untuk disebut kebetulan, namun terlalu menyakitkan untuk disebut hadiah. Aku hanya bisa percaya bahwa Tuhan punya cara yang aneh untuk mempertemukan orang yang tercerai.
Ketika kami akhirnya pulang, ibu itu ikut berjalan sampai ujung jalan. Ia tidak banyak bicara, hanya sesekali memandang suamiku seperti takut kehilangan lagi. Suamiku beberapa kali menoleh dan memastikan ibu itu masih ada di belakang kami. Anak kami kembali mengantuk, kepalanya bersandar di bahuku.
Di dekat motor, suamiku berbalik dan berkata pelan, Bu, besok saya jemput. Ibu itu mengangguk cepat, tangisnya turun lagi, dan ia meraih tangan suamiku sebentar. Ia menggenggam tangan itu seolah sedang memegang sesuatu yang baru ditemukan setelah lama hilang. Aku melihat mereka, dan hatiku terasa penuh sekaligus takut.
Kami menyalakan motor dan mulai berjalan perlahan meninggalkan warung ronde. Dari kaca spion, aku masih melihat ibu itu berdiri di bawah hujan, payungnya miring, matanya mengikuti kami sampai jauh. Lampu jalan membuat tubuhnya terlihat kecil, tetapi aku tahu hatinya malam itu sedang sangat besar. Aku mengira kisah ini akan selesai di situ.
Namun ketika motor kami melewati tikungan, suamiku tiba tiba berkata lirih, seperti berbicara pada dirinya sendiri. Aku ingat sekarang. Aku pernah jatuh di depan warung ini waktu kecil, lalu ada orang menggendongku. Aku menoleh cepat, tetapi ia tetap menatap jalan, suaranya bergetar.
Aku bertanya pelan, siapa yang menggendongmu. Suamiku menarik napas panjang, lalu menjawab dengan suara berat, bapak penjual ronde itu. Dadaku terasa seperti dipukul, dan aku spontan menoleh ke belakang. Warung ronde sudah mulai jauh, tapi bayangan bapak tua itu masih terlihat berdiri di pintu, menatap ke arah kami.
Suamiku melanjutkan, dulu dia yang membawa aku pergi malam itu. Dia bilang akan menolong, tapi aku tidak pernah tahu dia menolong siapa. Aku menahan napas, merasa bulu kudukku berdiri. Aku baru sadar sejak awal bapak itu menatap suamiku dengan cara yang aneh, terlalu lama, terlalu tenang, seolah ia sedang menunggu akhir cerita.
Aku menoleh ke kaca spion sekali lagi. Bapak penjual ronde itu masih berdiri, tetapi kini ia mengangkat tangan pelan dan melambaikan salam perpisahan. Di bawah cahaya lampu, senyumnya tipis, nyaris seperti orang yang lega setelah menyelesaikan tugas lama. Dan malam itu, baru kupahami, semangkuk ronde hangat bukan hanya menyelamatkan tubuh dari dingin, tetapi membuka rahasia yang selama ini disimpan rapat oleh seseorang yang pura pura menjadi orang asing.

Komentar